4 Berita Populer Padang: Polisi Pastikan Temuan di Kuranji Janin Hewan, Laka Beruntun Sitinjau Lauik
January 08, 2026 07:27 AM

Hasil pemeriksaan medis dari RS Bhayangkara memastikan bahwa bukan janin manusia, melainkan diduga janin hewan.

Empat truk, satu minibus dan satu kendaraan roda dua terlibat kecelakaan beruntun di Kelok Banto, Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan.

Kemudian warga Komplek Griya Permata 2, Padang, menurunkan bendera putih yang bermakna sebagai simbol keputusasaan warga telah diturunkan.

Selanjutnya, penanganan dampak banjir bandang di Kota Padang, mendapat sorotan tajam dari badan legislatif.

Anggota DPRD Kota Padang, Mulyadi Muslim, menilai pemerintah daerah gagal merespons situasi pascabencana dengan cepat dan transparan.

1. Diduga Janin Manusia, Hasil Pemeriksaan RS Bhayangkara Padang Pastikan Temuan di Kuranji Janin Hewan

Penemuan Janin: Petugas kepolisian menerima bekas hasil pemeriksaan medis gumpalan daging yang sebelumnya diduga janin manusia di RS Bhayangkara Padang, Rabu (7/1/2026). Berdasarkan hasil pemeriksaan, benda tersebut dipastikan bukan janin manusia, melainkan diduga janin hewan. (RS Bhayangkara). (TribunPadang.com)

Teka-teki penemuan gumpalan daging yang sempat diduga sebagai janin manusia di kawasan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), akhirnya terjawab.

Hasil pemeriksaan medis dari RS Bhayangkara memastikan bahwa benda biologis tersebut bukan janin manusia, melainkan diduga janin hewan.

Kapolsek Kuranji, Kompol Hendri, mengonfirmasi kesimpulan tersebut berdasarkan pemeriksaan tim medis RS Bhayangkara.

Baca juga: Sinkhole di Limapuluh Kota Masih Keluarkan Air, Tampak Biru tapi Bening dan Jernih

“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim medis RS Bhayangkara tadi sore, telah keluar hasil kesimpulan bahwa gumpalan daging yang ditemukan tersebut bukan janin bayi manusia,” ujar Kompol Hendri, Rabu (7/1/2026).

Ia menjelaskan, benda yang sebelumnya diamankan petugas kepolisian itu diduga kuat merupakan janin dari spesies binatang.

“Itu adalah gumpalan daging yang diduga janin hewan,” tambahnya.

Kronologi Penemuan Diduga Janin

Benda itu ditemukan di dekat sebuah kedai fotokopi di kawasan padat penduduk.

Saksi mata, Juliarti, mengaku menemukan benda tersebut sekitar pukul 07.30 WIB. Awalnya, ia tidak terlalu curiga karena ukuran gumpalan daging itu tergolong kecil dan tidak menyerupai bentuk manusia secara jelas.

Namun, karena merasa ragu dan khawatir, warga kemudian memanggil bidan setempat untuk memastikan temuan tersebut.

Dari pengamatan awal, sempat muncul dugaan bahwa benda itu merupakan janin manusia berusia sekitar empat bulan.

Baca juga: Fenomena Sinkhole di Situjuh Batuah Viral, Warga Ramai Datang hingga Sore Hari

Temuan tersebut lalu dilaporkan ke pihak kepolisian.

Menerima laporan warga, jajaran Polresta Padang dan Polsek Kuranji bergerak cepat ke lokasi.

Polisi memasang garis polisi dan mensterilkan area di depan bangunan kos putri dan toko bangunan untuk kepentingan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dalam proses penyelidikan, polisi mengamankan dua gumpalan daging yang ditemukan di dua titik berbeda, yakni di luar bangunan dan di dalam salah satu kamar kos.

Baca juga: Perbaikan Jalan di Talu Pasaman Barat Berisiko, Mahyeldi Nilai Pengalihan Jalur Lebih Aman

Temuan ini sempat memicu penyelidikan lebih lanjut terkait asal-usul benda tersebut.

Dengan keluarnya hasil pemeriksaan medis dari RS Bhayangkara, pihak kepolisian berharap masyarakat tetap tenang dan tidak lagi berspekulasi mengenai isu pembuangan janin manusia di wilayah Kuranji.

