TRIBUNKALTIM.CO - Tingkat pengangguran terbuka atau TPT menjadi salah satu indikator utama untuk membaca kondisi pasar kerja di suatu wilayah.
Angka pengangguran ini kerap dijadikan rujukan untuk menilai apakah pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja yang memadai bagi penduduk usia produktif.
Di Kalimantan Timur (Kaltim), provinsi yang dikenal kaya sumber daya alam dan menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), persoalan pengangguran masih menjadi tantangan yang nyata.
Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebagai persentase penduduk yang tidak bekerja tetapi aktif mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dari total angkatan kerja.
Dengan kata lain, pengangguran bukan sekadar orang yang tidak bekerja, melainkan mereka yang sebenarnya siap dan ingin bekerja, tetapi belum terserap oleh pasar kerja.
Baca juga: 10 Provinsi dengan Jumlah PHK Paling Banyak di Indonesia, Ada Kaltim!
Secara nasional, BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang.
Angka ini mengalami penurunan tipis sekitar 4.092 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi hampir di seluruh kelompok, baik laki-laki maupun perempuan, serta di wilayah perkotaan dan perdesaan.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, ketimpangan antara wilayah masih terlihat jelas.
Tingkat pengangguran di perkotaan mencapai 5,75 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan sebesar 3,47 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan persaingan kerja di kota masih menjadi faktor utama tingginya pengangguran.
Dari sisi gender, perbedaannya relatif tipis. TPT laki-laki tercatat 4,85 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan sebesar 4,84 persen.
Meski selisihnya kecil, data ini menunjukkan bahwa tantangan mendapatkan pekerjaan masih dialami secara merata oleh kedua kelompok.
Kelompok usia muda menjadi sorotan utama. Penduduk usia 15–24 tahun mencatat TPT tertinggi sebesar 16,89 persen, jauh di atas kelompok usia lainnya.
Sebaliknya, kelompok usia 60 tahun ke atas hanya mencatat TPT 1,71 persen, karena sebagian besar sudah keluar dari pasar kerja atau bekerja secara informal.
Dari sisi pendidikan, pengangguran paling banyak berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan TPT 8,63 persen, disusul lulusan SMA 6,88 persen, dan perguruan tinggi 5,39 persen.
Sementara itu, lulusan SD ke bawah justru mencatat TPT terendah sebesar 2,30 persen, menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum tentu menjamin kemudahan akses kerja.
Posisi Kalimantan Timur dalam Peta Nasional
Dalam peta nasional, Kalimantan Timur berada di posisi tengah, dengan TPT sebesar 5,18 persen pada Agustus 2025. Angka ini naik tipis 0,04 persen poin dibanding Agustus 2024 yang berada di angka 5,14 persen.
Meski kenaikannya kecil, posisi Kaltim berada di atas rata-rata nasional yang sebesar 4,85 persen.
Ini menunjukkan bahwa tantangan penyerapan tenaga kerja di provinsi ini masih cukup besar, meskipun Kaltim dikenal sebagai daerah dengan sektor pertambangan, industri, dan perdagangan yang kuat.
Dari total 2,07 juta angkatan kerja di Kaltim, sebanyak 107.674 orang tercatat sebagai pengangguran, sementara sekitar 1,97 juta orang bekerja.
Namun, tidak seluruhnya bekerja penuh waktu, karena sebagian masih berada dalam kategori setengah menganggur atau bekerja dengan jam kerja terbatas.
Sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Kaltim adalah perdagangan besar dan eceran serta reparasi kendaraan, yang menyerap sekitar 19,05 persen tenaga kerja.
Sebaliknya, sektor pengadaan listrik, gas, uap, serta pengelolaan air dan limbah menjadi sektor dengan kontribusi tenaga kerja terendah, hanya 0,59 persen.
Jika dilihat lebih rinci per kabupaten dan kota, tingkat pengangguran di Kaltim menunjukkan variasi yang cukup lebar. Dari sepuluh kabupaten/kota, terdapat lima daerah yang mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi.
1 . Kota Bontang
Kota Bontang menempati posisi teratas dengan TPT 6,36 persen.
