Sosok Driver Ojol yang Dipeluk Nadiem Makarim Sambil Menangis di Sidang Kasus Korupsi Chromebook
January 10, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id - Suasana Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026), mendadak berubah hening.

Bukan karena palu hakim, melainkan karena emosi yang tak lagi bisa disembunyikan oleh mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim.

Sekitar pukul 15.55 WIB, Nadiem melangkah keluar dari ruang sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.

Kemeja cokelat dan rompi merah khas tahanan Kejaksaan membingkai tubuhnya, warna yang kontras dengan ekspresi wajah yang tampak lelah dan rapuh.

Di tengah pengawalan ketat, ia bergerak menuju mobil tahanan hijau tua, melewati kerumunan orang yang berusaha menyapanya.

“Dim…”: Panggilan Lama yang Menghentikan Langkah

Di tengah lintasan hukum yang terasa dingin, sebuah suara memecah jarak.

Dari arah luar pagar, seorang pria berjaket hijau khas pengemudi ojek online dengan logo Gojek memanggil dengan nada bergetar.

“Nadiem… Nadiem… Dim.”

Panggilan akrab itu membuat langkah Nadiem terhenti.

Ia menoleh, seolah mencoba memastikan sumber suara yang membawanya kembali ke masa lain. Sesaat kemudian, keduanya saling mendekat dan berpelukan erat.

Kepala mereka saling bersandar. Tak ada kata-kata. Yang tersisa hanya isak yang tak tertahan.

Dilansir SURYA.co.id dari pantauan Tribunnews, dari ekspresi wajah Nadiem (yang tertangkap kamera) terlihat kesedihan bercampur haru, seolah beban panjang menemukan celah untuk tumpah.

Beberapa detik kemudian, dengan mata masih basah, Nadiem melepaskan pelukan itu.

Ia menangkupkan kedua tangan di dada, memberi gestur namaste, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil tahanan.

Sahabat dari Masa Ketika Gojek Masih Sekadar Ide

Pria yang memeluk Nadiem itu diketahui bernama Mulyono (58), seorang pengemudi ojek online.

Bagi publik, ia mungkin hanya satu dari ribuan driver. 

Namun bagi Nadiem, Mulyono adalah saksi awal sebuah perjalanan.

Mulyono mengaku mengenal Nadiem sejak masa-masa paling awal Gojek berdiri.

“Karena saya ini merintis dari awal di Gojek dengan beliau (Nadiem Makarim). Kebetulan kenal dengan Nadiem ini ketika dia datang ke pangkalan,” ungkap Mulyono kepada Tribunnews.com, Kamis.

Momen eks Mendikbudristek Nadiem Makarim saat tiba di Gedung Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025)
Momen eks Mendikbudristek Nadiem Makarim saat tiba di Gedung Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025) (Tribunnews.com/Fahmi Ramadhan)

Hubungan itu, kata Mulyono, bukan hubungan hierarkis antara pendiri dan mitra, melainkan pertemanan yang tumbuh dari kesulitan bersama.

“Jadi saya itu punya histori tersendiri dengan Nadiem. Kita dulu merintis bareng-bareng, betapa susahnya dulu kita awal-awal Gojek di 2010. Makanya sedih saya kalau lihat Nadiem begini,” katanya.

“Orangnya Tidak Pernah Berubah”

Di mata Mulyono, jabatan menteri tak pernah mengubah cara Nadiem bersikap.

“(Nadiem) selalu ingat (Mulyono). Pastilah. Karena sampai saat ini saya juga masih di ojol. Dari 2010 saya kenal beliau. Orangnya sangat sederhana pola hidupnya, sampai saat ini,” jelasnya.
Ia menyebut komunikasi mereka tetap terjaga, meski Nadiem telah berada di lingkaran kekuasaan negara.

“Dia menjadi menteri pun tidak pernah melupakan saya, biar kata hanya WhatsApp, japri menanyakan kabar, itu yang saya kenal dari beliau sampai saat ini,” sambungnya.

Air Mata yang Bukan Sekadar Kesedihan

Mulyono mengaku tidak terkejut melihat Nadiem menangis. Menurutnya, setiap pertemuan mereka hampir selalu diwarnai emosi.

