TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Abrasi pantai parah mengancam permukiman warga di Dusun Mes Pambuttungan, Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mateng telah melakukan asesmen di lokasi terdampak.
Staf Pusdatin BPBD Mateng, Rezky Ilhamsyah, mengatakan abrasi dipicu cuaca ekstrem yang berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026.
Baca juga: Kisah Warga Mamuju Tengah Jumail dan Keluarga: Rumah dan Penghidupan Terancam oleh Abrasi Pantai
Kondisi gelombang laut dalam beberapa bulan terakhir tercatat sangat kuat dan ekstrem.
“Gelombang tinggi menyebabkan penggerusan garis pantai yang cukup signifikan dan kini mengancam permukiman warga,” ujar Rezky saat ditemui di Kantor BPBD Mateng, Jalan Trans Sulawesi, Desa Tobadak, Rabu (7/1/2026).
Berdasarkan hasil asesmen, abrasi telah mengakibatkan satu unit toilet milik warga rusak ringan.
Selain itu, satu unit rumah terancam amblas akibat tergerusnya bibir pantai.
Tak hanya kerusakan fisik, dampak abrasi juga dirasakan langsung oleh warga.
Tercatat tiga kepala keluarga (KK) atau sekitar sembilan jiwa terdampak dan berada dalam kondisi rawan.
“Hasil asesmen ini sudah kami laporkan kepada unsur pimpinan daerah untuk segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
BPBD Kabupaten Mamuju Tengah merekomendasikan dua opsi penanganan berdasarkan temuan di lapangan, yakni:
Pembangunan tanggul darurat sepanjang kurang lebih 400 meter untuk menahan laju abrasi.
Relokasi permukiman warga yang berada di zona rawan sebagai solusi jangka panjang.
Rekomendasi tersebut disampaikan sebagai bahan pertimbangan pimpinan daerah untuk menentukan langkah strategis demi keselamatan warga.
BPBD Mateng menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna meminimalkan dampak abrasi dan mencari solusi terbaik bagi warga terdampak. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Sandi Anugrah