TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Otoritas pelabuhan memastikan operasional Pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, ditutup sementara pascarubuhnya trestel dermaga.
Penutupan dilakukan demi keselamatan dan menunggu evaluasi teknis dari pemerintah pusat.
Kepala KSOP Kelas II Tanjung Buton, Capt Pujo Kurnianto, menjelaskan, trestel roboh secara tiba-tiba sekitar pukul 15.45 WIB.
Peristiwa itu terjadi saat aktivitas pelabuhan sedang berlangsung dan langsung ditetapkan sebagai kondisi darurat.
“Dalam kondisi musibah seperti ini, langkah pertama yang kami lakukan adalah pengamanan area. Kami sudah memasang pembatas dan menentukan zona yang boleh dan tidak boleh dimasuki demi keselamatan bersama,” ujar Pujo, Rabu (7/1/2026).
Pujo menyebutkan, KSOP Kelas II Tanjung Buton telah melaporkan kejadian tersebut kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Dari laporan itu, Dirjen Perhubungan Laut memastikan anggaran perbaikan trestel akan dialokasikan pada 2026 ini, termasuk kegiatan konsultan Detail Engineering Design (DED).
Baca juga: Afni Sedih Dermaga Pelabuhan Tanjung Buton Siak Rubuh, Upaya Pengelolaan Lewat BUMD Terancam
Baca juga: Trestel Pelabuhan Tanjung Buton Roboh Usai MV Cosmic Tiger Bongkar Muat
“DED akan dilaksanakan secepatnya, dan pembangunan atau perbaikannya juga akan dilakukan sesegera mungkin agar kegiatan pelabuhan bisa kembali berjalan dengan aman dan lancar,” kata Pujo.
Ia menambahkan, KSOP juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Siak.
Bupati dan Wakil Bupati Siak bahkan telah meninjau langsung kondisi pelabuhan, mengingat insiden ini berdampak langsung terhadap hampir 100 tenaga kerja, termasuk buruh bongkar muat, sopir truk, hingga pekerja pendukung lainnya.
“Para pekerja bertanya-tanya, apakah masih bisa bekerja atau tidak. Ini menjadi perhatian serius kami karena banyak masyarakat Sungai Apit yang menggantungkan hidup di pelabuhan ini,” ujarnya.
Untuk sementara, seluruh kegiatan operasional pelabuhan dihentikan total. KSOP juga mengeluarkan pengumuman kepada agen dan perusahaan pelayaran bahwa kapal yang telah terjadwal sandar di Tanjung Buton tidak dapat dilayani hingga ada hasil evaluasi teknis dari kantor pusat.
“Kami minta kapal-kapal bisa dialihkan ke pelabuhan terdekat di Provinsi Riau, seperti Pelabuhan Dumai atau pelabuhan lain yang memungkinkan,” ujar Pujo.
Ia mengungkapkan, tim teknis dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut bersama konsultan direncanakan turun langsung ke lapangan paling lambat Kamis untuk menilai kondisi kerusakan dan menentukan langkah mitigasi lanjutan.
Apabila pelabuhan kembali dinyatakan aman untuk beroperasi terbatas, kegiatan bongkar muat nantinya tidak lagi menggunakan truk langsung ke dermaga, mengingat trestel telah putus. Alternatif yang disiapkan adalah penggunaan konveyor.
“Silakan pelaku usaha, asosiasi, dan keagenan berkomunikasi dengan pemilik konveyor. Pemerintah tidak mencampuri urusan bisnis, termasuk soal tarif,” kata Pujo.
Perwakilan asosiasi bongkar muat (APBMI) menegaskan kesiapan untuk berkoordinasi lintas asosiasi, termasuk INSA dan ALFI/ILFA, guna menyusun mekanisme penggunaan konveyor agar distribusi logistik tetap berjalan.
“Di pelabuhan ini, ada puluhan buruh yang bekerja setiap hari, belum termasuk sopir dan tenaga kebersihan. Kami berharap perbaikan bisa dilakukan secepatnya karena ini menyangkut hajat hidup banyak orang,” ujar perwakilan APBMI.
KSOP meminta seluruh pemangku kepentingan menyebarluaskan informasi penutupan sementara pelabuhan agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Operasional baru akan dibuka kembali setelah ada keputusan resmi dari pemerintah pusat berdasarkan hasil evaluasi teknis.
(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)