“Dia setiap lihat saya pasti nangis. Karena ya 15 tahun lah saya kenal beliau yang menurut saya cukup akrab,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, Mulyono menyampaikan harapan yang sederhana, namun sarat makna.

“Harapan saya itu (Nadiem bebas). Mungkin harapan semua teman-teman ojol, karena kalau enggak ada Nadiem, mungkin enggak ada ojol.”

Nadiem Makarim Jalani Sidang Lanjutan

Nadiem Makarim menjalani sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikburistek 2019-202, ruang sidang Hatta Ali, Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Sidang kali ini beragenda pembacaan tanggapan atas nota keberatan atau eksepsi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Nadiem Makarim didakwa merugikan keuangan negara Rp 2,1 triliun.

Perhitungan kerugian negara Rp 2,1 triliun ini berasal dari angka kemahalan harga Chromebook sebesar Rp 1.567.888.662.716,74 (1,5 triliun) dan pengadaan Chrome Device Management (CDM) yang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat sebesar Rp 621.387.678.730 (621 miliar).

Dalam pengadaan Chromebook jaksa menyebut Nadiem memperkaya diri sendiri sebesar Rp 809 miliar.

Atas perbuatannya Nadiem Makarim didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Dalam bantahannya, Nadiem mengaku kekayaannya menyusut.

Ia mengaku pada tahun 2022 kekayaannya menyentuh Rp 4,8 triliun dan di tahun 2024 kekayaannya menurun menjadi Rp 600 miliar.

"Selama 5 tahun mengabdi sebagai menteri justru kekayaan saya menyusut. Hilanglah kesempatan saya untuk mendapatkan saham tambahan yang diberikan kepada para pimpinan Gojek setelah saya keluar. Hilanglah gaji besar saya," kata Nadiem saat membacakan eksepsi dalam sidang pada 5 Januari 2026.

Nadiem pun menyinggung dakwaan yang menyebut dirinya memperkaya diri Rp 809 miliar.

Hal itu disebutnya atas dasar LHKPN pada tahun 2022 yang mencatat adanya perolehan harta jenis surat berharga sebesar Rp 5,5 triliun. 

"Dakwaan ini sangat membingungkan bagi saya. Pertama saya bingung karena di satu bagian dakwaan yang menyebut saya menerima aliran dana, dan di bagian lain dakwaan yang disebut sebagai bukti memperkaya diri adalah peningkatan surat berharga. Apakah tuduhannya saya menerima uang atau menerima surat berharga? Bingung saya," kata Nadiem.

Lanjut dia, dakwaan jaksa menjadi tidak cermat karena tidak menjelaskan secara lengkap sumber dari kekayaannya, yang dengan sangat mudah bisa didapatkan dari pelaporan pajak.

"Kekayaan saya hanya ada satu sumber utama, yaitu nilai saham saya di PT AKAB. Peningkatan surat berharga di LHKPN 2022 murni disebabkan harga saham GoTo yang melambung saat IPO ke kisaran harga Rp 250-300 per saham," kata Nadiem.

Diterangkannya kekayaannya tercatat di 2022 sebesar Rp 4,8 triliun.

Pada 2023, saat kisaran harga saham GoTo drop ke sekitar Rp 100, total kekayaannya pun turun drastis ke Rp 906 miliar. 

"Di tahun 2024, dimana kisaran harga GoTo drop lagi ke Rp 70-80 per saham, kekayaan saya turun lagi ke Rp 600 miliar. Siapapun dengan kalkulator bisa menghitung kekayaan saya, karena bertumpu kepada satu angka saja harga saham GoTo yang terbuka untuk publik," ucap Nadiem.

Nadiem mengatakan dakwaan terhadap dirinya tidak menjelaskan apa hubungannya transaksi Rp 809 miliar dengan laporan kekayaannya.

"Karena memang faktanya tidak ada hubungan. Sekali lagi, dakwaan ini tidak jelas dan cermat karena tidak memuat kausalitas antara satu fakta dan fakta lainnya," ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.