Ungkap Kebebasan Mengkritik, Wakil Bupati Garut Temui Holis seusai Diintimidasi Keluarga Kades
January 06, 2026 07:56 PM

Momen ini dibagikan Wabup Garut lewat Instagram miliknya @putri.karlina14 yang dikutip Selasa (6/1/2026).

Putri Karlina memastikan bahwa masyarakat bebas mengkritik membuat konten.

Ia menegaskan bahwa pemerintah yang harusnya bersikap dewasa dalam menerima masukan.

"Saat ini bersama dengan Holis Muhlisin, pemuda asli Panggalih yang kemarin diperbincangkan oleh banyak pihak, tadi saya sudah ngobrol, saya memastikan bahwa masyarakat bebas mengkritik, boleh membuat konten tidak usah takut yang seharusnya dewasa adalah pemerintahnya," kata Putri.

Menantu KDM ini pun berharap hubungan keduanya bisa terjalin baik-baik saja.

"Inginnya baik-baik saja, tadi saya sudah ngobrol bahwa mengakui adanya keterlambatan pembangunan di garut selatan dan minta sama-sama kita suport yang butuh waktu," terangnya.

Selama tiga tahun, Holis menggantungkan hidup dengan berjualan telur menggunakan sepeda motor.

Setiap hari, ia harus mengangkut 50 kg telur melewati infrastruktur jalan yang memprihatinkan di wilayah selatan Garut.

"Saya bagikan (kondisi jalan) di Facebook karena resah. Saya pernah terjatuh sampai dagangan pecah karena jalan rusak. Tak ada niat menjelekkan pribadi, saya hanya protes terhadap lembaga," ujar Holis saat ditemui di Rumah Dinas Wakil Bupati Garut, Senin (5/1/2026).

Setelah peristiwa intimidasi tersebut mencuat, Holis mengaku merasa lebih tenang.

Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Dedi Mulyadi dan pejabat pemerintah daerah.

"Keluarga sempat takut, tapi setelah dipanggil 'Bapak Aing' (Dedi Mulyadi), istri jadi lebih tenang dan memberi semangat. Besok saya dipanggil lagi oleh Pak Gubernur," ungkapnya.

Holis berharap viralnya itu bisa membawa banyak perubahan bagi kampung halamannya, termasuk perbaikan infrastruktur seperti jalan desa dan jalan kabupaten.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi akhirnya menghubungi Kepala Desa Panggalih, Wahyu alias Ugay usai keluarganya mengintimidasi Holis Muhlisin pedagang telur.

Hal ini dibagikan Dedi Mulyadi lewat Instagram miliknya @dedimulyadi71 yang dikutip Tribun Sumsel, Selasa (6/1/2026).

Dalam momen itu, Dedi Mulyadi menanyakan kepada Kades Panggalih terkait peristiwa yang viral.

"Waduh pak kades, itu kenapa sampai rame-rame begitu, ini ada apa jawa barat ?," tanya Dedi Mulyadi.

Wahyu Kades Panggalih lantas menjelasakan bahwa pihak keluarganya tidak mengetahui masalah awal dari persoalan tersebut, sehingga melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu.

"Di kampung kan nggak tahu soal regulasi tentang pemerintahan desa, jadi intimidasi itu kan keluarga, barangkali nggak tahu persoalan dari awalnya, taunya posting Kades korupsi seperti banyak pokoknya penghinaan itu,” kata Wahyu.

Lebih lanjut, Kades Wahyu lantas meminta maaf dan meminta Dedi maklum perbuatan keluarganya.

"Mohon maklum (tindakan) keluarga, maklum ya pak, maaf pak Gubernur, maklum keluarga merasa tidak enak gitu ya akibat perisiwa itu,” kata Wahyu lagi.

Wahyu mengaku tidak tahu tindakan yang dilakukan keluarganya kepada Holis pedagang telur tersebut.

Wahyu juga mengatakan sudah sering mendapat cacian namun tak pernah berkomentar.

"Kalau saya sih gak tahu menahu, kalau ke saya sih banyak cuma gak pernah komen gitu," katanya.

Mendengar itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lantas menjelaskan kepada Wahyu bahwa seorang pemimpin harus siap dengan segala resiko yang akan ia hadapi, termasuk kritik yang disampaikan okeh masyarakat.

"Memang resiko pemimpin itu bukan hanya dipuji pak, resiko pemimpin itu dicaci maki gitu pak," jelas Dedi Mulyadi.

Menurut Kang Dedi, di era media sosial seperti saat ini tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan terkait kinerja dari pemerintah.

Kendati begitu, Dedi Mulyadi meminta supaya Dana Desa (DD) dan sumber pendapatan desa lainnya disampaikan kepada masyarakat melalui media sosial, termasuk alokasi penggunaannya.

"Sekarang kan eranya sudah media sosial, saya sudah buat edaran jadi bapak mencantumkan rencana dana desa yang bersumber dari dana desa dan sumber lainnya oleh bapak di masuki di media sosial aja pak," kata Kang Dedi.

Kang Dedi pun mengaku tak hanya kades yang menerima kritikan, dirinya sebagai Gubernur juga menerima kritikan dari masyarakat tiap hari.

"Bukan hanya kepala desa, Gubernur aja di caci maki tiap hari jadi harus sabar," terangnya.

"Jadi bapak siap untuk mencantumkan belanja desa di media sosial," tanya KDM.

"Siap pak siap," kata Wahyu.

Diketahui, Wahyu menjabat Kades di desanya sudah 6 tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.