Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan industri modal ventura di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan menjelang akhir tahun lalu dengan laba bersih yang melonjak 150,98 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp579,77 miliar pada November 2025.
“Pertumbuhan laba ini antara lain didorong oleh peningkatan pendapatan dan perbaikan kualitas portofolio melalui strategi pembiayaan yang lebih selektif,” ucap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman di Jakarta, Jumat.
Selain laba bersih, ia menyatakan bahwa nilai pembiayaan industri modal ventura juga tumbuh positif sebesar 1,20 persen yoy pada November 2025 dengan nominal mencapai Rp16,29 triliun.
Ia menuturkan, saat ini penyaluran pembiayaan industri modal ventura masih terkonsentrasi pada beberapa sektor yang memiliki potensi dan kebutuhan pendanaan yang relatif stabil dengan fokus pada pembiayaan kegiatan ekonomi riil.
Terdapat lima sektor utama yang saat ini mendominasi portofolio pembiayaan modal ventura, dengan penyaluran terbesar adalah untuk sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor.
Sektor tersebut menyerap pembiayaan sebesar Rp7,63 triliun atau mendominasi 68,53 persen dari total penyaluran.
Di posisi kedua adalah sektor aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja, dengan nilai pembiayaan Rp726,62 miliar, atau memiliki porsi 6,52 persen.
Selanjutnya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berada di peringkat ketiga dengan nilai Rp519,43 miliar, atau 4,66 persen.
Peringkat keempat diisi oleh sektor aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, serta agen perjalanan dengan nilai Rp412,25 miliar atau 3,70 persen.
“Dan terakhir adalah di industri pengolahan dengan angka Rp410,78 miliar atau 3,69 persen,” kata Agusman.
Meskipun memiliki pertumbuhan laba dan pembiayaan yang baik, ia mengakui bahwa fenomena tech winter, atau perlambatan signifikan dalam industri teknologi, masih mempengaruhi industri modal ventura.
“Namun, dampaknya mulai lebih terkendali seiring dengan penyesuaian strategi investasi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan fokus pada usaha yang memiliki fundamental yang kuat dan berkelanjutan,” imbuh Agusman.







