TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Trenggalek berencana menggelar Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) menyusul mundurnya Nurhadi dari jabatan Ketua KONI Trenggalek.
Musorkablub tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Januari 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Trenggalek, Arief Setiawan, menyampaikan sejumlah harapan terhadap sosok ketua KONI yang baru.
Ia menegaskan, pemimpin KONI ke depan harus mampu membangun kepercayaan sekaligus kebanggaan atlet untuk berprestasi membawa nama Trenggalek.
Menurut Arief, KONI tidak hanya berperan sebagai organisasi induk olahraga, tetapi juga harus menjadi rumah besar bagi para atlet serta penghubung lintas sektor dalam memajukan olahraga daerah.
"KONI harus bisa meyakinkan atlet bahwa menjadi atlet Trenggalek itu membanggakan. Prestasi mereka harus diapresiasi secara adil dan terukur," ujar Arief, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Pelatih Madura United Waspadai Kebangkitan PSIM Yogyakarta, Pelototi Lini Tengah
Ia menilai, salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan ketua KONI baru adalah memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya dengan Dispora dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
Sinergi tersebut penting agar program pembinaan atlet memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan, mulai dari usia dini hingga level prestasi.
Arief menjelaskan, pembinaan atlet idealnya dimulai sejak jenjang pendidikan dasar, menengah pertama, hingga menengah atas melalui penyelenggaraan event olahraga berjenjang yang rutin.
Dengan sistem tersebut, potensi atlet dapat terpetakan sejak dini.
"KONI jangan hanya fokus pada kejuaraan besar. Event berjenjang itu penting untuk membentuk mental dan kualitas atlet sejak awal," jelas pria yang juga menjabat sebagai Kabag Pembangunan Setda Kabupaten Trenggalek tersebut.
Selain pembinaan, Arief juga menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam pengelolaan cabang olahraga (cabor), terutama terkait alokasi anggaran pembinaan.
Ia mengingatkan agar KONI tidak memprioritaskan cabor tertentu hanya karena faktor kedekatan personal atau selera pengurus.
"Pembagian anggaran harus adil dan berbasis potensi prestasi. Jangan sampai cabor yang minim prestasi justru mendapat anggaran besar, karena itu bisa menimbulkan kecemburuan," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong KONI untuk berperan sebagai jembatan antara cabor dan Dispora dalam menyusun program pengembangan olahraga.
Salah satunya dengan menghadirkan event olahraga baru yang diminati masyarakat, sehingga atmosfer olahraga di Trenggalek semakin hidup.
Tak kalah penting, Dispora juga berharap adanya koordinasi dengan Pemkab Trenggalek agar atlet berprestasi mendapatkan apresiasi nyata, termasuk peluang nilai tambah saat mendaftar sekolah.
"Atlet berprestasi harus diberi reward, misalnya berupa piagam yang memiliki nilai poin dalam PPDB. Ini bentuk penghargaan atas dedikasi mereka," tambah Arief.
Ia menegaskan, ke depan KONI harus lebih selektif dalam mengirim atlet ke ajang kompetisi.
Fokus pembinaan dinilai lebih penting dibandingkan sekadar mengejar keikutsertaan.
"Kirim atlet itu harus siap prestasi, bukan asal kirim. Ciptakan sebanyak mungkin event agar atlet bangga dan merasa dihargai sebagai atlet Trenggalek," pungkasnya.
(Sofyan Arif Candra/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik