Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mengapresiasi gerak cepat Polres Pasaman dan Polda Sumbar dalam pengungkapan kasus penganiayaan tersebut.
Kemudian indikasi penyebab kemunculan sinkhole atau runtuhan tanah di Kabupaten Limapuluh Kota diduga terbentuk akibat amblasan atap sungai bawah tanah, karena batu kapur memiliki saluran-saluran di bawah tanah.
Baca juga: Cuaca 7 Kota di Sumbar Rabu 7 Januari 2026: Enam Wilayah Hujan Ringan, Padang Berawan
Selanjutnya BNN Sumatera Barat memusnahkan narkotika jenis ganja kering seberat 99,5 kilogram yang sebelumnya berhasil diamankan dari jaringan peredaran gelap lintas provinsi asal Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Pascabencana dan masa tanggap darurat berakhir, Pemkab Agam fokus memastikan pengungsi bisa pindah ke hunian sementara (huntara).
1. Pelaku Penganiayaan Nenek Saudah di Pasaman Ditangkap, Wagub Sumbar Minta Hukuman Berat
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mengapresiasi gerak cepat Polres Pasaman dan Polda Sumbar dalam mengungkap serta menangkap pelaku penganiayaan terhadap seorang nenek bernama Saudah (68).
Penangkapan tersebut dinilai menjawab tuntutan publik atas kejelasan penanganan kasus yang sempat memicu kemarahan masyarakat.
Apresiasi itu disampaikan Vasko dalam percakapan via telepon seluler (ponsel) dengan Kapolres Pasaman, AKBP Muhammad Agus Hidayat, pada Selasa (6/1/2026) siang.
Baca juga: Gubernur Mahyeldi Apresiasi Komitmen Forkopimda dalam Percepatan Penyusunan R3P Pascabencana Sumbar
Dalam komunikasi tersebut, Wagub menanyakan perkembangan penanganan kasus sekaligus memastikan keberlanjutan proses hukum terhadap pelaku.
“Tadi saya dapat informasi dari Bapak Kapolda katanya udah ketangkap yah, Alhamdulillah sudah ditangkap pelaku penganiayaan Nenek Saudah, terima kasih banyak Pak Kapolres yah,” kata Vasko.
“Siap Pak Wagub, terima kasih atas support dan bantuannya,” sahut Kapolres.
Pada momen yang sama, Wagub menekankan pentingnya perlindungan bagi korban, terutama setelah insiden yang mencederai rasa kemanusiaan itu.
Minta Kapolres Libatkan LPSK
Pada kesempatan itu, Wagub Vasko juga meminta Kapolres Pasaman untuk melibatkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) agar Nenek Saudah tidak mengalami intimidasi atau hal-hal yang tidak diinginkan pasca penyerangan.
“Ini poin yang paling penting buat saya yah Pak Kapolres, saya tak mau bicara di konteks yang lain, tapi bicara di kemanusiaannya ini. Ini kan kurang ajar sekali, di saat ada nenek-nenek tua yang dipukul sampai mukanya hancur seperti ini, bagi saya ini sudah kelewatan batas gitu. Kalau perlu dilibatkan LPSK pak, biar tak terjadi hal-hal tak diinginkan lagi begitu Pak,” katanya.
Wagub Vasko menegaskan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) tidak mentolerir tindakan kekerasan serupa di wilayahnya.
Baca juga: Cuaca Masih Sulit Diprediksi, Gubernur Mahyeldi Imbau Masyarakat Tetap Waspada Potensi Bencana
Ia meminta aparat memberikan efek jera maksimal bagi pelaku, sekaligus menjadi peringatan agar kasus serupa tidak terulang.
“Orang tua, apalagi perempuan itu paling kita hormati, minta tolong yah Pak. Kita beri efek jera dan hukuman berat kepada pelaku berinisial IS (26) tersebut. Terima kasih banyak buat jajarannya Pak Kapolres, luar biasa Polres Pasaman,” katanya.
Kapolres Pasaman, AKBP Muhammad Agus Hidayat, menjelaskan bahwa penyidik mengarah pada pria berinisial IS, yang juga dikenal dengan sebutan MK.
Ia ditangkap pada Selasa (6/1/2026) pagi setelah penyidik menemukan bukti yang cukup untuk menetapkannya sebagai terduga pelaku.
“Terduga pelaku tercatat sebagai mahasiswa dan berdomisili di Jorong VI Lubuk Aro, Nagari Padang Mantinggi Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman. Dari hasil pemeriksaan awal, penyidik menyimpulkan bahwa pelaku bertindak seorang diri tanpa ada pihak lain yang terlibat,” ujar Agus dalam keterangannya.
