Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anak terlihat aktif dan makan cukup, namun kerap mengalami sembelit, perut kembung, atau mudah lelah?
Kondisi ini sering dianggap masalah kecil, padahal bisa menjadi sinyal bahwa kesehatan saluran cerna anak belum optimal.
Baca juga: 3 Cara Mengatasi Sembelit Akibat Kebanyakan Makan Daging Merah, Asupan Air Putih Harus Cukup
Di tengah maraknya pembahasan gizi anak di media sosial, ada satu aspek penting yang justru kerap terlewat, yakni keragaman makanan.
Bukan sekadar soal porsi atau jadwal makan, melainkan variasi pangan yang masuk ke tubuh anak setiap hari.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, menyebut bahwa isu keberagaman pangan masih sering terlupakan dalam pola makan anak.
“Selama ini mungkin kita sudah banyak didengarkan mengenai kesehatan tidak sempurna, tidak hidup tidak makanan, tetapi ada yang sering dilupakan, terutama untuk asupan anak-anak, yaitu keragaman pangan,” ujar Diana pada talkshow yang diselenggarakan Danone bertema Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Keragaman pangan bukan hanya soal mengganti menu agar anak tidak bosan.
Di balik itu, terdapat peran penting dalam menjaga kesehatan saluran cerna, yang menjadi pintu utama penyerapan zat gizi.
Menurut Diana, dari keragaman pangan inilah anak mendapatkan berbagai zat gizi esensial yang tidak hanya berdampak pada pencernaan.
Tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, fokus utama tetap pada peran saluran cerna sebagai pusat metabolisme.
“Kenapa keragaman tangan bisa berpengaruh kepada kesehatan saluran cerna? Karena di dalam keragaman tangan ini, kita akan dapat mendapatkan asupan serat pangan,” jelasnya.
Serat pangan menjadi komponen krusial karena berhubungan langsung dengan kondisi mikrobiota usus.
Semakin beragam jenis makanan, semakin besar peluang anak memperoleh serat dalam jumlah dan jenis yang cukup.
Saluran cerna manusia adalah ekosistem yang dihuni oleh triliunan bakteri.
Ada bakteri baik yang mendukung kesehatan, dan ada pula bakteri jahat yang dapat memicu gangguan pencernaan.
Serat pangan, terutama serat larut, berfungsi sebagai sumber energi utama bagi bakteri baik.
Ketika asupan serat mencukupi, bakteri baik akan tumbuh lebih dominan dan membantu menjaga keseimbangan di dalam usus.
Diana menjelaskan bahwa dominasi bakteri baik akan membuat proses pencernaan dan metabolisme zat gizi berjalan lebih optimal.
“Kalau saluran cerna ini sehat, maka zat-zat isi dapat ter-metabolisme atau ter-cerna dengan baik. Sehingga pada akhirnya zat-zat isi juga dapat terabsorusi dengan baik atau diserap dengan baik,” katanya.
Penyerapan zat gizi yang maksimal inilah yang pada akhirnya menentukan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh, mulai dari pertumbuhan fisik hingga daya tahan tubuh.
Kesehatan saluran cerna tidak berdiri sendiri. Saat usus bekerja optimal, tubuh anak mampu memanfaatkan zat gizi secara efektif.
Hal ini berpengaruh langsung pada pertumbuhan, perkembangan kognitif, serta energi anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, Diana menekankan bahwa keberagaman pangan harus berjalan beriringan dengan prinsip gizi seimbang.
Keduanya menjadi kunci utama dalam membangun fondasi kesehatan anak sejak dini.
Penerapan gizi seimbang sebenarnya telah lama disosialisasikan melalui panduan visual seperti konsep “piring makan”, termasuk untuk anak-anak. Namun, tantangan di lapangan masih besar.
Kesadaran keluarga menjadi tantangan pertama.
Dalam banyak kasus, ibu masih memegang peran sentral dalam menentukan pola makan anak, meski dukungan ayah sangat dibutuhkan agar penerapan gizi seimbang berjalan konsisten.
Selain itu, faktor ekonomi, aksesibilitas pangan, serta kesibukan orang tua kerap menjadi hambatan dalam menyediakan makanan yang beragam setiap hari.
Padahal, Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan variasi menu tanpa harus mahal.
Pada akhirnya, membangun kesehatan pencernaan anak bukan tentang satu jenis makanan tertentu, melainkan kebiasaan makan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan.
Dari usus yang sehat, anak mendapatkan “modal dasar” untuk tumbuh optimal dan menjalani masa kanak-kanak dengan kualitas hidup yang lebih baik.