Kesaksian Ghe Korban Selamat Banjir Siau Sitaro: Tangan Anak Terlepas Saat Rumah Roboh
January 09, 2026 09:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Banjir bandang yang melanda Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Minggu (4/1/2026) dini hari, meninggalkan duka mendalam bagi warga terdampak.

Jarak antara Manado Ibu Kota Sulawesi Utara ke Pulau Siau, Kepulauan Sitaro sekitar 156 kilometer.

Salah satu kisah paling memilukan datang dari Deiske Ghe Madundang, korban selamat yang harus kehilangan buah hatinya dalam peristiwa tersebut.

Ghe diketahui merupakan ibu dari Clayton Azriel Tatambihe (2).

Sang ibu berhasil selamat, sementara sang anak tidak tertolong dan ditemukan meninggal dunia tiga hari setelah kejadian oleh Tim SAR Gabungan.

Saat ini, Ghe masih menjalani perawatan intensif di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara. 

Jarak rumah sakit dari pelabuhan Manado, sekitar 7 km, dengan waktu tempu 22 menit dengan kendaraan bermotor lewat Jl. Sam Ratulangi dan Jl. Wolter Monginsidi.

Kepada Tribun Manado, Jumat (9/1/2026), Ghe menuturkan detik-detik mencekam yang ia alami saat banjir bandang menerjang rumahnya.

Saat kejadian, Ghe bersama anaknya dan kedua orang tuanya berada di rumah mereka di Desa Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan. 

Sedangkan sang suami saat itu tak berada dirumah karena sedang bekerja.

Hujan deras telah mengguyur sejak pukul 12 malam, disertai kondisi listrik yang padam sebelum peristiwa terjadi.

Sekitar pukul 02.30 Wita, Ghe dibangunkan oleh ayahnya.

“Papa bilang air so nae dari got, karena rumah di samping got,” tutur Ghe.

Ia sempat kembali tertidur, hingga mendengar suara seperti guntur, namun terdengar pelan. 

Ketika suara itu terdengar untuk kedua kalinya, Ghe langsung tersadar dan meraih anaknya untuk keluar dari kamar.

Di depan pintu kamar, sang ayah sudah menunggu dan berteriak agar mereka segera lari menyelamatkan diri.

Namun, saat pintu depan dibuka dan mereka hendak keluar, rumah tiba-tiba roboh diterjang banjir bandang.

Ghe dan anaknya sempat terhempas. 

"Saat itu, sang saya peluk dia dengan kuat, tapi saya sempat terkena benturan, kemudian pelukan saya terlepas," Katanya

Keduanya sempat terpisah, lalu kembali berpegangan tangan.

Kemudian benturan keras kedua menghantam kepala Ghe dan membuat pegangan itu kembali terlepas.

“Rumah saat itu sudah roboh,” kenangnya dengan suara lirih.

Ghe terseret cukup jauh oleh derasnya arus banjir, namun masih dalam keadaan sadar. 

Ia sempat berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan. "Saya teriak Tuhan tolong pa kita," ungkapnya.

Ia sempat terlempar akibat benturan dan terbawa arus ke sekitar rumah tetangga.

Ia sempat melihat seorang tetangga yang juga keluarganya kemudian langsung berteriak meminta tolong. 

‎"Saya teriak Mama Ni, tolong kita," teriaknya.

Ghe sempat memegang tangan terseut sebelum akhirnya memilih melepaskan karena takut orang yang menolongnya ikut terbawa banjir.

Ia kembali terseret hingga mencapai area tanah yang relatif rata. 

Dalam kondisi gelap gulita dan penuh kepanikan, Ghe nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Tak lama kemudian, ia melihat cahaya senter dari kejauhan. 

Ternyata itu adalah saudaranya, Faris. Ghe pun berteriak meminta pertolongan.

Saat Faris hendak mengangkatnya, namun Ghe merasa tubuhnya sangat berat. 

Barulah diketahui kaki kanannya mengalami patah tulang. 

Ia kemudian berusaha naik ke sebuah pohon untuk menyelamatkan diri. 

Di atas pohon tersebut sudah ada tantenya yang membantu Ghe naik.

Akibat kejadian itu, Ghe mengalami luka serius hampir di seluruh tubuhnya. 

Namun, ia belum langsung dibawa ke puskesmas karena kejadian terjadi pada dini hari. 

"Kami harus menunggu hingga pagi sebelum akhirnya dilarikan ke puskesmas terdekat," ungkapnya.

Setelah sempat dirawat di fasilitas kesehatan setempat dan rumah sakit terdekat, 

Di tengah perawatan, Ghe terus mencari keberadaan sang anak. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Ghe kemudian dirujuk ke RSUP Kandou Manado untuk penanganan lanjutan.

Baru tiga hari setelah kejadian, Clayton Azriel Tatambihe ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. 

Sang buah hati telah disemayamkan pada Kamis (8/1/2026).

Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi Ghe. Meski sangat terpukul, ia berusaha tetap tegar menghadapi kenyataan pahit tersebut.

“Ini hal yang sangat sulit dilupakan,” ujarnya singkat.

Saat ini ia masih berada di lokasi RSUP Kandou untuk mendapatkan perawatan.

Diketahui sang ayah juga dirujuk ke RS Kandou di ruangan Irina B. Sedangkan sang Ibu masih dalam perjalanan dari Siau ke Kota Manado.

Sang ibu juga menjadi pasien rujukan ke RSUP Kandou.

Baca juga: Sampah Plastik dan Sisa Makanan Sumbat Selokan Pasar 23 Maret Kotamobagu, Warga Keluhkan Bau Busuk

Total Korban

Sementara itu total ada 693 orang yang terdampak banjir bandang di tujuh kelurahan desa di empat kecamatan.

206 unit bangunan dilaporkan rusak. Dari jumlah tersebut 30 rumah dilaporkan hilang terbawa banjir. 52 rumah rusak berat. 29 rumah rusak sedang dan 89 lainnya rusak ringan. 

Sementara kantor pemerintahan dilaporkan satu yang alami kerusakan yakni Markas Polres Sitaro.

Selain itu kerusakan juga dialami satu unit bengkel, satu kios dan Tiga bangunan sekolah.

Tentang Pulau Siau 

Pulau Siau berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara. 

Dari Pelabuhan Manado ke Siau bisa ditempuh kurang lebih 5 jam naik kapal cepat.

Siau adalah satu dari 47 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro). 
Dari 47 pulau itu, hanya 10 pulau di antaranya berpenghuni. 

Total penduduk Kabupaten Sitaro sebanyak 70.528 jiwa. Terbanyak menghuni Pulau Siau. Disusul Pulau Tagulandang dan Biaro.

Ibu kota kabupaten berada di Siau. Gunung Api Karangetang dengan ketinggian 1.797 mdpl dan sangat aktif berada di pulau ini. 

Pulau Siau juga dikenal dengan komoditi unggulannya berupa Pala.

(TribunManado.co.id/Pet)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.