Oleh: Jimmi Sofyan, S.IP - Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Madya
KALAU kita bicara soal ekonomi desa, sering kali yang terbayang adalah sawah, ladang, pasar tradisional, atau warung kecil di pinggir jalan. Padahal, di balik semua itu, ada satu “mesin” penting yang diam-diam punya peran besar yaitu lembaga ekonomi desa yang salah satunya adalah koperasi desa. Dan ketika sebuah koperasi membawa nama “Merah Putih”, rasanya ada harapan lebih besar di dalamnya harapan tentang kemandirian, kebersamaan, dan masa depan desa yang lebih kuat.
Pertanyaannya, apakah koperasi desa seperti Koperasi Desa Merah Putih masih relevan di masa depan? Atau jangan-jangan koperasi hanya tinggal nama, sementara roda ekonomi sudah dikuasai toko modern, aplikasi digital, dan pemain besar lain?
Di tengah perubahan besar inilah koperasi desa punya peluang emas asalkan dikelola dengan cara yang tepat. Selama ini, banyak orang melihat koperasi hanya sebagai tempat simpan-pinjam. Datang, pinjam uang, cicil, selesai. Padahal koperasi itu jauh lebih dari itu. Koperasi desa adalah tempat warga saling bantu, tempat modal kecil disatukan, tempat hasil kerja bersama dikelola dengan adil.
Kalau diibaratkan, koperasi itu seperti dapur besar milik bersama. Semua orang bisa masak di situ, ikut belanja ke pasar bersama-sama, lalu hasil masakannya dinikmati bersama juga. Tidak ada yang merasa jadi tamu, karena semua adalah pemilik.
Koperasi Desa Merah Putih dengan nama yang begitu kuat sebenarnya bisa menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa. Bukan hanya soal dagang, tetapi soal kemandirian. Banyak koperasi desa di Indonesia yang tidak berjalan mulus. Ada yang mati suri, ada yang jalan setengah hati, ada juga yang tersandung masalah kepercayaan.
Tantangannya nyata:
* Manajemen masih tradisional
* Pencatatan keuangan belum rapi
* Anggota pasif
* Program tidak jelas arahnya
Belum lagi masalah klasik di antaranya minimnya literasi keuangan. Banyak anggota yang belum paham betul konsep koperasi. Akibatnya, koperasi hanya dianggap “ATM darurat”.
Masuk ke era digital, tantangannya makin besar. Dunia bergerak cepat, sementara koperasi sering tertinggal. Toko modern, marketplace online, hingga pinjaman digital berlomba-lomba masuk desa. Kalau koperasi tidak berbenah, sangat mungkin ia kalah bersaing.
Desa hari ini tidak sama dengan 20 tahun lalu. Internet masuk, anak muda desa makin cerdas, produk desa makin mudah dipasarkan. Pemerintah pun mulai serius bicara soal ekonomi kerakyatan. Dan di tengah semuanya itu, koperasi punya “jualan” yang tidak dimiliki perusahaan besar yaitu kebersamaan. Perusahaan mencari untung. Koperasi mencari manfaat untuk anggota. Perusahaan dimiliki segelintir orang. Koperasi dimiliki bersama. Karena itu, masa depan Koperasi Desa Merah Putih sebenarnya sangat cerah — kalau koperasi ini mampu:
Maka berbicara koperasi desa tidak boleh lagi puas sekadar jadi tempat simpan-pinjam. Ia harus naik kelas. Dengan mampu melakukan kegiatan usahanya yang produktif seperti mengelola hasil pertanian bukan hanya menjual gabah tetapi masuk ke pengolahan, menjadi pusat belanja warga — sehingga uang tetap berputar di desa, menjadi lembaga keuangan mikro yang profesional, menjadi penghubung UMKM desa dengan pasar yang lebih luas, menjadi pusat pelatihan ekonomi warga.
Kalau koperasi bisa masuk ke rantai produksi, nilai tambahnya akan jauh lebih besar. Petani tidak lagi sekadar menjual hasil panen mentah, tetapi juga mendapatkan keuntungan dari pengolahannya.
Selama ini koperasi identik dengan orang tua. Padahal, masa depan koperasi justru ada di tangan anak muda desa, dengan satu alasan yaitu lebih melek digital, lebih kreatif, dan punya energi besar. Bayangkan kalau anak muda yang ada di desa dilibatkan untuk mengelola media sosial koperasi, membuat marketplace produk desa, mengatur sistem digital koperasi, hingga membuat branding produk desa. Koperasi desa bisa terlihat lebih keren — bukan lagi sekadar kantor kecil dengan tumpukan buku besar.
Ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan yaitu kepercayaan. Koperasi bisa besar kalau dipercaya. Kalau sudah ada gosip uang tidak jelas, laporan tidak transparan, atau pengurus bermain dua kaki, habis sudah.
Maka, koperasi harus terbuka, rapi dalam laporan, rutin bermusyawarah, dan mengedepankan etika. Karena koperasi bukan milik pengurus. Koperasi milik anggota.
Koperasi inilah yang menjaga agar uang desa tetap berputar di desa. Ia memastikan hasil kerja keras warga tidak habis di tangan tengkulak atau perusahaan besar. Ia melindungi yang lemah, menguatkan yang kecil, dan mempersatukan warga dalam tujuan bersama.
Masa depan Koperasi Desa Merah Putih, menurut saya, ada di persimpangan. Bisa saja koperasi ini hanya berjalan biasa-biasa saja, tanpa perubahan berarti. Tetapi bisa juga ia berubah menjadi pusat ekonomi desa yang modern, kuat, transparan, dan inklusif.
Kuncinya ada pada keberanian berbenah, keseriusan mengelola, keterlibatan anggota, dan kesediaan membuka diri pada perubahan. Kalau semua itu bisa dilakukan, kita percaya koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, bukan hanya akan bertahan. Ia akan menjadi tulang punggung ekonomi desa, benteng kemandirian, dan bukti bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar bangsa ini. (*)