PIBBI & ACICIS Ajak 22 Mahasiswa Asing ke Glawan Semarang Kenalkan Tradisi Manten dan Aksara Jawa
January 07, 2026 10:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -Untuk kali pertama, Program Intensif Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) bersama Australian Consortium for in Country Indonesian Studies (ACICIS) mengajak 22 mahasiswa asing mengenal secara langsung tradisi Sungkeman, Manten dan aksara jawa di Dusun Krajan, Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, belum lama ini. 

Menggandeng Dekan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Komunikasi (FISKOM) Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., sebagai narasumber sekaligus praktisi adat Manten, kegiatan berupa seminar ini menjadi salah satu komponen penting pembelajaran bahasa dalam program Indonesian Language Short Course. 

Dalam seminar tersebut, para peserta tak hanya diajarkan materi semata, namun juga mempraktekkan secara langsung bagaimana menulis aksara Hanacaraka atau Carakan serta mengikuti simulasi upacara Manten lengkap mengenakan busana Beskap dan Kebaya.

Exposure Culture

Kepala sub bagian Language Training Center (LTC) UKSW R.P.N Dian Widi Sasanti, S.Pd., menerangkan bahwa seminar ini diadakan untuk kali pertama sebagai bagian dari exposure culture yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

"Biasanya dalam seminar terkait paparan budaya (exposure culture) diadakan di LTC dan kita mengundang narasumber, tapi untuk tahun ini kami ingin sedikit berbeda. Kami membawa mereka langsung terjun di lapangan. Belajar tentang beberapa kebiasaan dan menulis bahasa jawa, karena mempelajari bahasa tidak lepas dari memahami budaya daerah itu," ungkapnya.  

Selepas sesi materi, tak lupa peserta diajak menikmati keindahan suasana pedesaan dengan berjalan kaki mengunjungi area persawahan dan mata air desa. Diadakannya kegiatan ini tentu memberikan warna tersendiri, terutama bagi Yuki Oda, mahasiswa asal Tokyo, Jepang yang menempuh studi di The University of Melbourne, Australia. 

“Kesan saya tentu sangat indah sekali. Padi di sini sangat tertata. Saya dari Tokyo dan di sana juga ada padi. Hanya saja yang membedakan di sana tidak ada sistem terasering," ujarnya. 

Selain Yuki, antusiasme tampak dari keceriaan dan ragam pertanyaan yang bergulir, menunjukkan keterampilan mahasiswa dalam menyimak, menangkap informasi, serta berkomunikasi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik. 

“Harapan saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia lebih cepat dan baik, serta memiliki banyak teman lokal," ungkap Kay Lewins, peserta asal University of New England, Australia. 

20250107_uksw000998686655
Peserta PIBBI & ACICIS melaksanakan praktik menulis aksara jawa dalam sesi seminar, belum lama ini, di Dusun Glawan, Kecamatan Pabelan, kabupaten Semarang.

Program Super Prioritas, Capai Internasionalisasi 

Adapun seminar bertajuk Culture Sharing menjadi kegiatan lanjutan, di mana para peserta akan membagikan pengetahuan budaya dan tradisi dari masing-masing daerah. 

Penyelenggaraan kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata program super prioritas universitas yakni mencapai internasionalisasi, mendukung UKSW menjadi world class university melalui kehadiran mahasiswa asing. 

Melalui kegiatan ini pula, UKSW menunjukkan dukungan nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke 4 yaitu pendidikan berkualitas dan SDGs ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, penyelenggaraan acara ini sekaligus mendukung Asta Cita Presiden, 4 mengedepankan pengembangan sumber daya manusia.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 32 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai "Creative Minority" yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.(***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.