BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Banjir melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Bahkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sampai menjadwalkan kunjungan ke Banjar dan Kabupaten Balangan pada Kamis (8/1).
Kendati demikian, pemerintah provinsi belum menetapkan status tanggap darurat. Gubernur Muhidin beralasan tingkat keparahan banjir tidak merata di setiap daerah sehingga statusnya hanya siaga bencana.
“Yang kami tandatangani hanya kesiapsiagaan bencana, jadi belum lagi untuk tanggap darurat. Karena kalau tanggap darurat, ada beberapa kabupaten yang terkena banjir ekstrem,” ujarnya.
Muhidin mencontohkan banjir di Kecamatan Tebing Tinggi, Balangan, pada akhir Desember 2025. “Di Balangan kemarin cuma tiga jam lalu surut. Lima jam sudah kering. Karena curah hujan tinggi, sedangkan sungainya tidak mampu karena kecil dan ada hambatan akhirnya meluap. Seperti di Martapura kan cepat juga surut,” sebutnya.
Gubernur juga menyebut banjir yang belakangan ini terjadi di sejumlah daerah di Kalsel bukan disebabkan kerusakan alam seperti tambang dan pembalakan hutan.
Baca juga: Wapres Gibran Kunjungi Sejumlah Titik Banjir di Kalsel Hari Ini, Cek Daftar Lokasinya
Baca juga: Banjir Meluas di Kalsel, Gubernur Muhidin Sebut Alasan Belum Turun Langsung ke Lokasi Terdampak
“Kalau kita ini tidak ada kerusakan apapun. Kita tidak ada kerusakan dari tambang dan kerusakan orang memotong kayu. Seperti di Balangan kan bukan banjir bandang. Karena curah hujan saja, lalu meluap,’ klaimnya usai rapat koordinasi persiapan kedatangan Wapres dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, Selasa (6/1).
Menurut Muhidin, pemerintah tidak menutup mata jika suatu bencana diduga berkaitan dengan aktivitas usaha. “Ini seperti di Sumatera. Kalau terjadi banjir, dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) nanti dikaji dan diproses, apakah itu kesalahan pengusaha kayu atau faktor lain,” katanya.
Muhidin juga mengakui masih ada persoalan lain yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya terkait pengelolaan Sungai Alalak. “PR kita sekarang adalah Sungai Alalak. Kalau sungai itu kita benahi dan banjir masih terjadi, baru kita cari solusi lainnya. Ini yang perlu dikoordinasikan bersama masyarakat setempat di sana,” pungkasnya. (riz/msr)