Apakah Olahraga Padel Bagus buat Penderita Parkinson? Inilah Manfaatnya
Mia Della Vita January 07, 2026 09:34 AM

Grid.ID- Olahraga padel kini mulai dilirik sebagai aktivitas fisik yang dinilai bermanfaat bagi penderita penyakit Parkinson. Di tengah keterbatasan fisik yang kerap dialami pasien, aktivitas olahraga yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup.

Sejumlah organisasi kesehatan dan komunitas Parkinson di Eropa aktif mempromosikan padel sebagai pilihan olahraga yang aman dan menyenangkan. Aktivitas ini tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mendorong interaksi sosial dan kesehatan mental.

Fenomena tersebut semakin mendapat perhatian setelah berbagai komunitas menggelar program khusus bagi penderita Parkinson. Lantas, seberapa efektif padel dalam membantu mengelola gejala penyakit Parkinson?

Padel Dinilai Ideal untuk Penderita Parkinson

Organisasi amal asal Inggris, Parkinson’s Guernsey, menjadi salah satu pihak yang aktif memanfaatkan padel sebagai sarana pendukung terapi bagi penderita Parkinson. Asosiasi ini secara rutin menggelar kelas padel yang dipandu oleh instruktur bersertifikat, bersama olahraga lain seperti tenis, sepak bola, dan pickleball.

Upaya tersebut dipertegas melalui kegiatan hari kesadaran Parkinson yang terbuka untuk masyarakat umum dan digelar di Worcester, Inggris. Dikutip dari Padel Magazine, dalam acara tersebut, Parkinson’s Guernsey menyoroti pentingnya aktivitas fisik dalam membantu mengelola gejala Parkinson melalui berbagai demonstrasi interaktif. Mulai dari penggunaan virtual reality bagi penderita Parkinson, sesi edukasi tentang olahraga sebagai terapi, hingga kelas spinning khusus untuk meredakan gejala.

Relawan Parkinson’s Guernsey menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi, dukungan, serta menumbuhkan optimisme bahwa penderita Parkinson tetap dapat menjalani hidup yang bermakna. Padel dipilih karena mampu menghadirkan latihan fisik yang menyeluruh sekaligus mendorong keterlibatan sosial.

Secara karakteristik, padel merupakan olahraga raket yang mirip tenis, namun dimainkan di lapangan yang lebih kecil dengan dinding yang memungkinkan bola memantul. Sistem ini membuat reli permainan menjadi lebih panjang dan dinilai lebih ramah bagi penderita Parkinson karena tidak membutuhkan kekuatan fisik sebesar tenis atau squash.

Keunggulan inilah yang membuat padel dianggap ideal sebagai olahraga bagi penderita gangguan keseimbangan dan koordinasi. Permainan ganda yang lazim dimainkan juga mengurangi tekanan fisik berlebihan, sekaligus memperkuat aspek sosial antar pemain.

Kisah Morten Gunvad dan Dampak Padel pada Gejala Parkinson

Popularitas padel di kalangan penderita Parkinson juga terlihat di Denmark. Di Kopenhagen, olahraga ini berkembang pesat dalam komunitas Parkinson setempat. Salah satu tokohnya adalah Morten Gunvad, yang didiagnosis Parkinson pada 2012 dan mulai bermain padel sekitar enam tahun lalu.

Morten bahkan menjadi penggagas Unofficial Parkinson Padel World Championship 2024 yang digelar di Kopenhagen pada Mei lalu. Dikutip dari parkinsonseurope.org, Selasa (6/1/2026), ia menyebut padel sebagai olahraga yang langsung membuatnya jatuh cinta karena ritmenya yang dinamis namun tetap dapat diikuti.

Kini, Morten rutin bermain padel dua kali seminggu dalam sesi ganda berdurasi dua jam bersama penderita Parkinson lainnya. Menurutnya, setelah bermain padel, tubuh terasa lelah dan otot terasa nyeri, namun diiringi suasana hati yang jauh lebih baik.

Morten mengaku padel memberikan dampak signifikan terhadap gejala Parkinson yang dialaminya, terutama pada keseimbangan dan kemampuan berjalan. Gerakan cepat, perubahan arah, serta kebutuhan untuk bergerak mundur saat bola dilambungkan menjadi tantangan yang secara bertahap melatih koordinasi tubuh.

Pada awal bermain padel, ia mengaku sering terjatuh. Namun seiring waktu, keseimbangan dan kontrol tubuhnya membaik hingga risiko jatuh berkurang drastis. Selain manfaat fisik, padel juga memberikan stimulasi kognitif karena pemain harus terus berpikir, menyusun strategi, dan bereaksi cepat terhadap pergerakan lawan.

Permainan yang cepat dan penuh strategi membuat otak tetap aktif. Menurut Morten, hal ini membantu menjaga fokus dan mencegah rasa lesu yang kerap dialami penderita Parkinson.

Antusiasme terhadap padel di kalangan penderita Parkinson terus meningkat. Di Kopenhagen, komunitas Parkinson bahkan membentuk klub khusus dan menyediakan dua hari dalam sepekan untuk bermain padel. Jumlah peserta yang tertarik pun bertambah setiap minggu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa padel bukan sekadar olahraga rekreasi, melainkan dapat menjadi bagian dari pendekatan non-medis dalam mengelola Parkinson. Dengan kombinasi aktivitas fisik, tantangan kognitif, dan interaksi sosial, padel dinilai mampu membantu penderita Parkinson menjalani hidup yang lebih aktif dan berkualitas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.