Pasar Otomotif 2026 Diprediksi Masuk Fase Baru, Hybrid dan Harga Jadi Penentu
kumparanOTO January 09, 2026 03:57 PM
Dinamika pasar otomotif nasional diperkirakan memasuki babak baru pada 2026. Utamanya berkat berakhirnya insentif fiskal untuk mobil listrik impor dan rencana kenaikan PPN.
Merek-merek asal China yang selama ini agresif di segmen elektrifikasi mulai dihadapkan pada tantangan baru, yakni potensi kebangkitan segmen low cost green car (LCGC) serta semakin menguatnya adopsi hybrid electric vehicle (HEV).
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut bahwa masuknya merek China dengan pendekatan harga kompetitif dan fitur tinggi, membuat pasar tidak serta-merta mundur ke teknologi lama.
“Merek China tetap agresif melakukan perang harga dan efisiensi manufaktur untuk membendung potensi kebangkitan segmen LCGC ICE konvensional,” ujar Yannes kepada kumparan, Kamis (8/1/2026).
BYD Atto 1 di GJAW 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
BYD Atto 1 di GJAW 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
Menurutnya, tanpa kehadiran produk-produk elektrifikasi berharga terjangkau, baik hybrid maupun listrik, pasar berisiko mengalami regresi. Kenaikan harga kendaraan akibat berakhirnya insentif umum yang dapat mendorong konsumen kembali melirik LCGC.
Namun, strategi merek China yang menekan biaya produksi dan memangkas margin justru menciptakan 'tembok penahan' agar konsumen tetap berada di jalur teknologi yang lebih maju.
“Tanpa skema seperti ini, industri berisiko mengalami pergerakan besar kembali ke segmen LCGC atau ICE konvensional karena lonjakan harga setelah insentif umum (mobil listrik) berakhir,” lanjutnya.
Aktivitas produksi mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) GAC AION V di fasilitas perakitan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) milik PT National Assemblers (Indomobil Group) di Purwakarta, Jabar, Selasa (10/6/2025). Foto: Indomobil Group
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas produksi mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) GAC AION V di fasilitas perakitan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) milik PT National Assemblers (Indomobil Group) di Purwakarta, Jabar, Selasa (10/6/2025). Foto: Indomobil Group
Yannes menilai agresivitas tersebut bukan semata soal harga murah, melainkan efisiensi menyeluruh, mulai dari manufaktur, rantai pasok, hingga lokalisasi komponen.
Terlebih, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencanangkan skema insentif baru, yakni berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar emisi, dan batasan harga untuk menciptakan subsidi yang lebih tepat guna.
Melalui rencana kebijakan itu, para pabrikan didorong untuk melakukan manufaktur lokal jika hendak menerima relaksasi. Sehingga, industri otomotif secara keseluruhan bisa membaik.

Kebangkitan hybrid

Toyota Veloz Hybrid. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Toyota Veloz Hybrid. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Yannes turut melihat potensi HEV menjadi teknologi yang paling diuntungkan pada 2026. Mobil hybrid dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen rasional, khususnya di luar kota besar dan di luar Pulau Jawa, tanpa memunculkan kekhawatiran soal jarak tempuh.
“Antara kebangkitan ICE, LCGC, dan HEV, HEV paling diuntungkan sebagai jembatannya karena ia tidak memicu range anxiety untuk area luar kota besar dan di luar Jawa,” jelas Yannes.
Sementara itu, kendaraan listrik murni (BEV) diperkirakan akan tumbuh lebih selektif, dengan fokus pada model produksi lokal yang memenuhi ambang batas TKDN. Sedangkan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) cenderung bertahan di segmen premium.
Media Test Drive Wuling Darion PHEV Bali-Jakarta, Senin (17/11/2025). Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Media Test Drive Wuling Darion PHEV Bali-Jakarta, Senin (17/11/2025). Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
Dengan tekanan harga yang meningkat dan daya beli kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya, Yannes menilai persaingan antar merek akan semakin ketat.
Dalam kondisi tersebut, perang harga dari merek China menjadi salah satu faktor kunci yang menjaga pasar tetap bergerak maju, bukan kembali ke titik awal.
Situasi ini menegaskan bahwa arah pasar otomotif 2026 tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh strategi pemain global dalam membaca kondisi konsumen Indonesia yang semakin rasional dan sensitif terhadap harga.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.