TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sebagai ibu kota Kalimantan Timur, Kota Samarinda menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada pangan.
Faktor alam seperti banjir dan irigasi yang belum berfungsi optimal menjadi hambatan utama bagi petani, khususnya mereka yang menanam padi sawah.
Manager Brigade Pangan Suluh Manuntung Samarinda, Adung Ks Utomo, menegaskan bahwa Kota Tepian memiliki peran strategis dalam mendukung cita-cita swasembada pangan di Benua Etam.
Baca juga: Brigade Pangan Samarinda Regenerasi Petani Kian Menipis
Ia melaporkan bahwa progres menuju swasembada menunjukkan kemajuan cukup baik berkat berbagai bantuan pemerintah.
“Bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah terkait alsintan (alat dan mesin pertanian), kapur, bibit, dan obat-obatan sudah kita terima semuanya,” ujarnya, Kamis (1/8/2026).
Lebih lanjut, di tahun ini, pihaknya masih menunggu pengadaan beberapa alsintan lagi seperti mesin combine dan drone yang masih belum terealisasi.
Brigade Pangan merupakan program Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas melalui penerapan teknologi modern sekaligus menarik minat generasi muda agar terjun ke sektor pertanian.
Adung menyebut saat ini anggota dalam Brigade Pangan yang ada di bawah kendalinya beranggotakan 15 orang.
Di Samarinda terdapat dua brigade, yakni Brigade Pangan Afnan Sejahtera di Kecamatan Sambutan dan Brigade Pangan Suluh Manuntung di Samarinda Utara.
Brigade Suluh Manuntung menargetkan pengelolaan 210 hektare lahan di Kelurahan Lempake, Tanah Merah, dan Sempaja Utara.
Saat ini varietas padi yang ditanam adalah Mekongga, dipilih karena kualitas rasa lebih baik dibanding Inpari 32, meski produktivitas Inpari lebih tinggi.
Adung menyoroti banjir dan irigasi sebagai kendala utama.
"Tantangan terbesar masih berasal dari faktor alam. Banjir yang terjadi masih sulit dikendalikan, sementara irigasi yang dibangun belum berfungsi secara optimal," ujarnya.
Di wilayah kelurahan Lempake khususnya Betapus, lanjut dia, Waduk Benanga saat ini tidak bisa berfungsi dengan baik untuk irigasi pertanian. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan.
Untuk pengairan, masih lebih banyak mengandalkan sawah tadah hujan dibandingkan dengan irigasi yang ada.
Hasil panen sepanjang 2025 masih standar, yakni rata-rata 3,5 hingga 4 ton per hektare. Tantangan lainnya adalah masalah pengadaan pupuk.
"Dari segi stok sebenarnya aman, namun masalahnya pada masa distribusi," jelasnya.
Baca juga: Pemuda Kaltim Berpeluang Raih Pengasilan Rp10 Juta per Bulan Lewat Program Cetak Sawah
Saat ini, sebut Adung, wilayah Samarinda Utara sedang memasuki masa tanam. Setelah tanam, padi seharusnya dipupuk pada usia 7 hingga 10 hari. Namun hingga saat ini pupuk belum turun.
Keterlambatan distribusi pupuk saat dibutuhkan berdampak pada produktivitas. Ketika pupuk tidak segera disebarkan sesuai jadwal, produktivitas padi akan mengalami penurunan.
Terkait dampak banjir sepanjang 2025, wilayah Betapus mengalami dua kali masa tanam dan dua kali gagal panen.
"Wilayah Betapus ini dua kali tanam, dua kali gagal. Yang kedua sempat panen, tapi produktivitasnya turun drastis," ujarnya.
Kerugian yang dialami cukup besar. Modal per hektare mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta, dikalikan puluhan hektare yang terendam.
Untuk antisipasi 2026, melalui program Brigade Pangan di wilayah Optimalisasi lahan telah dilakukan pembinaan irigasi, meskipun beberapa titik salurannya masih belum optimal.
Adung berharap persoalan ini terus menjadi bahan evaluasi bersama UPTD terkait, Dinas PUPR, maupun Balai Wilayah Sungai (BWS). Setiap insiden perlu dianalisis dan diberikan solusi kepada petani.
"Kalau terus bergantung pada alam, akan sulit mencapai swasembada pangan di wilayah kita sendiri," tegasnya.
Regenerasi petani masih menjadi persoalan krusial yang terus mencuat setiap tahun.
Di Kaltim, hamparan sawah kini didominasi petani berusia lanjut, sementara kehadiran petani usia produktif kian menipis.
Manager Brigade Pangan Suluh Manuntung Samarinda, Adung Ks Utomo menjelasan saat ini, sumber daya manusia untuk sektor pertanian menjadi salah satu masalah.
Dirinya yang memimpin brigade pangan sebagai program rintisan Kementrian Pertanian di wilayah Samarinda Utara menyebut saat ini kekurangan petani usia produktif.
"Yang ada saat ini (Petani) lebih banyak adalah usia-usia yang sudah di atas 50 tahun," ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Padahal, menurut Adung, Brigade Pangan yang dibentuk sejak 2024 itu untuk membuka ruang dan minat bagi generasi muda agar mau kembali mengelola lahan pertanian.
Tujuannya satu, untuk memperkokoh swasembada pangan secara nasional.
Program swasembada pangan yang dijalankan saat ini dinilai sudah cukup baik.
Bahkan, pada 7 Januari 2026 kemarin Presiden Prabowo mengumumkan Indonesia telah kembali mencapai swasembada pangan.
Baca juga: 13.900 Hektare Lahan Dioptimalisasi 2025, Pemprov Kaltim Fokus Lanjutkan Cetak 20.000 Sawah di 2026
Namun, kata adung, agar kemudian status tersebut tetap kokoh, implementasinya membutuhkan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak.
Dia mencontohkan pada musim panen ketiga tahun 2025 di Kalimantan Timur, hasil panen padi petani sempat tidak terserap oleh Bulog.
Situasi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap semangat petani, karena ketidakpastian penyerapan hasil panen akan memengaruhi keberlanjutan usaha tani.
"Yang diharapkan petani itu adalah kepastian harga, kepastian pasar," ucapnya.
Lebih lanjut, Adung menilai program pertanian yang digulirkan oleh Dinas Pertanian maupun Kementerian Pertanian sudah berjalan dengan baik di sisi hulu.
Namun, sektor pertanian tidak bisa hanya bertumpu pada produksi semata, melainkan harus diimbangi dengan penguatan di sisi hilir agar hasil panen dapat tersalurkan secara optimal.
"Yang kita utamakan kan sebenarnya di hilirnya juga, ketika hilirnya itu tidak bisa tersalurkan dengan baik, maka itu akan mempengaruhi semangat dari teman-teman pelaku," demikian Adung. (*)