SURYA.co.id - Nama Rizki Juniansyah mendadak melampaui arena angkat besi.
Lifter muda kelahiran Serang, 17 Juni 2003 itu kini dibicarakan bukan hanya karena kekuatan angkatannya, tetapi karena lonjakan karier militer yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.
Yakni kenaikan pangkat luar biasa dua tingkat sekaligus.
Dari Letnan Dua (Letda) langsung ke Kapten, sebuah lompatan yang, bagi banyak prajurit, biasanya ditempuh lewat rentang waktu panjang dan tahapan ketat.
Keputusan ini pun segera memantik diskusi luas: apakah ini pengecualian, atau justru penanda arah baru?
Kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) itu diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam acara penyerahan bonus atlet SEA Games 2025 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Momen pengumuman itu menegaskan satu hal penting, yakni negara hadir secara langsung dalam memberi penghargaan, bukan hanya pada prajurit yang berjasa di medan tempur, tetapi juga mereka yang mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.
Keputusan tersebut diambil setelah Rizki meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor dunia di SEA Games 2025 Thailand, prestasi yang menempatkan Merah Putih di puncak podium Asia Tenggara.
Persetujuan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto atas KPLB ini menandai sebuah perubahan pendekatan: prestasi non-tempur kini tak lagi diposisikan sebagai capaian pinggiran.
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi, menilai keputusan tersebut memang tidak lazim jika diukur dengan pola pembinaan karier TNI sebelum 2025.
Namun, menurut Fahmi, Rizki tidak sedang berdiri di atas aturan lama.
“Namun, kasus Rizki Juniansyah berada dalam konteks regulasi yang benar-benar baru,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa sejak terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2025 pada Agustus 2025, negara secara sadar membuka ruang penghargaan yang lebih luas bagi prajurit dengan jasa luar biasa, termasuk di luar operasi militer.
“Dalam pengertian ini, Rizki Juniansyah sangat mungkin menjadi prajurit pertama yang menikmati implementasi konkret dari regulasi baru tersebut,” kata Fahmi.
Dengan kata lain, Rizki bukan anomali, melainkan kasus perdana.
“Jadi, jika pertanyaannya ‘pernah atau tidak sebelumnya’, jawabannya: dalam kerangka hukum lama bisa dibilang tidak ada, tetapi dalam kerangka hukum baru, justru ini menjadi contoh awal penerapannya,” lanjutnya.
Fahmi menegaskan bahwa kenaikan pangkat dua tingkat yang diterima Rizki tidak melanggar aturan dan memiliki dasar hukum yang jelas.
Landasan tersebut tertuang dalam Pasal 48 ayat (3) PP Nomor 35 Tahun 2025, yang mengatur bahwa prajurit dengan jasa luar biasa bagi TNI dan/atau negara dapat diberikan kenaikan pangkat percepatan atau bentuk penghargaan lain.
“Yang penting dipahami, ketentuan dalam PP ini tidak membatasi makna jasa hanya pada konteks pertempuran atau operasi militer,” jelas Fahmi.
“Melainkan juga mencakup prestasi non-tempur, seperti olahraga internasional yang mengharumkan nama bangsa.”
Ia menambahkan, aturan tersebut juga tidak secara eksplisit membatasi jumlah tingkat kenaikan pangkat untuk kategori jasa non-tempur.
Selain itu, Pasal 48 ayat (4) memberi kewenangan teknis kepada Panglima TNI untuk menilai dan menetapkan mekanismenya.
“Kebijakan ini bersifat selektif dan melalui penilaian berlapis, bukan otomatis,” tegas Fahmi.
Bagi Fahmi, kasus Rizki Juniansyah mencerminkan pergeseran penting dalam tubuh TNI.
“Menurut saya, kenaikan pangkat yang diterima Rizki Juniansyah tidak melanggar aturan dan justru merupakan implementasi progresif dari PP Nomor 35 Tahun 2025,” ujarnya.
“Ini mencerminkan pergeseran penting dalam pembinaan SDM TNI: dari pendekatan yang kaku dan cenderung berbasis senioritas, menuju sistem meritokrasi yang menghargai prestasi nyata, baik di medan operasi maupun di panggung internasional seperti olahraga dunia,” pungkasnya.
Rizki Juniansyah lahir di Serang, Banten, pada 17 Juni 2003.
Di usia 22 tahun, ia telah menjadi salah satu lifter muda paling berprestasi di Indonesia.
Bakat angkat besinya sudah terlihat sejak kecil.
Dilansir dari Kompas.com, Rizki Juniansyah sendiri lahir dari orang tua yang merupakan atlet angkat besi.
Sang ayah, Mohammad Yasin, merupakan mantan atlet angkat besi nasional.
Sementara ibunya, Yeni Rohaeni Durachim, juga seorang lifter asal Banten.
Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, Rizki mulai berlatih di sasana milik ayahnya.
Dari situ, prestasinya berkembang melalui berbagai ajang seperti PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar), Popda, Porprov, hingga PON.
Performa luar biasanya membuat karier Rizki melesat pesat dan menempatkannya sebagai salah satu lifter muda yang menjanjikan di Indonesia.
Perjalanan internasional Rizki Juniansyah dimulai dengan kemenangan besar di Kejuaraan Dunia Junior 2021 di Uzbekistan, di mana ia meraih medali emas.
Di tahun yang sama, ia juga menyapu bersih tiga medali emas di Islamic Solidarity Games 2021 di Turkiye.
Prestasinya berlanjut di SEA Games 2021 Vietnam dengan medali perak, lalu emas kembali di Kejuaraan Dunia Junior 2022 di Yunani, disertai rekor dunia angkatan snatch untuk kategori junior.
Pada Kejuaraan Dunia 2022 di Bogota, Kolombia, Rizki menorehkan satu emas di snatch dan dua perak di clean & jerk serta total angkatan.
Di SEA Games 2023 Kamboja, ia meraih emas sekaligus memecahkan tiga rekor SEA Games.
Dominasi Rizki di Asia berlanjut di Kejuaraan Asia 2024 Uzbekistan dengan raihan perak, dan tak lama kemudian ia memastikan tiket ke Olimpiade Paris 2024 usai menjuarai Piala Dunia Angkat Besi di Phuket, Thailand, dengan total 365 kg —memecahkan rekor dunia milik lifter China, Shi Zhiyong.
Di Olimpiade Paris 2024, Rizki tampil luar biasa.
Ia menyabet medali emas di kelas 73 kilogram dengan total angkatan 354 kg, serta memecahkan rekor Olimpiade di clean and jerk.
Capaian ini menjadikannya lifter Indonesia pertama yang meraih emas Olimpiade.
Rincian Daftar Prestasi Rizki Juniansyah
Senior
Medali emas IWF World Cup 2024
Medali perak Kejuaraan Asia Tashkent 2024
Medali emas SEA Games 2023 Kamboja
Medali perak Kejuaraan Dunia Bogota 2023
Medali perak SEA Games 2021 Vietnam
Medali emas Islamic Solidarity Games 2021
Medali emas PON Papua 2021
Junior
Medali emas Kejuaraan Dunia Junior Heraklion 2022
Medali emas Kejuaraan Asia Junior 2022 Tashkent
Medali emas Kejuaraan Dunia Junior Tashkent 2021
Kejuaraan Asia Remaja Pyongyang 2019.