Renungan Harian Katolik Jumat 9 Januari 2026, Engkau Dapat Mentahirkan Aku
January 09, 2026 08:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian katolik Jumat 9 Januari 2026.

Tema renungan harian Katolik "engkau dapat Mentahirkan aku".

Renungan harian Katolik disiapkan untuk hari Jumat biasa sesudah penampakan Tuhan, Santo Andreas Korsini, Uskup dan Pengaku Iman, Santa Marsiana Martir, dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Jumat 9 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 9 Januari 2026, Ketika Yesus Menyentuh yang Terbuang

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13

"Kesaksian tentang Anak Allah."

Saudara-saudara terkasih, tidak ada orang yang mengalahkan dunia, selain dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah! Dia inilah yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus; bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. 

Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: Roh, air, dan darah dan ketiganya adalah satu. Kesaksian manusia kita terima, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. 

Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Allah menjadi pendusta karena orang itu tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 

Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak Allah, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Dia, ia tidak memiliki hidup. 

Semuanya ini kutuliskan kepada kamu supaya kamu, yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13.14-15.19-20

Ref. Pujilah Tuhan, hai umat Allah! Pujilah Tuhan, hai umat Allah!

Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anak yang ada padamu.

Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.

Bait Pengantar Injil: Mat 9:35

Ref. Alleluya, alleluya

Bacaan Injil: Luk 5:12-16

"Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta."

Sekali peristiwa Yesus berada di sebuah kota. Ada di situ seorang yang penuh kusta. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah si kusta dan memohon, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 

Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar, dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

“Tuhan, Jika Engkau Mau, Engkau Dapat Mentahirkan Aku”

Dalam Injil Lukas 5:12-16, kita berjumpa dengan seorang yang penuh kusta—seorang yang terbuang, dianggap najis, dijauhi, bahkan dinilai sebagai hukuman Tuhan oleh masyarakat pada zamannya. Namun hari itu hidupnya berubah total. Ia tidak hanya disembuhkan, tetapi dipuji, disentuh, dan dipulihkan martabatnya oleh Yesus.

Kisah ini bukan sekadar mukjizat fisik. Inilah potret mendalam tentang belas kasih Tuhan, sebuah pesan yang tetap relevan bagi kita yang hidup di era digital yang sering penuh komentar pedas, penolakan, dan luka batin tersembunyi.

1. “Tuhan, jika Engkau mau…” — doa yang lahir dari keputusasaan dan iman

Kalimat pendek ini adalah salah satu doa terindah dalam Kitab Suci. Bukan panjang, bukan rumit, tetapi jujur dan menyerah pada kasih Tuhan.

Orang kusta itu tidak menuntut, tidak memaksa, tidak memanipulasi. Ia hanya berseru dengan hati yang hancur:

“Jika Engkau mau…”

Inilah bentuk kerendahan hati rohani yang sangat dalam. Ia meyakini kuasa Yesus (“Engkau dapat mentahirkan aku”), tetapi ia juga membiarkan Tuhan menjadi Tuhan.

Di dunia digital yang serba instan, kita sering ingin Tuhan menjawab cepat, menjawab sesuai rencana kita. Renungan Katolik harian ini mengajak kita kembali ke doa yang tulus:

Tuhan, aku percaya Engkau mampu. Tapi biarlah Engkau yang memimpin.

2. Yesus menyentuh yang tidak boleh disentuh

Dalam tradisi Yahudi, menyentuh orang kusta berarti ikut menjadi najis. Tetapi Yesus justru melampaui batas itu. Ia bukan hanya berkata, “Aku mau.” Ia juga menyentuh.

Inilah puncak belas kasih.

Sentuhan-Nya bukan sekadar menyembuhkan tubuh; itu memulihkan identitas, harga diri, dan rasa dicintai.

Banyak dari kita mungkin tidak menderita kusta secara fisik, tetapi kita membawa kusta batin:

luka masa lalu
rasa tidak layak
dosa yang memalukan
kegagalan yang tak ingin kita ceritakan
kelelahan yang kita sembunyikan di balik senyum media sosial
Hari ini, Tuhan ingin menyentuh bagian itu.

Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan.

3. “Pergilah… dan persembahkanlah kurban…” — mukjizat diiringi ketaatan

Setelah disembuhkan, Yesus meminta orang itu pergi kepada imam dan melakukan sesuai hukum Musa.

Mengapa?

Karena mukjizat harus diiringi ketaatan, bukan euforia.

Pemulihan tidak berhenti pada pengalaman emosional; ia menghasilkan hidup yang baru, langkah yang tertata, dan iman yang terwujud dalam tindakan nyata.

Sering kali kita ingin rasanya saja—merasa disembuhkan, merasa dipulihkan—tetapi tidak mau melangkah dalam ketaatan sehari-hari: berdoa, berdamai, mengampuni, hidup jujur.

Renungan ini mengajak kita merenung:

Sudahkah aku menanggapi kasih Allah dengan ketaatan, bukan hanya perasaan?

4. Yesus “mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa”

Di tengah kesuksesan pelayanan, di tengah orang-orang yang terus mencari Dia, Yesus memilih sunyi.

Ia tidak mencari popularitas.

Ia tidak mengejar pusat perhatian.

Ia kembali kepada Bapa.

Ini adalah contoh spiritualitas Katolik yang penting bagi generasi digital:

ketika notifikasi merajalela, ketika hidup dipenuhi hiruk-pikuk pekerjaan dan media sosial, kita membutuhkan ruang sunyi untuk kembali menjadi diri kita di hadapan Allah.

Renungan harian Katolik ini mengajak kita menata ulang ritme rohani:

Apakah aku menyediakan waktu sunyi setiap hari untuk berjumpa Tuhan?

Tanpa itu, hati perlahan kosong meskipun aktivitas rohani banyak.

5. Pesan untuk hidup kita hari ini

Bacaan Injil hari ini memberi tiga pesan tegas:

A. Datanglah dengan jujur seperti orang kusta

Bukan dengan pencitraan rohani, tetapi dengan luka apa adanya.

B. Izinkan Yesus menyentuh bagian hidup yang paling kamu sembunyikan

Sebab belas kasih-Nya lebih besar daripada rasa malu kita.

C. Setelah disembuhkan, hiduplah dalam ketaatan

Iman tidak berhenti pada emosi; iman adalah perjalanan.

D. Sediakan ruang sunyi

Pertumbuhan rohani lahir dari keheningan bersama Tuhan.

Doa Renungan

Tuhan Yesus,

Aku datang kepada-Mu seperti orang kusta itu—dengan luka, kelemahan, dan dosa yang sering aku sembunyikan.

Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.

Sentuhlah bagian hidupku yang rapuh, pulihkanlah batinku,

dan ajarlah aku hidup dalam ketaatan serta kesetiaan.

Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.