Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejumlah nelayan di Kecamatan Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara belum berani melaut pada Kamis (8/1/2026) imbas cuaca ekstrem yang melanda perairan Manado beberapa hari lalu.
Diketahui Kota Manado dilanda cuaca ekstrem sejak 6-7 Januari 2026 kemarin.
Imbas dari cuaca buruk itu, nelayan belum berani ambil risiko melaut.
Terlebih menurut nalayan, angin kencang dan gelombang tinggi yang masih terjadi membuat mereka semakin tak berani untuk melaut.
Untuk memantau kondisi cuaca, para nelayan mulai memanfaatkan teknologi lewat aplikasi yang ada di smartphone.
Di mana, dari Aplikasi itu, bisa menjadi patokan bagi mereka tanpa perlu repot.
"Sekarang sudah ada aplikasi di HP, jadi memudahkan kami untuk melaut," ujar Jhon salah satu nelayan saat diwawancara di area MBW.
Ia menjelaskan, aplikasi yang mereka gunakan adalah untuk memprediksi arah angin serta gelombang yang terjadi di tengah laut.
Jhon menuturkan, kadang di area pesisir, tidak ada gelombang, namun begitu di tengah laut bisa, ombak bisa mencapai 4 meter.
"Begitu juga dengan arah angin, jadi lewat aplikasi, setidaknya kami sudah bisa mendapat gambaran dan ini cukup membantu," jelasnya.
Saat ini, Jhon dan sejumlah nelayan lainnya masih memantau kondisi cuaca dan menentukan kapan bisa kembali melaut.
Apalagi lewat aplikasi tersebut, bisa memprediksi angin dan gelombang hingga beberapa hari kedepan.
"Kita akan cek hingga malam, kalau sudah redah, subuh kita sudah berangkat cari ikan," pungkasnya.
BMKG Stasiun Maritim Bitung mengeluarkan potensi cuaca ekstrem untuk wilayah Sulawesi Utara (Sulut).
Secara khusus, adanya potensi angin kencang dan gelombang tinggi di Perairan Sulawesi Utara dan sekitarnya selang Rabu hingga Sabtu, 7-10 Januari 2026.
"Dalam beberapa hari ke depan akan terjadi angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Sulawesi Utara," kata Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Bitung, Ricky Daniel Aror, Rabu 7 Januari 2026.
Katanya, fenomena ini karena adanya fase Perigee (Jarak terdekat dari Bulan) sehingga meningkatkan ketinggian air laut pasang maksimum.
Adapun potensi kecepatan angin rata-rata tiga hari ke depan mencapai 8-20 knot yang bergerak dari arah barat laut.
"Secara umum tinggi gelombang signifikan di kisaran 1,25 meter hingga 2, 5 meter," ungkapnya.
Selain itu, ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di perairan Sulut.
Karena itu, BMKG Maritim mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut berhati-hati.
Secara khusus, kapal nelayan agar waspada untuk kecepatan angin 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter.
Sedangkan kapal tongkang, waspada dengan kecepatan 16 knot dengan tinggi gelombang lebih dari 1,5 meter.
"Masyarakat diimbau tetap waspada karena hujan dan angin dapat memicu potensi cuaca ekstrem," ujarnya lagi.
Bagi nelayan dan pengguna transportasi laut dapat memantau perkembangan cuaca maritim.
Masyarakat dapat mengakses informasi cuaca melalui Instagram BMKG Stasiun Maritim Bitung @infoBMKG dan @stamarbitung.
Boleh juga melalui website www.maritim.bmkg.go.id atau telp/SMS/WA 082143630438.
Kota Manado adalah ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kota Manado memiliki 11 kecamatan serta 87 kelurahan dan desa.
Manado terletak di Teluk Manado, dan dikelilingi oleh daerah pegunungan serta pesisir pantainya merupakan tanah reklamasi.
Kota ini memiliki 408.354 penduduk pada Sensus 2010, sehingga menjadikannya kota terbesar kedua di Pulau Sulawesi setelah Kota Makassar.
Jumlah penduduk di Manado diperkirakan (berdasarkan Januari 2014) adalah 430.790 jiwa[10] dan sebanyak 459.409 jiwa pada akhir tahun 2024, dengan kepadatan 2.800 jiwa/km2. (pet/ndo)