TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang berencana mengatur porsi makanan pelajar penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) kategori obesitas.
Pengaturan porsi makanan ini merupakan bagian dari upaya pengecahan penyakit pada anak.
Kepala Dinkes Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan, angka obesitas pada anak di Semarang cukup tinggi berdasarkan hasil cek kesehatan gratis (CKG) sepanjang 2025.
Bahkan, kasus obesitas pada anak yang menjalani screening mencapai hampir 30 persen.
Baca juga: Hindari Jalan Pantura Kaligawe Semarang, Mulai 10 Januari Hingga 10 Maret 2026 Ditinggikan
Padahal, katanya, obesitas berpotensi memicu penyakit tidak menular di masa depan.
"Yang paling banyak memang (berat badan) normal, alhamdulillah."
"Tapi, yang mungkin perlu perhatian adalah obesitas. Angka obesitas ini, baik dewasa ataupun anak-anak itu cakupannya hampir sekitar 30 persen. Ini jadi PR kita," kata Hakam, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, obesitas yang tidak ditangani sejak dini dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis.
Dalam lima tahun ke depan, kata dia, individu dengan obesitas berisiko mengalami prediabetes hingga diabetes.
Jika berlanjut tanpa intervensi, menurutnya, risiko penyakit berat seperti stroke dan gagal ginjal, semakin besar dalam 10 tahun berikutnya.
"Kalau tidak diintervensi lagi, jadinya apa? Stroke, gagal ginjal, dan lain sebagainya."
"Nah, hipertensi atau darah tinggi, tekanan darah tinggi, kemudian gula darah, ini juga perlu kita waspadai ya, selain obesitas tadi," paparnya.
Sebagai tindak lanjut, Hakam menyebut, Dinkes Kota menyiapkan langkah intervensi, terutama pada anak usia sekolah.
Dia menyebut, hasil skrining obesitas akan disampaikan kepada pihak sekolah sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut.
"Khusus, anak sekolah yang obesitas atau overweight, akan kami sampaikan ke kepala sekolah dan jajarannya agar bisa ditindaklanjuti," katanya.
Baca juga: Wanita yang Hilang di Hutan Gunungpati Semarang Ditemukan Selamat, 3 Hari tak Makan
Selain itu, jelasnya, Dinkes juga berencana mengolaborasikan hasil screening obesitas dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nantinya, siswa dengan kondisi obesitas akan mendapatkan penyesuaian porsi makan yang berbeda dibandingkan siswa dengan status gizi normal atau underweight.
"Nanti kami akan kolaborasikan dengan SPPG bahwa ini obes-obes nanti porsinya mungkin agak berbeda dengan siswa-siswa yang normal atau bahkan yang underweight, yang kurus dan sebagainya (juga mendapat porsi makan berbeda)," ungkapnya.
Pada orang dewasa, kata Hakam, hasil CKG juga menemukan kasus tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tinggi, selain kasus obesitas.
Untuk warga dengan hasil pemeriksaan abnormal, Dinkes menyebut tidak berhenti pada tahap screening.
"Yang sudah screening hasilnya abnormal itu dikejar, ditindaklanjuti oleh kawan-kawan puskesmas untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setiap bulan."
"Ada pemeriksaan gula darah setiap bulan, tekanan darah setiap bulan, dan lain sebagainya," kata Hakam. (*)