TRIBUNNEWS.COM – Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti siswa kelas 10 SMA halaman 158 membahas tamsil Isra Miraj Rasulullah Saw.
Para siswa diminta mengerjakan soal yang berkaitan dengan makna dari tamsil Isra Miraj Rasulullah Saw pada bagian Aktivitas 6.7 buku PAI dan Budi Pekerti.
Buku pelajaran PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Kurikulum Merdeka merupakan karangan Ahmad Taufik dan Nurwastuti Setyowati terbitan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2017.
Berikut Tribunnews sajikan kunci jawaban buku PAI dan Budi Pekerti kelas 10 halaman 158 "Aktivitas 6.7".
Baca juga: Kunci Jawaban PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Halaman 153: Aktivitas 6.6 Tafsir Surah Al Isra
Ketika Rasulullah Saw, melaksanakan perjalanan Isra' Miraj, dengan didampingi oleh Malaikat Jibril, beliau diperlihatkan pada sekelompok orang yang dihadapannya disediakan daging segar, tetapi mereka lebih memilih untuk memakan daging yang busuk. Lalu Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itulah siksaan dan kehinaan bagi orang yang melakukan zina dan perselingkuhan. Merela memilih berselingkuh seolah memakan daging yang busuk, sedangkan mereka telah memiliki suami atau istri yang halal dan sah.
Tuliskanlah pendapat kalian tentang makna dari tamsil Isra' Mi'raj Rasulullah Saw. tersebut, Jika dikaitkan dengan perilaku sebagian masyarakat saat ini?
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 109, 110: Menganalisis dan Menilai Desain Poster
Pendapat tentang Makna Tamsil Isra’ Mi’raj Terkait Zina dan Perselingkuhan
Tamsil yang diperlihatkan kepada Rasulullah Saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yaitu sekelompok orang yang memilih memakan daging busuk padahal tersedia daging segar, memiliki makna yang sangat mendalam. Daging segar melambangkan hubungan yang halal, bersih, dan diridhai Allah, yaitu pernikahan yang sah. Sedangkan daging busuk melambangkan zina dan perselingkuhan yang tampak menggoda tetapi sejatinya kotor, merusak, dan menjijikkan di sisi Allah.
Makna utama dari tamsil ini adalah bahwa zina bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi juga kehinaan akhlak. Orang yang berzina sejatinya memilih sesuatu yang merusak dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat, padahal Allah telah menyediakan jalan yang suci dan bermartabat.
Jika dikaitkan dengan perilaku sebagian masyarakat saat ini, tamsil tersebut menjadi peringatan yang sangat relevan. Di era modern, pergaulan bebas, perselingkuhan, dan zina sering dianggap wajar, bahkan dibungkus dengan alasan “cinta”, “kebutuhan”, atau “kebebasan pribadi”. Media sosial dan budaya populer juga sering menormalisasi perilaku tersebut. Padahal, sebagaimana daging busuk, perbuatan zina membawa dampak buruk seperti rusaknya rumah tangga, hilangnya kepercayaan, penderitaan anak, serta kerusakan moral masyarakat.
Dengan demikian, tamsil Isra’ Mi’raj ini mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak menarik itu baik, dan tidak semua yang dianggap biasa oleh masyarakat dapat diterima secara moral dan agama. Umat Islam dituntut untuk memiliki kesadaran spiritual, menjaga kehormatan diri, dan menjauhi segala hal yang mendekati zina, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an.
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 106, 107: Lembar Pengamatan Video Pidato Bung Karno
Disclaimer:
(Tribunnews.com/Oktavia WW)