TRIBUNTRENDS.COM - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan kuliner tradisional yang tak terhitung jumlahnya.
Setiap daerah memiliki makanan khas yang bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan nilai simbolis yang diwariskan lintas generasi.
Di tanah Jawa, khususnya wilayah Solo dan sekitarnya, makanan memiliki peran yang melampaui fungsi dasar sebagai pengisi perut.
Kuliner kerap menjadi media penyampai pesan, doa, dan harapan dalam berbagai ritus kehidupan.
Salah satu yang paling lekat dengan tradisi adat Jawa, terutama dalam prosesi lamaran dan pernikahan, adalah kehadiran jadah dan wajik.
Bagi masyarakat Solo, jadah dan wajik bukan sekadar hidangan pelengkap acara.
Keduanya dipercaya menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang ikatan batin, kebersamaan, serta harapan akan keharmonisan dalam membangun rumah tangga.
Tak heran jika dua kudapan ini hampir selalu hadir dalam momen-momen sakral.
Baca juga: 5 Rekomendasi Serabi Enak di Solo, Cocok untuk Oleh-oleh, Notosuman Ada 3 Pilihan, Mulai Rp 3 Ribu
Jadah merupakan makanan tradisional yang dibuat dari beras ketan yang dikukus hingga matang, lalu dipadatkan sebelum disajikan bersama kelapa parut yang telah diberi sedikit garam.
Teksturnya yang kenyal dan lengket menjadi ciri khas utama.
Dalam bahasa Jawa, kata jadah sendiri bermakna pasta, merujuk pada sifatnya yang melekat saat disantap.
Sementara itu, wajik juga berbahan dasar beras ketan, namun dimasak dengan tambahan gula merah dan santan.
Proses ini menghasilkan cita rasa manis legit dengan tekstur lengket atau pliket yang serupa dengan jadah.
Perpaduan rasa dan tekstur inilah yang membuat wajik kerap diidentikkan dengan kehangatan dan manisnya kehidupan.
Sejak masa lampau, masyarakat Jawa dikenal sangat dekat dengan berbagai ritual kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.
Dalam setiap prosesi tersebut, sesaji memegang peranan penting sebagai simbol penghormatan dan doa.
Makanan yang disajikan pun bukan pilihan sembarangan, melainkan telah melalui proses pemaknaan yang panjang.
Hal ini diperkuat oleh jurnal Inventarisasi Makanan Tradisional Jawa Unsur Sesaji di Pasar-Pasar Tradisional Kabupaten Bantul karya Endang Nurhayati dan tim dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa jadah dan wajik hampir selalu hadir sebagai bagian dari sesaji makanan, menegaskan posisinya yang kuat dalam tradisi dan budaya Jawa.
Dalam prosesi lamaran dan pernikahan adat Jawa, khususnya di Solo, jadah dan wajik memiliki makna simbolis yang kuat, yakni gawe raket atau merekatkan hubungan.
Tekstur jadah dan wajik yang lengket dijadikan lambang eratnya ikatan antara dua keluarga yang akan berbesanan.
Filosofi ini berangkat dari sifat dasar beras ketan yang pliket, lengket dan sulit dipisahkan.
Orang Jawa menggambarkan hubungan ini dengan ungkapan pindha renggang kinepyur pulut, yang berarti hubungan yang awalnya berjarak menjadi rapat karena adanya perekat.
Perekat itu dianalogikan sebagai pulut atau ketan.
Dengan demikian, kehadiran jadah dan wajik dalam prosesi lamaran bukan sekadar suguhan, melainkan doa simbolik agar hubungan kedua keluarga terjalin akrab, rukun, dan saling menyatu.
Baca juga: Coffee Shop jadi Destinasi Wisata Baru di Solo, Harga Biji Kopi Naik, Wamen UMKM akan Beri Bantuan
Tak hanya untuk keluarga, jadah dan wajik juga menyimpan pesan moral bagi kedua calon pengantin.
Beras ketan yang lengket diharapkan menjadi pengingat agar hubungan suami istri kelak selalu erat, saling melekat, dan tidak mudah tercerai-berai oleh konflik.
Selain itu, proses pembuatan jadah dan wajik yang memerlukan waktu lama serta kesabaran tinggi juga mengandung makna filosofis.
Rumah tangga tidak dibangun secara instan.
Diperlukan ketelatenan, kesabaran, dan keikhlasan untuk menghadapinya.
Para sesepuh Jawa percaya, melalui simbol makanan ini, pengantin diajarkan untuk tidak mudah menyerah, tetap berkepala dingin, saling mengalah, dan saling mendukung dalam menghadapi ujian kehidupan rumah tangga.
Dari sudut pandang sejarah, jadah dan wajik mencerminkan kehidupan masyarakat agraris Jawa yang sangat bergantung pada hasil pertanian lokal seperti beras ketan dan kelapa.
Makanan ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat desa yang memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Secara sosial, tradisi membuat jadah dan wajik dalam jumlah besar untuk acara adat menunjukkan nilai gotong royong dan kebersamaan.
Proses memasaknya sering dilakukan bersama-sama oleh keluarga dan tetangga, memperkuat ikatan sosial di lingkungan masyarakat.
Dari sisi ekonomi, jadah dan wajik dulu menjadi bagian dari ekonomi rumah tangga.
Kini, seiring berkembangnya pariwisata, makanan ini juga menjadi komoditas ekonomi dan oleh-oleh khas daerah, seperti di kawasan Tawangmangu yang terkenal dengan jadah bakar.
Seiring perkembangan zaman, jadah dan wajik mengalami inovasi.
Kini muncul berbagai varian rasa dan penyajian modern, mulai dari jadah isi cokelat, keju, hingga buah-buahan.
Meski tampil lebih kekinian, makna filosofisnya tetap melekat.
Bagi masyarakat Solo, keberlanjutan tradisi ini menjadi kabar baik.
Artinya, jadah dan wajik tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai simbol budaya yang masih hidup dan relevan.
(TribunTrends/TribunSolo)