2. Penyebab Sinkhole di Limapuluh Kota, Dian Hadiyansyah: Indikasi Amblasan Atap Sungai Bawah Tanah
Fenomena lubang tanah misterius yang diduga sinkhole atau runtuhan tanah muncul secara tiba-tiba di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuh Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar).
Fungsional Penyelidik Bumi Ahli Muda Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, Dian Hadiyansyah, menduga kemunculan lubang tersebut disebabkan oleh amblasnya atap sungai bawah tanah.
Menurut Dian, lokasi kejadian berada di kawasan batu gamping atau batu kapur yang memiliki banyak saluran air di bawah permukaan tanah.
Baca juga: Cuaca Masih Sulit Diprediksi, Gubernur Mahyeldi Imbau Masyarakat Tetap Waspada Potensi Bencana
“Jorong Tepi ini memang berada di sekitar kelompok batu gamping. Ada indikasi lubang ini terbentuk akibat amblasan atap sungai bawah tanah, karena batu kapur memiliki saluran-saluran di bawah tanah,” kata Dian Hadiyansyah kepada TribunPadang.com, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, proses pelarutan batu kapur dapat menyebabkan atap sungai bawah tanah terus tergerus hingga akhirnya runtuh.
“Jika atapnya terus tergerus, akan terjadi pelarutan yang menyebabkan tanah di atasnya amblas. Apalagi kawasan ini merupakan daerah basah yang dimanfaatkan warga untuk bertani,” jelasnya.
Meski demikian, Dian mengaku belum dapat memastikan lubang tersebut merupakan fenomena sinkhole.
Ia menegaskan masih diperlukan kajian lebih lanjut di lapangan.
“Karena ini fenomena geologi, perlu pemeriksaan lebih lanjut dengan pengecekan langsung di lapangan,” ujarnya.
Dian menambahkan, apabila hasil kajian nantinya memastikan lubang tersebut merupakan sinkhole, maka pemetaan aliran sungai bawah tanah menjadi hal penting untuk mengantisipasi risiko yang tidak diinginkan.
“Perlu ditelusuri ke mana arah aliran sungai bawah tanahnya. Dikhawatirkan mengarah ke permukiman. Untuk jangka panjang, perlu pemetaan dan perlu pelibatan pihak-pihak terkait,” katanya.
Baca juga: Truk Gagal Menanjak, Lalu Lintas di Sitinjau Lauik Kota Padang Macet Parah
Ia juga mengingatkan bahwa lubang tersebut berpotensi membesar jika tidak segera ditangani.
“Kami khawatir karena lubang ini sudah terbuka. Jika terus tergerus air, ukurannya bisa bertambah lebar. Karena itu dibutuhkan penanganan cepat dari pemerintah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutup Dian.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota, Rahmadinol, membenarkan adanya fenomena lubang tanah tersebut.
Ia menyebutkan, lubang itu muncul di area persawahan milik warga bernama Adrolmios (61) pada Minggu (4/1/2025).
“Berdasarkan hasil kajian bersama Badan Geologi, disepakati bahwa kejadian ini merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan kondisi geologi daerah Patahan Semangka. Kabupaten Limapuluh Kota memang berada di kawasan patahan tersebut,” ujar Rahmadinol kepada TribunPadang.com, Senin (5/1/2026).
Rahmadinol mengungkapkan, sebelum lubang terbentuk, warga sempat mendengar suara gemuruh dari dalam tanah.
Baca juga: Sinkhole Muncul di Sawah Limapuluh Kota, Warga Sempat Dengar Suara Gemuruh
“Di bawah tanah terdapat kekosongan. Saat terjadi runtuhan, terdengar suara gemuruh,” jelasnya.
Saat ini, lubang tersebut memiliki kedalaman sekitar enam hingga tujuh meter dengan lebar mencapai 10 meter. Lubang itu juga mengeluarkan air dengan debit cukup besar.
“Air yang keluar merupakan aliran air tanah. Seharusnya lubang ini kering, namun karena terhubung dengan aliran bawah tanah, air terus keluar,” ungkapnya.
Baca juga: Polisi Buru Pemilik Dua Janin di Kuranji Padang, Kapolsek: Masih Didalami
Ia mengingatkan, lubang tersebut berpotensi semakin membesar seiring tingginya debit air yang dapat memicu longsoran tanah di sekitarnya.
“Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan lubang ini akan terus meluas karena potensi longsoran masih ada,” katanya.
Untuk itu, BPBD Limapuluh Kota bersama Badan Geologi akan melakukan kajian lanjutan guna mengantisipasi risiko yang lebih besar.
“Kejadian ini akan kami kaji lebih lanjut agar dapat mengantisipasi dampak yang tidak diinginkan,” tutup Rahmadinol.
3. BNN Sumbar Musnahkan 99,5 Kilo Ganja Asal Mandailing Natal, Kurir hingga Pengendali Dibekuk
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat memusnahkan narkotika jenis ganja kering seberat 99,5 kilogram yang sebelumnya berhasil diamankan dari jaringan peredaran gelap lintas provinsi asal Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Ganja tersebut merupakan barang bukti hasil pengungkapan kasus yang terjadi di Jalan Lintas Bukittinggi–Medan, tepatnya di Jorong Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, pada Rabu (17/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB.
Kepala BNNP Sumatera Barat, Brigjen Pol Ricky Yanuarfi menjelaskan, awalnya petugas menerima laporan masyarakat terkait rencana pengiriman narkotika jenis ganja dari Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, menuju wilayah Bukittinggi dan sekitarnya.
Baca juga: Pasca Banjir, Sungai Pasar Lalang Kota Padang Masih Dangkal Meski Tanggul Sementara Dibuat
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim BNNP Sumbar melakukan penyelidikan dan menghentikan satu unit mobil Toyota Hiace warna silver bernomor polisi BA 7019 MA.
“Dari kendaraan tersebut, petugas mengamankan dua orang tersangka berinisial Andrey dan Andi yang berperan sebagai kurir,” terangnya, Selasa (6/1/2026).
Saat dilakukan penggeledahan dengan disaksikan perangkat nagari dan saksi masyarakat, petugas menemukan empat karung besar berisi 100 paket ganja kering yang dibungkus plastik dan lakban cokelat dengan total berat awal sekitar 100 kilogram.
Dari hasil pemeriksaan, kedua kurir mengaku diperintahkan oleh seorang pria bernama Solihin untuk menjemput ganja tersebut dari Panyabungan dan mengantarkannya ke rumah Solihin di wilayah Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.
Tim BNNP Sumbar kemudian melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan Solihin di kediamannya di Kampung Ladang Hutan, Kenagarian Koto Tinggi.
“Solihin berperan sebagai pengendali sekaligus pemilik barang. Ia mengatur penjemputan dan pendistribusian ganja ke sejumlah daerah di Sumatera Barat,” katanya.
Baca juga: Lumpuhnya Sendi Kehidupan di Lambuang Bukik, Kota Padang: Sawah Berubah Jadi Hamparan Batu
Berdasarkan pengakuan tersangka, ganja tersebut rencananya akan didistribusikan ke sejumlah kota, di antaranya Bukittinggi, Padang, Pariaman, Batusangkar, dan Padang Panjang.
Para kurir mengaku menerima upah sebesar Rp10 juta di luar biaya operasional untuk mengantarkan 100 paket ganja tersebut.
Kendaraan yang digunakan diketahui merupakan mobil sewaan dan akan dibayar setelah barang tiba di rumah Solihin.
Dari total 100 kilogram ganja yang diamankan, sekitar 99,5 kilogram dimusnahkan, sementara sisanya disisihkan untuk keperluan pembuktian di persidangan dan pemeriksaan laboratorium.
Ricky juga mengungkapkan bahwa para pelaku bukan pemain baru dan telah beberapa kali melakukan aksi serupa dengan rute yang sama dari Mandailing Natal ke Sumatera Barat.
Dalam kesempatan tersebut, BNNP Sumbar mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen penyalahguna narkotika di Sumatera Barat merupakan pengguna ganja, disusul sabu sekitar 30 persen, dan jenis narkotika lainnya sebesar 20 persen.
"Faktor harga yang relatif murah dan kemudahan akses membuat ganja kerap menjadi narkotika awal bagi pengguna pemula," katanya.
Baca juga: Penyebab Sinkhole di Limapuluh Kota, Dian Hadiyansyah: Indikasi Amblasan Atap Sungai Bawah Tanah
Ricky mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan anggota keluarga atau lingkungan sekitar yang masih dalam kategori pengguna atau penyalahguna narkotika.
“Sesuai kebijakan Kepala BNN dan didukung Kejaksaan Agung, pengguna narkotika diarahkan untuk menjalani rehabilitasi. Layanan ini gratis melalui BNN atau Institusi Penerima Wajib Lapor,” ujarnya.
