TRIBUNJAKARTA.COM - Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) mengecam aksi yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan sepihak, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Mereka juga menuntut Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengambil sikap tegas terkait dugaan penyulikan yang dinilai sewenang-wenang.
Korpus PTKIN, Miftahul Rizqi menyebutkan bahwa tindakan unilateral Amerika Serikat berpotensi melemahkan tatanan hukum internasional.
"Jika tindakan unilateral ini dibiarkan tanpa perlawanan intelektual dan diplomatik, maka hukum internasional secara de facto telah kehilangan taringnya," kata Miftahul dikutip, Jumat (9/1/2026).
"Ia berubah menjadi sekadar instrumen bagi yang kuat untuk menindas yang lemah, sebuah ‘hukum rimba’ versi modern yang dibalut dengan dasi dan diplomasi," sambungnya.
Rizqi juga menyoroti tindakan Amerika Serikat melalui pendekatan teori Neorealisme Ofensif yang dikemukakan John Mearsheimer, di mana negara adidaya dinilai selalu berupaya memaksimalkan kekuatannya demi mempertahankan dominasi global.
"AS bertindak bukan atas dasar moralitas atau hak asasi manusia, melainkan murni kalkulasi kekuasaan untuk mencegah munculnya kekuatan lain yang mengancam kepentingannya," kata dia.
Selain faktor geopolitik, Rizqi menilai terdapat kepentingan ekonomi besar di balik tekanan terhadap Venezuela, khususnya terkait cadangan minyak negara tersebut yang mencapai sekitar 300 miliar barel.
Dominasi energi global disebut menjadi salah satu motif utama intervensi Amerika Serikat.
Menurutnya, instabilitas di Venezuela juga berdampak sistemik terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga energi, beban subsidi, dan inflasi yang menekan daya beli masyarakat.
"Kami dari aliansi DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan premanisme global, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela," katanya.
DEMA PTKIN telah menggelar aksi solidaritas atas penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat (AS) di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada Kamis, 8 Januari 2025.
Sebagai simbol perlawanan, massa aksi juga melakukan pembakaran foto Presiden Amerika Serikat dan bendera Amerika Serikat saat orasi berlangsung.
Aksi unjuk rasa tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga selesai.
Dalam aksi itu, massa menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai bentuk premanisme global dan intimidasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Massa aksi membawa sejumlah perangkat dan akomodasi, di antaranya mobil komando, bus, sepeda motor, serta berbagai banner dan poster bernada protes.
Sementara itu dikutip dari Tribunnews.com Ibu Kota Venezuela, Caracas, yang biasanya ramai tampak sunyi mencekam pada Senin (6/1/2026), dua hari setelah Amerika Serikat menyerang kota itu dan menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Namun masih banyak warga Caracas tetap berani keluar untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya, meskipun dengan harga yang lebih mahal.
Suasana tegang di jalan-jalan Caracas merupakan pertanda lain dari ketidakpastian yang dihadapi warga Venezuela sehari-hari, saat mereka menghadapi ancaman intervensi AS yang semakin nyata.
Pemerintah setempat menyerukan agar aktivitas ekonomi terus berlanjut seperti hari biasanya di Venezuela.
Namun beberapa toko tetap tutup.
Sementara rumah tangga menimbun persediaan kebutuhan pokok sebagai antisipasi kekurangan.
Di pasar pusat Caracas, Quinta Crespo, banyak pemilik toko menutup usaha mereka karena takut akan kerusuhan dan penjarahan.
Antrean yang terdiri dari 10 orang atau lebih sering kali membentang di luar toko-toko yang tetap buka, meskipun terik matahari siang.
Petugas dari Kepolisian Nasional Bolivarian berpatroli di jalanan untuk menjaga agar antrean tetap tenang.
Para pembeli mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka membeli barang-barang yang tidak mudah rusak seperti tepung jagung, beras, dan makanan kalengan, sebagai antisipasi jika situasi keamanan di ibu kota memburuk.
“Saya mencari kebutuhan pokok, mengingat situasi yang sedang dialami negara ini,” kata Carlos Godoy, 45 tahun, yang tinggal di distrik Caricuao bagian barat Caracas.
“Kami menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. Kita semua dalam ketegangan, dalam ketidakpastian.”
Baca juga: AS Tangkap Presiden Venezuela, Perkumpulan Penggerak Muda: Ini Ancaman bagi Negara Berdaulat
Baca juga: Presiden JDF Asia Pasifik Tegaskan Serangan Militer AS ke Venezuela Mencederai Hukum Internasional
Baca juga: Eskalasi Terbaru: Amerika Latin Kiri di Bawah Tekanan Geopolitik Global