Sebagai kota industri yang bergantung pada sektor kimia dan gas, Bontang menghadapi tantangan serius akibat efisiensi tenaga kerja dan digitalisasi industri.
Meski angka ini turun dari 7,06 persen pada 2024, pengangguran masih menjadi persoalan utama di kota ini.
2. Kabupaten Kutai Timur
Di posisi kedua, Kabupaten Kutai Timur mencatat TPT 6,20 persen.
Ironisnya, meskipun memiliki sektor pertambangan dan perkebunan yang kuat, angka pengangguran di Kutai Timur justru meningkat dari 5,76 persen pada tahun sebelumnya.
Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor ekstraktif belum sepenuhnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal.
3. Kota Balikpapan
Kota Balikpapan berada di urutan ketiga dengan TPT 5,84 persen.
Sebagai pusat bisnis dan pintu gerbang utama Kaltim, Balikpapan masih menghadapi fluktuasi di sektor jasa dan konstruksi. Dibandingkan 2024 yang mencapai 6,22 persen, memang terjadi penurunan, tetapi belum cukup signifikan.
4. Kota Samarinda
Selanjutnya, Kota Samarinda mencatat TPT 5,31 persen.
Sebagai ibu kota provinsi, Samarinda menghadapi tantangan besar dalam menyerap tenaga kerja muda, khususnya lulusan SMA dan SMK yang belum memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja formal.
5. Kabupaten Kutai Barat
Di posisi kelima, Kabupaten Kutai Barat mencatat TPT 5,21 persen.
Meski masih tergolong tinggi, daerah ini justru menunjukkan tren perbaikan dengan penurunan dari 5,58 persen pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, beberapa daerah lain mencatat tingkat pengangguran di bawah rata-rata provinsi. Kabupaten Berau dan Kutai Kartanegara sama-sama berada di angka 4,40 persen, meski dengan tren yang berbeda.
Penajam Paser Utara mencatat 4,26 persen, Paser 4,62 persen, dan Mahakam Ulu menjadi daerah dengan pengangguran terendah, yakni 2,84 persen.
Mahakam Ulu juga mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja tertinggi di Kaltim, mencapai 77,33 persen.
Pengangguran Berdasarkan Pendidikan di Kaltim
Pola pengangguran di Kaltim berdasarkan tingkat pendidikan tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional. Lulusan SMK kembali mendominasi pengangguran tertinggi dengan TPT 7,72 persen.
Sementara lulusan SD ke bawah mencatat TPT terendah sebesar 2,48 persen.
Menariknya, dibandingkan 2024, TPT lulusan SMA dan universitas justru meningkat, masing-masing sebesar 0,38 dan 1,35 persen poin.
Sebaliknya, TPT lulusan Diploma, SMK, SMP, dan SD ke bawah justru menurun. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan menengah dan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja di Kaltim.
Partisipasi Angkatan Kerja dan Tantangan Ketenagakerjaan
Jumlah angkatan kerja di Kaltim pada 2025 tercatat 2,07 juta orang, turun sekitar 6.056 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)—yakni persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi—turun dari 67,07 persen menjadi 66,58 persen.
Dari total 3,12 juta penduduk usia kerja, sekitar 1,04 juta orang masuk kategori bukan angkatan kerja, seperti pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan kelompok lain yang tidak bekerja maupun mencari kerja.
Kesenjangan gender juga masih menjadi catatan penting. TPAK laki-laki mencapai 83,14 persen, jauh lebih tinggi dibanding TPAK perempuan sebesar 48,72 persen, menunjukkan masih terbatasnya akses dan kesempatan kerja bagi perempuan di Kaltim.
Tantangan ke Depan
Data ini menunjukkan bahwa pengangguran di Kalimantan Timur bukan hanya persoalan jumlah, tetapi juga kualitas dan kesesuaian tenaga kerja.
Daerah kaya sumber daya alam belum tentu bebas dari masalah pengangguran jika pertumbuhan ekonomi tidak diiringi penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
Tantangan terbesar ke depan adalah menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, khususnya di tengah transformasi ekonomi dan pembangunan IKN.