Musim Angin Barat, Nelayan Tradisional Manado Sudah Seminggu Tidak Melaut, Ada yang Alih Profesi
January 08, 2026 10:22 AM

CUACA buruk yang melanda Sulawesi Utara sepekan terakhir berdampak pada nafkah nelayan. 

Kamis 8 Januari 2026, genap seminggu Arman tidak turun mencari ikan.

Ia terakhir turun ke laut pada 31 Desember.

Tepat di akhir tahun 2025.

"Pas satu minggu ini, lagi musim barat kwa ini," kata Arman yang ditemui di tempat penambatan perahu Kawasan Megamas Manado, pagi ini. 

Selain Arman, ada sekitar 50-an nelayan yang tergabung dalam komunitas Nelayan Firdaus terdampak. 

Pria 44 tahun itu beberapa hari terakhir sibuk memperbaiki perahunya.

nelayan Manado sibuk memperbaiki perahunya darat di Kawasan Megamas
TIDAK MELAUT - Arman (44), nelayan Manado sibuk memperbaiki perahunya yang sudah dinaikkan ke darat di Kawasan Megamas, Kamis 8 Januari 2025. Akibat cuaca buruk, gelombang tinggi nelayan tidak melaut.

Katanya, akibat ombak besar, perahunya rusak. 

"Ini as-nya patah, sema-sema, baling-baling dan bodi juga pecah. Ini sementara perbaiki," katanya lagi. 

Ada beberapa perahu yang rusak karena dihantam pasang pada Senin 5 Januari malam.

Arman dan karibnya terlambat datang menaikkan perahu ke darat. 

"Itu puncaknya, air nae besar torang bilang," ungkapnya.

Pada Senin malam, pasang naik sampai ke jalan kawasan. 

Kini, puluhan perahu sudah di darat, berbaris rapi di sisi jalan Kawasan Megamas. 

Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu seperti ini, Arman dan kawan-kawan cuma bisa menunggu.

Katanya, musim angin barat seperti ini biasanya lama. 

"Awal tahun selalu seperti ini, biasa sampai Februari, Maret baru todoh (teduh)," ungkapnya. 

Sambil menunggu cuaca kondusif, Arman dan para nelayan biasanya terpaksa alih profesi sementara.

"Ada yang kerja bangunan," katanya. 

Katanya pula, di musim seperti ini, nelayan terpaksa pasrah.

"Alam kita tidak bisa melawan. Mo bagimana?" ujarnya lirih.

(TribunManado.co.id/Ndo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.