Opini: Lokusi Jan Hendrik Rapar
January 10, 2026 08:19 AM

Oleh:  Bernardus Tube Beding
Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di sela-sela menyelesaikan tugas akademik, saya dihampiri oleh seorang mahasiswa Prodi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng. 

“Bapa, kami ada tugas logika meringkas materi perkuliahan,” ungkapnya membuka percakapan kami. 

“Yah, bagus itu. Tugas yang membantu peningkatan daya pikir dan kritis,” saya merespons. 

Mahasiswa itu pun merespons balik, “Saya sedang belajar bagaimana membangun daya berpikir lurus dan sistematis, Bapa.” 

Di akhir perbincangan, saya menganjurkan dia membaca buku karya Jan Hendrik Rapar berjudul Pengantar Logika: Asas-Asas Penalaran Sistematis. 

Baca juga: Opini: Melawan Wabah Brain Rot dan Dehumanisasi Digital

Buku ini memang termasuk terbitan lama tahun 1996 oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta. 

Bukunya tergolong tipis, tidak sampai 100 halaman. Tentu tidak sedikit orang yang sudah “mengunyah” isi buku ini, meresensinya, bahkan menjadikan referensi. 

Isi buku ini hemat saya sangat membantu siapa pun, termasuk mahasiswa dalam memahami proses berpikir lurus dan sistematis. 

Proses Berpikir

Kerja pikiran manusia seumpama proses mendaki gunung. Pencapaian di puncak yang memungkinkan menerangi banyak hal di sekitar, sehingga memampukan kita untuk melihat, mengenal, dan menilai secara kritis, akurat dan tepat, perlu ada suatu proses pendakian dalam pikiran kita. 

Pendakian gunung memerlukan suatu proses “tiba dan menuju” dari satu puncak ke puncak lain yang lebih tinggi, bahkan sampai yang paling tinggi. 

Untuk dapat mencapai puncak tertinggi, kita harus tekun, teliti, sabar, serta memiliki tekad, serta pikiran jernih dan lurus. Salah arah dan sesat jalan merupakan pengalaman yang tidak menguntungkan. 

Pikiran kita bersifat dinamis. Ia selalu bergerak menuju satu tujuan, yaitu kebenaran. Dengan kata lain, kebenaran adalah puncak ideal dari pikiran. 

Selain pikiran, kita juga dianugerahi emosi yang memengaruhi cara pikir kita. 

Pengaruh tersebut sungguh besar, terutama kalau kita sudah dihadapkan pada persoalan-persoalan dan realitas-realitas yang sangat kompleks. 

Tidak mustahil, nilai kebenaran pun akan terpengaruh. Bahkan bisa jadi kita menjadi “sulit” menemukan kebenaran. 

Menepiskan emosi seutuhnya dari cara berpikir kita tentu saja tidak bisa, sebab keduanya memang hadir bersama untuk saling melengkapi. 

Lokusi Jan Hendrik Rapar

Untuk membantu proses berpikir baik, benar, dan sistematis, Jan Hendrik Rapar (1996) menawarkan suatu lokusi dalam bukunya Pengantar Logika: Asas-Asas Penalaran Sistematis. 

Lokusi Raper membantu kita untuk berani berpikir objektif, kritis, lurus, tepat, metodis, koheren, dan rasional. 

Dalam bukunya tersebut, Rapar “berkata” atau bertindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dapat kita pahami secara baik. 

Langkah penalaran lokusi yang disampaiakan Rapar dengan berbagai ketentuan, tahap-tahap, dan hukum-hukum, menuntut kita untuk berpikir logis. 

Rapar menawarkan lokusi pemikirannya bahwa metode untuk mencari kebenaran adalah logika. 

Rapar mendefinisikan logika secara etimologis sebagai istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata logos yang berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran) atau ungkapan lewat bahasa (hal.9). 

Selanjutnya, logika diartikan sebagai suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. 

Jelas, pikiran tidak dapat terlepas dari kata yang memiliki lokusi dan Bahasa Bahasa uang memiliki ilokusi. 

Kita memikirkan sesuatu, karena ada lokusi kata dan ilokusi bahasa dalam pikiran kita. 

Satu sisi, kita tidak mungkin dapat dikatakan “tahu tentang sesuatu”, apabila kita tidak dapat mengungkapkan sesuatu itu dengan kata-kata dan bahasa. 

Bab kedua Rapar menegaskan bahwa bahasa merupakan alat berpikir atau bernalar, dan tanda mengungkapkan hasil pikiran. Rapar cukup konsisten dengan pernytataan tersebut. 

Ia selalu mencantumkan secara lengkap lokusi etimologi dari setiap kata atau ungkapan pokok dalam bahasanya. 

Hal ini sederhana, namun tentu saja sangat membantu kita memahami materi yang disampaikan secara lokutif beserta batasan-batasan yang perlu diperhatikan dan dipahami secara ilokutif. 

Rapar juga memaparkan secara ringkas landasan-landasan pokok penalaran yang lain, serta proses-proses penalaran dan isi penalaran menuju “kebenaran yang valid”. 

Bagian akhir buku ini, Rapar memberi lokusi tentang “sesat pikir” sebagai kekeliruan penalaran yang disebabkan oleh kesalahan proses maupun isi penalaran sendiri. 

Secara ilokutif implisit, Rapar menyarankan agar kita memperhatikan bahasa, kaidah-kaidah dalam logika, dan materi pemikiran, sehingga sejauh mungkin dapat menghindarkan kita dari sesat pikir. 

Perlu disadari pula bahwa logika merupakan ilmu pengetahuan sekaligus kecakapan berpikir tepat dan teratur, sehingga kita harus menerapkan logika ke dalam segi praktis. 

Belum ada jaminan bahwa orang yang telah menguasai logika dapat dengan mudah, atau secara otomatis menggapai kebenaran pikiran. 

Bentuk-bentuk latihan analisis pikiran juga baik sekali dilakukan. Itu juga merupakan salah satu usaha guna membuat pikiran kita menjadi semakin “luwes”, tidak sekadar teoretis. 

Usaha ke arah itu rupanya kurang ditekankan dalam buku ini. Inilah yang menjadi titik lemah buku milik Rapar ini. 

Akhirnya, Jan Hendrik Rapar menawarkan suatu bentuk proses menuju “kebenaran ilmiah”, bahkan Aristoteles juga menyatakan bahwa logika merupakan jalan masuk berbagai disiplin ilmu. 

Mereka yang berminat untuk meningkatkan kemampuan pikirnya dengan berpikir rasional, kritis, lurus, sistematis, cermat, dan objektif, sebaiknya tidak melewati buku ini. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.