Para tersangka beserta seluruh barang bukti kini diamankan di Kantor BNNP Sumatera Barat untuk menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
BNNP Sumbar menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan Polri, termasuk penguatan pengawasan di wilayah perbatasan dengan penempatan anjing pelacak K-9, guna menekan peredaran narkotika di Ranah Minang.
4. Pemkab Agam Masuki Masa Pemulihan Pasca Banjir Bandang dan Longsor, Fokus pada Lima Aspek
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam resmi memasuki masa pemulihan pascabencana, usai perpanjangan status tanggap darurat berakhir Senin (5/1/2026).
Masa pemulihan mulai dihitung sejak Selasa (6/1/2026).
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Agam pada akhir November 2025 lalu menyebabkan banyak korban, rumah, jalan, dan fasilitas umum rusak.
Status tanggap darurat tahap awal diberlakukan hingga 22 Desember 2025 dan diperpanjang hingga 5 Januari 2026.
Baca juga: Perlintasan Kereta Tabing–Duku Diperbaiki, KAI Minta Maaf dan Imbau Pengguna Jalan Waspada
Kalaksa BPBD Agam, Rahmad Lasmono, mengatakan pihaknya akan fokus pada lima aspek pemulihan, salah satunya memastikan pengungsi bisa pindah ke hunian sementara (huntara).
“Targetnya sebelum Ramadhan, pengungsi sudah pindah ke huntara,” ujar Rahmad Lasmono saat dikonfirmasi TribunPadang.com , Selasa (6/1/2026).
Selain itu, BPBD juga akan membersihkan material di jalan dan rumah warga terdampak, menyiapkan jembatan darurat, memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, serta melakukan pendataan ulang rumah terdampak.
“Total, terdapat lima aspek yang menjadi fokus Pemkab Agam pada masa pemulihan pasca bencana ini,” tambahnya.
Baca juga: Mayoritas Penyalahguna di Sumbar Pengguna Ganja, BNNP Dorong Wajib Lapor dan Rehabilitasi
Status Tanggap Darurat Bencana di Agam Berakhir
Pemerintah Kabupaten Agam resmi mencabut status tanggap darurat bencana dan mulai memasuki masa transisi menuju pemulihan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Agam, Rahmad Lasmono, mengatakan masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Agam telah berakhir setelah dilakukan evaluasi.
Keputusan tersebut ditetapkan dalam rapat evaluasi kajian perpanjangan masa tanggap darurat I yang digelar di Aula Utama Kantor Bupati Agam, Padang Baru, Lubuk Basung, Senin (5/1/2026).
Rahmad menyebutkan, mulai Selasa (6/1/2026), Pemerintah Kabupaten Agam secara resmi memasuki masa transisi darurat ke pemulihan pascabencana.
"Besok kita sudah masuk masa transisi dari darurat ke pemulihan," ujar Rahmad saat dikonfirmasi TribunPadang.com.
Baca juga: BNN Sumbar Musnahkan 99,5 Kilo Ganja Asal Mandailing Natal, Kurir hingga Pengendali Dibekuk
Pada masa transisi pemulihan tersebut, Pemkab Agam akan memfokuskan penanganan pada sejumlah aspek utama.
Di antaranya pemindahan pengungsi ke hunian sementara (huntara), pembersihan material bencana di jalan dan rumah warga, penyiapan jembatan darurat, pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan bagi korban terdampak, serta pendataan rumah warga yang rusak.
"Fokus kita ke lima hal itu selama masa transisi pemulihan," jelasnya.
Terkait pemindahan pengungsi ke huntara, Rahmad menargetkan proses tersebut rampung sebelum bulan Ramadan mendatang.
"Targetnya sebelum Ramadan pengungsi sudah pindah ke huntara. Saat ini pembangunannya masih kita kebut," sebutnya.
Baca juga: Pemkab Agam Masuki Masa Pemulihan Pasca Banjir Bandang dan Longsor, Fokus pada Lima Aspek
Di sisi lain, Rahmad mengungkapkan hingga kini masih terdapat 37 warga Kabupaten Agam yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan. Sementara jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tersebut tercatat sebanyak 165 orang.
Namun demikian, upaya pencarian terhadap korban hilang telah dihentikan sejak 23 Desember 2025 lalu.
"Untuk pencarian korban hilang, sudah kita hentikan sejak 23 Desember 2025," pungkasnya.(*)