Pemkot Yogya Kebut Pengosongan Sampah Organik di 3 Depo dalam Sepekan
January 06, 2026 08:01 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melakukan akselerasi pembersihan sisa sampah organik yang masih tertahan di sejumlah depo. 

Langkah tersebut menyusul kebijakan tegas pelarangan sampah organik masuk ke depo yang telah diberlakukan sedari 1 Januari 2026 lalu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menandaskan, saat ini masih ada tiga depo yang dalam proses pengosongan dari sisa-sisa sampah lama. 

Tiga depo dikosongkan

Ketiga tempat penampungan sampah sementara tersebut meliputi Depo Pringgokusuman, Depo Ngasem, hingga Depo Bonbin (Kebun Binatang).

"Tiga depo itu masih proses pengosongan. Jadi, memang masih menyisakan sampah-sampah lama di sana. Kami menargetkan dalam satu minggu ini bisa bersih total," katanya, Selasa (6/1/26).

Lebih lanjut, Rajwan mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi sementara, kebijakan larangan sampah organik masuk depo menunjukkan tren positif.

Tidak bawa sampah organik ke depo

Menurutnya, para penggerobak sampah kini mulai tertib untuk tidak lagi membawa sampah organik, baik basah maupun kering, ke depo-depo di wilayahnya.

"Secara umum dalam satu minggu ini sudah berjalan. Penggerobak tidak lagi membawa sampah organik ke depo. Dampaknya sudah terlihat, depo menjadi jauh lebih bersih dan bau menyengat yang biasanya dikeluhkan kini mulai hilang," ujarnya.

Terkait teknis di lapangan, Rajwan menyampaikan, bahwa sampah organik yang dihasilkan oleh warga masyarakat kini langsung dikelola di hulu.

Sampah organik basah

Untuk sampah organik basah, baik sisa makanan matang maupun mentah, dikumpulkan di titik kumpul masing-masing kelurahan menggunakan ember kapasitas 25 kilogram.

"Tiap harinya, sampah organik basah yang terkumpul mencapai sekitar 1.000 ember atau setara 25 ton. Sampah ini langsung diambil oleh offtaker untuk diolah. Skema ini sebenarnya sudah kita jalankan beberapa bulan terakhir," jelasnya.

Sampah organik kering

Sementara itu, untuk sampah organik kering seperti guguran daun, petugas DLH pun turun gunung melakukan penjemputan di 45 titik kelurahan. 

Dari inisiasi tersebut, rata-rata dalam satu hari terdapat 4 ton sampah kering yang diangkut untuk dijadikan bahan baku pupuk organik.

"Dengan skema ini, setidaknya 29 ton sampah organik per hari kini berhasil dicegah masuk ke depo, sehingga kapasitas depo bisa dimaksimalkan hanya untuk residu," terang Rajwan. 

"Kebijakan pemerintah kota untuk pengrobak tidak membawa lagi sampah organik ke depo ini merupakan implementasi dari lima langkah 'Mas JOS'," pungkasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.