BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Sehari setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau banjir di Kabupaten Balangan dan Kabupaten Banjar, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo turun langsung ke beberapa lokasi terdampak di Kalimantan Selatan, Jumat (9/1).
Dalam peninjauan, Dody menjelaskan persoalan banjir di Kalsel dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. “Air laut sedang pasang naik, sementara debit air sungai juga tinggi akibat hujan. Air di Sungai Martapura susah terdorong ke laut, ” ujarnya.
Namun dia menyatakan pemerintah tidak tinggal diam dan telah menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir tahunan ini. Di antaranya menyiapkan pembangunan Bendungan Riam Kiwa, yang sempat tertunda akibat kendala teknis dan administratif.
“Kemarin memang ada persoalan luar biasa, tapi sudah kami selesaikan di kuartal terakhir 2024. Mudah-mudahan tahun ini dimulai pekerjaan fisiknya,” ujar Dody saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Sungaitabuk, Banjar, yang didatangi Wapres pada Kamis (8/1).
Dia menargetkan pembangunan waduk dipercepat, dari estimasi tiga tahun menjadi dua tahun atau pada 2028, agar manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat. “Dengan adanya Bendungan Riam Kiwa, insya Allah sekitar 70 persen persoalan banjir di Sungaitabuk bisa tertangani,” jelasnya didampingi Kadis PUPR Kalsel Yasin Toyib dan Sekdaprovinsi Kalsel M Syarifudin.
Baca juga: Jalan Terendam Banjir, Jalur Kalumpang HSS ke Margasari Tapin Dialihkan
Syarifudin pun menyampaikan pembangunan Bendungan Riam Kiwa sudah beberapa kali dirapatkan termasuk membahas pembebasan lahan. Mudah-mudahan air tertampung dan insya Allah banjir tertanggulangi,” ujarnya.
Sementara ini banjir masih melanda 10 kecamatan di Banjar. Status tanggap darurat pun diperpanjang hingga Senin (12/1).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar, Wasis Nugraha, Jumat sore, merinci banjir merendam 124 desa. Tercatat 35.931 rumah terdampak, dengan 7.830 rumah terendam. “Jumlah kepala keluarga terdampak mencapai 48.815 dengan total 141.527 jiwa,” papar Wasis dalam laporan tertulisnya. BPBD juga mencatat 2.879 warga terpaksa mengungsi dan tersebar di berbagai titik pengungsian maupun rumah kerabat.
Dari pantauan Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan Selatan, kondisi Sungai Martapura masih berada pada status bahaya, sedangkan Bendung Karang Intan berada pada status waspada. Sementara Sungai Riam Kiwa dan Bendungan Riam Kanan terpantau dalam kondisi normal.
Banjir juga masih melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Baritokuala. Di Handil Bakti, Kecamatan Alalak, air merendam jalan utama, Jumat.
Genangan tampak dari depan halte bus SDN Handil Bakti hingga ke arah Jembatan Sei Alalak, tepat di depan Alfamart. Gelombang dan gemercik air pun berpadu dengan deru mesin kendaraan bermotor. Ketinggian air mencapai mesin sepeda motor sehingga sejumlah pengendara memilih melintas di dekat median yang lebih tinggi. Sedangkan truk besar menciptakan gelombang besar hingga menyebabkan air masuk rumah dan toko warga.
“Kalau malam sekitar jam sembilan biasanya naik lagi. Apalagi kalau hujan deras, debit air bisa sampai lutut,” ujar Madani, warga setempat.
Oleh karena halaman terendam, SDN Handil Bakti menerapkan Belajar dari Rumah (BDR). Jumat pagi. Suasana sekolah pun tampak hening. Para guru yang hadir menyiapkan materi pembelajaran jarak jauh.
“Kami sejak Senin (5/1)melaksanakan BDR. Sebenarnya ruang kelas aman, tetapi halaman terendam,” ujar Guru Kelas, Muhammad Ilmi.
Kawasan permukiman peserta didik yang terendam juga menjadi pertimbangan BDR. “Banyak siswa kami yang rumahnya di Semangat Dalam dan sekitarnya juga terendam. Jalan tenggelam sulit dilalui, kasihan anak-anak,” jelas Ilmi.
Air juga menggenang di Jalan Sungai Dua, Handil Bakti. Puluhan permukiman terkepung banjir. Akses jalan nyaris tak bisa dilewati sepeda motor hingga warga terpaksa berjalan kaki dengan menyingsingkan kain hingga lutut. Sebagian warga bahkan menggunakan sampan melalui aliran sungai menuju pasar Semangat Dalam.
“Ini sudah sekitar lima hari. Setiap tahun memang, tapi ini tertinggi sejak banjir 2021. Kemungkinan ini sampai Februari,” ujar Fitri, warga sekitar.
Sejumlah warga memilih memarkir sepeda motor di jembatan. “Kalau malam, jembatan penuh kendaraan karena air semakin naik. Memang tidak bisa lewat, kalau dipaksakan motor mati,” ujar Fitri.
Berbeda dengan warga terdampak pada umumnya, masyarakat setempat lebih mengharapkan perbaikan akses dibanding sekadar bantuan sembako. Pengerukan dasar sungai, perbaikan selokan dan penimbunan jalan menjadi harapan utama agar permukiman dan akses jalan terbebas dari banjir. “Harapannya kepada bupati agar sungai didalami,” harap Fitri. (lis/sai)