TRIBUNNEWS.COM - Dalam dunia kerja, pemecatan merupakan suatu momen yang paling dihindari dan sering kali terasa menyakitkan dalam hidup. Meja diberesin, tanda tangan surat pemecatan, kemudian pulang dengan pikiran kosong.
Tetapi, cerita berbeda terjadi di klub raksasa Liga Inggris, Manchester United. Pemecatan justru terasa seperti ‘ketiban durian runtuh’ alias mendapatkan rezeki yang sangat besar.
Hal itu terjadi pada Ruben Amorim, pelatih yang baru saja dipecat oleh Manchester United pada awal pekan kemarin. Pemecatan ini mengundang sejumlah perbedaan pendapat, entah itu dari para pengamat atau fans Setan Merah di seluruh dunia.
Namun pemecatan semacam ini bukanlah hal yang pantas dipandang secara sedih, meski memang kegagalannya melatih Manchester United adalah fakta. Tapi kisah yang berakhir dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) satu ini patutnya membuat kita iri.
Mari kita hitung santai, selayaknya ngobrol di warung kopi, bukan di ruangan HRD.
Amorim memang berstatus sebagai pelatih kontrak, namun nilai kesepakatan yang diteken bersama Manchester United menunjukkan kelasnya sebagai pelatih elite Eropa. Mengutip Sky Sports, gaji Amorim di Old Trafford mencapai 125 ribu poundsterling per pekan atau sebesar 6,5 juta poundsterling atau setara Rp146,8 miliar per musim.
Karena keputusan berasal dari manajemen klub, pelatih asal Portugal itu dengan kata lain dipecat. Yang artinya ia harus mendapat pesangon, atau, karena dia karyawan kontrak, Man United harus membayar sisa kontraknya yang harusnya berakhir pada Juni 2027 mendatang.
Dengan kata lain, saat dipecat pada Senin (5/1/2025) kemarin, berarti sang pelatih masih menyisakan sekitar 18 bulan dalam kontraknya bersama Man United. Tapi karena pihak klub memutuskan untuk memecat, mereka harus mentransfer uang kompensasi sekitar 9,75 juta poundsterling atau sekitar Rp220,23 miliar ke rekening Amorim.
Bagi banyak orang di Indonesia, membayangkan konversi poundsterling ke rupiah bukan hal yang mudah. Angkanya begitu besar sampai-sampai perlu bantuan kalkulator di ponsel, atau bahkan memiringkan layar agar deretan nolnya bisa tertampung.
Dengan uang kompensasi atau pesangon lebih dari Rp200 miliar, Amorim bisa hidup nyaman tanpa kerja hingga rambutnya memutih. Bahkan dia bisa kerja apa saja. Dengan gaji kecil pun, karena punya tabungan sebesar itu, ia tidak perlu lagi khawatir dengan kehidupan.
Itulah jurang realitas di dunia kerja jika kita berkaca pada kasus pemecatan Amorim. Karena pelatih juga merupakan profesional, yang mana dia bekerja pada suatu perusahaan (alias klub), yang jika ditarik benang merahnya, Amorim juga seorang karyawan.
Tapi karyawan yang satu ini, mendapatkan uang kompensasi yang lebih dari Rp200 miliar, ketika perusahaan memecatnya.
Sementara di luar sana, khususnya di Indonesia, jika karyawan mendapat penilaian buruk atau dinilai gagal, biasanya hanya pulang membawa surat PHK dan paklaring, dengan raut muka kebingungan atau pikiran kosong.
Maka, kalau ada yang bertanya ‘Apa rencana Amorim setelah dipecat Man United?’, jawab saja: Yuk kerja lagi, Amorim dipecat tapi dapat pesangon Rp200 miliar lebih, lho! Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau dengan saldo rekening sebesar itu!