2. Enam Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Kelok Banto Sitinjau Lauik, Arus Lalin Buka Tutup

KECELAKAAN BERUNTUN- Kecelakaan beruntun terjadi di Kelok Banto, Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Rabu (7/1/2026).
KECELAKAAN BERUNTUN- Kecelakaan beruntun terjadi di Kelok Banto, Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Rabu (7/1/2026). (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Kecelakaan beruntun terjadi di Kelok Banto, Sitinjau Lauik, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Rabu (7/1/2026).

Kecelakaan tersebut diketahui terjadi pada Rabu waktu subuh dan melibatkan enam kendaraan.

Empat truk, satu minibus dan satu kendaraan roda dua.

Wartawan Tribunpadang.com, Muhammad Iqbal, menyaksikan di lokasi sekitar pukul 11.05 WIB, tampak kendaraan masih berada di lokasi.

Kaca Depan Truk Batu Bara Pecah

Seperti truk berwarna hijau yang diketahui mengangkut batu bara, terparkir di bagian kanan jalan dari arah Solok menuju Padang.

Truk pengangkut batu bara itu hancur di bagian depan, bagian kaca depan juga pecah.

Namun bagian samping atau badan truk masih baik-baik saja.

Tak jauh dari lokasi truk terparkir, di arah kanan, terdapat trailer yang mengangkut alat berat hampir setengah badannya masuk ke jurang.

Truk Trailer Terperosok ke Jurang

Dari pantauan di lapangan, bagian depan trailer sudah masuk ke jurang, dan menyisakan bagian tengah hingga ekor di badan jalan.

Trailer itu memiliki bagian depan berwarna putih biru.

Sementara itu, di samping trailer terdapat satu truk pengangkut semen yang juga terlibat kecelakaan.

Baca juga: Bundo Kanduang se-Kota Pariaman Marandang untuk Korban Bencana Sumbar

Diketahui, truk pengangkut semen, bagian kepalanya menghadap ke arah Solok.

Posisinya bergandengan, namun dengan arah berbeda.

Untuk truk pengangkut semen, sudah dievakuasi oleh pengemudinya ke arah Solok.

Karena truk pengangkut semen tidak terlalu berdampak, terlihat hanya terjadi senggolan atau gesekan.

Tak hanya itu, di bagian jurang, terlihat lagi satu minibus berwarna hitam yang hancur di bagian depannya.

Kaca-kacanya pecah, dan posisi kepala minibus, menghadap ke arah jalan.

Minibus dan Sepeda Motor Ikut Terlibat

Warga sekitar, Endri mengatakan kecelakaan terjadi pada Rabu subuh dan melibatkan empat truk, satu minibus dan satu sepeda motor.

"Total tujuh kendaraan yang terlibat kecelakaan beruntun," ucapnya saat dikonfirmasi di lapangan.

Ia menjelaskan, saat sekarang di lokasi hanya terdapat empat kendaraan yang tersisa.

"Trailer, truk pengangkut batu bara, minibus, dan satu sepeda motor," sebutnya.

"Sebelumnya lima kendaraan di lokasi, namun sekira pukul 12.00 WIB tadi, sudah meninggalkan lokasi," sambung Endri.

Endri menuturkan, tidak ada korban jiwa dari kecelakaan beruntun tersebut. Termasuk satu sepeda motor tersebut merupakan milik petugas PKJR di lapangan.

Baca juga: Mendagri Apresiasi Gerak Cepat Pemprov Sumbar Tangani Bencana Hidrometeorologi

"Kendaraan roda dua terparkir, milik petugas PKJR, sekarang masuk jurang, namun tidak terlihat dari atas. Korban tidak ada," tambahnya.

Di sisi lain terlihat petugas gabungan dari polisi dan Dishub juga sudah berada di lokasi kecelakaan.

Kepolisian terlihat mendata sekaligus membantu arus lalu lintas di Kelok Banto, Sitinjau Lauik tersebut.

Tak hanya kepolisian, pengaturan lalu lintas juga dibantu oleh Dishub, terlihat dari petugas yang menghambat kendaraan dari salah satu arah agar tidak terjadi kemacetan.

