BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Sore itu petikan kecapi memenuhi ruang utama sebuah rumah di Jalan Kemuning, Desa Sigam, Kecamatan Pulau Laut Sigam, Kabupaten Kotabaru. Lentingan dua senar yang dipetik menggunakan bilah bambu menggema di telinga, seakan membawa ingatan ke cerita lampau saat petani bercocok tanam.
Sambil bersila, bait demi bait yang terlintas di benakknya dituturkan Colleng Detundru saat memainkan kecapi di pangkuannya.
Dari penuturan lelaki berusia 63 tahun yang kerap dipanggil Daeng Kecapi ini, alat musik tradisional khas Makassar ini bukan barang baru. Ia menggandrunginya sejak tahun 70-an. Bahkan kemana pun ia merantau, alat berbahan dasar kayu ini selalu menemaninya.
Bukan sekedar mengusir jenuh dengan senandung, ia juga meyakini setiap petikan juga memanggil rezeki.
Saat diajak ngobrol, Pa’ Colleng menceritakan sekilas sejarah kecapi yang ia ketahui. Konon, alat ini kerap dimainkan nelayan saat pergi melaut. Saat dilanda gelombang besar dan angin kencang, kecapi dimainkan sambil bersenandang menunggu kondisi alam meneduh, hingga buainya menenangkan pikiran dan ombak.
Baca juga: 926 Sekolah di Kalsel Terdampak Banjir, Estimasi Kerugian Hampir Rp 319,7 Miliar
Bagi Pa’ Colleng yang juga perantauan dari Makassar, Sulawesi Selatan, kecapi yang ia mainkan telah banyak memberikan pencerahan. Termasuk saat dilanda berbagai masalah dalam hidup termasuk keuangan keluarga.
“Dulu pernah memainkannya di ladang, di tempat sunyi di Sulawesi. Tapi ada yang mendengar dan tertarik. Hingga berujung diundang mengisi acara hajatan,” ungkap pria yang juga dikenal sebagai Ambo Lina ini.
Dari undangan warga tersebut ia membawa berkarung-karung beras sebagai ganjaran karena telah memberikan hiburan yang mengasyikkan.
Berpindah di Kotabaru, hal serupa juga ia alami saat berkebun di Desa Labuan Amas. Kondisi keuangan yang tercekik lagi-lagi terselesaikan dengan petikan kecapi yang dimainkan pada undangan calon kepala desa yang akan mengikuti pemilihan. Namun kali ini bukan beras yang dibawa pulang, tapi uang senilai jutaan rupiah yang jadi balas jasa atas hiburan yang disuguhkan.
Dengan rezeki ini, ia mengaku sangat bersyukur karena bisa membiayai pengobatan istri, Bahara, yang mencapai ratusan juta.
Di Bumi Saijaan, seniman kecapi Makassar memang terbilang minim. Salah satunya Pa’ Colleng. Ia bahkan memiliki keterampilan membuat kecapi. Dari lima koleksi kecapi berbentuk miniatur kapal, empat di antaranya adalah karya sendiri.
Keterampilan membuat adalah hasil dari pengamatan, setelah memiliki kecapi pada 1993 yang dibeli seharga Rp 47 ribu. “Kalau orang bisa kenapa saya tidak mencoba memainkan dan membuat,” sebutnya sebagai motivasi.
Di tanah Kalimantan, ia menilai berbagai jenis kayu dapat dimanfaatkan. Seperti batang kemuning, ketapi, alaban, hingga batang nangka. Proses pembuatannya memang tidak sebentar. Perlu berbulan-bulan dengan memanfaatkan waktu senggang.
Dalam memainkan kecapi, Pa’ Colleng mengaku tidak ada kunci yang baku layaknya main gitar. Petikan dengan enam hingga tujuh mata pengapit senar bisa bebas dimainkan mengikuti irama yang tersirat.
Begitu pula cerita yang dirangkai bisa sesuai kondisi hati. Entah itu kisah perjuangan, bertani, melaut, percintaan, hingga perjalanan hidup manusia. “Jadi semacam bertutur dengan alat musik,” ujarnya.
Di Kotabaru, Pa’ Colleng sudah beberapa kali mengisi gelaran. Termasuk di Panggung Festival Budaya Saijaan 2025. (Banjarmasin Post/muhammad tabri)