3. Warga Griya Permata 2 Padang Turunkan Bendera Putih, Alat Berat Kini Sibuk Bekerja Perbaiki Sungai

TABIANG BANDA GADANG- Pemandangan pascabencana di Komplek Griya Permata 2, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami perubahan signifikan pada Rabu (7/1/2026). Bendera putih yang sebelumnya berkibar sebagai simbol permintaan tolong dan keputusasaan warga kini telah diturunkan, seiring dengan dimulainya langkah konkret perbaikan infrastruktur di kawasan terdampak banjir tersebut.
TABIANG BANDA GADANG- Pemandangan pascabencana di Komplek Griya Permata 2, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami perubahan signifikan pada Rabu (7/1/2026). Bendera putih yang sebelumnya berkibar sebagai simbol permintaan tolong dan keputusasaan warga kini telah diturunkan, seiring dengan dimulainya langkah konkret perbaikan infrastruktur di kawasan terdampak banjir tersebut. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Pemandangan mencolok di Komplek Griya Permata 2, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami perubahan signifikan pada Rabu (7/1/2026). 

Bendera putih yang sebelumnya berkibar sebagai simbol permintaan tolong dan keputusasaan warga kini telah diturunkan, seiring dengan dimulainya langkah konkret perbaikan infrastruktur di kawasan terdampak banjir tersebut.

Sebelumnya bendera putih bermunculan di sepanjang pemukiman hingga di depan pintu masjid, yang dimaknai sebagai sebuah kepasrahan.

Baca juga: Terik Matahari Tak Hentikan Warga Griya Permata 2 Padang Bangkit dari Banjir

Bendera Putih Dicabut Usai Alat Berat Dikerahkan

Pantauan TribunPadang.com di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB menunjukkan kesibukan baru.

Tidak ada lagi kain putih yang melambai di depan rumah warga. 

Sebagai gantinya, deru mesin dari tujuh unit alat berat mulai memecah keheningan komplek, bekerja melakukan pengerukan dan perbaikan aliran sungai yang menjadi pemicu bencana beberapa waktu lalu.

Sejak Senin (5/1/2026) warga secara sukarela mencabut simbol tersebut setelah melihat komitmen pemerintah yang mendatangkan bantuan alat berat untuk menormalisasi sungai yang merusak pemukiman mereka.

Alat Berat Bekerja, Warga Mulai Tenang

Aprillegianti, salah seorang warga yang kehilangan rumahnya akibat terjangan arus, mengungkapkan bahwa kehadiran alat berat tersebut membawa sedikit ketenangan. 

Baginya, penurunan bendera adalah bentuk apresiasi warga atas respons yang akhirnya tiba di lapangan.

"Bendera sudah turun karena bantuan sudah datang. Harapan kami sekarang, perbaikan sungai ini bisa cepat selesai. Kami hanya ingin tidak ada lagi rasa takut yang menghantui setiap kali langit mendung," ujar Aprillegianti.

Baca juga: Enam Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Kelok Banto Sitinjau Lauik, Arus Lalin Buka Tutup

Kondisi cuaca yang panas dalam beberapa hari terakhir membuat material lumpur di dalam komplek mulai mengeras. 

Warga terlihat bahu-membahu membersihkan sisa banjir dengan alat seadanya. 

Tanah yang kering memicu debu di sepanjang jalan komplek, namun hal itu tak menyurutkan semangat warga untuk menyelamatkan harta benda yang tersisa.

Meski aktivitas pembersihan berlangsung di siang hari, Komplek Griya Permata 2 masih tampak seperti "kota mati" saat malam tiba. 

Siang Hari Warga Bersihkan Rumah, Malam Pulang ke Kontrakan

Banyak warga yang memilih mengontrak di tempat lain karena rumah mereka sudah tidak lagi memiliki dinding atau lantai yang layak untuk ditempati.

"Siang kami di sini untuk membersihkan rumah, tapi kalau malam komplek ini kosong," sebutnya.

"Banyak yang sudah mengontrak karena rumahnya hanyut atau rusak berat. Kami kembali ke sini hanya untuk memastikan proses perbaikan tetap berjalan," tambahnya.

Baca juga: Semen Padang FC Umumkan Rekrutan Anyar Jaime Giraldo, Bek Kolombia Bernilai Rp3,4 Miliar

Harapan senada disampaikan oleh Yarka, warga lainnya. Ia menekankan pentingnya normalisasi agar aliran sungai tidak lagi mengarah langsung ke area pemukiman. 

Menurutnya, pembangunan bendungan atau dam yang kokoh adalah harga mati agar warga bisa tidur nyenyak di masa depan.

"Jika alirannya sudah dinormalisasi, air tidak akan lagi menjebol pertahanan komplek. Kami sangat berharap proyek ini selesai tepat waktu," kata Yarka sambil menunjuk ke arah alat berat yang bekerja.

4. Bendera Putih Berkibar di Tabing Banda Gadang, DPRD Padang Kritik Penanganan Pasca Banjir Bandang

Respons DPRD: Anggota DPRD Kota Padang, Mulyadi Muslim, menilai pemerintah daerah gagal merespons situasi pascabencana dengan cepat dan transparan. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan adanya jarak signifikan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat terdampak, Rabu (7/1/2026). 
Respons DPRD: Anggota DPRD Kota Padang, Mulyadi Muslim, menilai pemerintah daerah gagal merespons situasi pascabencana dengan cepat dan transparan. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan adanya jarak signifikan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat terdampak, Rabu (7/1/2026).  (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Penanganan dampak banjir bandang di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), mendapat sorotan tajam dari badan legislatif.

Anggota DPRD Kota Padang, Mulyadi Muslim, menilai pemerintah daerah gagal merespons situasi pascabencana dengan cepat dan transparan.

Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan adanya jarak signifikan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat terdampak.

Baca juga: Pemko Padang Siapkan Gotong Royong Bersama Relawan Tangani Dampak Banjir Bandang 

“Bantuan yang diharapkan warga tidak kunjung tiba saat mereka sangat membutuhkan,” kata Mulyadi, yang juga Ketua DPD PKS Kota Padang, kepada TribunPadang.com, Rabu (7/1/2026). 

Ia menambahkan, aksi warga seperti pengibaran bendera putih di Komplek Griya Permata II, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, merupakan bentuk protes atas absennya negara di fase krusial pascabencana.

Sementara itu, warga di kawasan tersebut sudah mulai menurunkan simbol aksi protes seiring masuknya alat berat ke lokasi terdampak.

Mulyadi juga menyoroti aksi swadaya masyarakat di beberapa titik terdampak, seperti Tabing Banda Gadang, Batu Busuak, hingga Guo Kuranji. 

Baca juga: Akses Padang–Solok Buka Tutup, Minibus Masih di Jurang Usai Laka Beruntun di Sitinjau Lauik

Menurutnya, gerakan mandiri warga bukanlah bentuk kepanikan, tetapi bukti nyata bahwa pemerintah belum hadir di saat yang dibutuhkan.

Ia menilai masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemko Padang terbukti tidak memadai untuk mengatasi persoalan mendasar.

Situasi di pemukiman warga justru semakin parah akibat banjir susulan dan pendangkalan sungai karena sedimentasi.

“Tanpa langkah luar biasa dari pemerintah, ancaman bencana serupa tinggal menunggu waktu, terutama di wilayah Balai Gadang dan Lubuk Minturun,” ujarnya.

Baca juga: Kesaksian Pengendara Minibus yang Masuk Jurang 15 Meter dalam Tabrakan Beruntun Sitinjau Lauik

Persoalan transparansi data juga menjadi sorotan.

Mulyadi menegaskan banyak rumah yang secara kasat mata tidak tampak rusak, namun sebenarnya terdampak lumpur tebal dan kerusakan lingkungan sehingga tidak layak huni, sehingga tidak masuk daftar penerima bantuan.

Ia mengingatkan Pemko Padang, meski berakhirnya masa tanggap darurat agar tidak dijadikan alasan menghentikan upaya penyelamatan dan bantuan bagi warga. 

Mulyadi meminta Wali Kota dan jajarannya intensif berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pusat.

Bagi warga yang rumahnya tidak bisa ditempati, ia menyarankan segera melapor ke RT/RW setempat untuk mengakses program Dana Tunggu Hunian (DTH), agar tidak terlantar selama proses pemulihan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.