SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Bencana banjir akibat luapan Sungai Belitang merendam sedikitnya 1.108 rumah warga di sembilan desa wilayah Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur, serta melumpuhkan total akses transportasi pada jalan lintas provinsi menuju pintu tol.
Luapan air yang dipicu tingginya intensitas hujan selama beberapa hari terakhir ini menyebabkan aktivitas ribuan warga terhenti dan memutus jalur t yang kini tidak dapat melintas.
“Dapat kami laporkan, untuk zona lintas menuju tol terputus dan masih tidak bisa dilalui truk,” ujar suara perekam di dalam video seperti dilihat Sripoku.com, Sabtu (10/1/2026).
Namun meski begitu banjir di OKU Timur khususnya di Belitang II ini tidak merata.
Baca juga: 1.037 Rumah di Semendawai Suku III OKU Timur Terendam Banjir, Sungai Macak & Sungai Belitang Meluap
Di beberapa desa, air mulai menunjukkan tanda-tanda surut, sementara di desa lainnya justru mengalami peningkatan debit air.
Video lain yang beredar memperlihatkan situasi di Desa Taraman Jaya yang mulai surut, namun berbeda dengan Desa Kelirejo yang justru kian terendam.
“Untuk Desa Taraman Jaya air sedikit menurun, tetapi di Desa Kelirejo debit air mulai meningkat. Sehingga jalan di Kampung 1 dan Kampung 2 lumpuh total dan tidak bisa dilalui,” ujar seorang pria berbaju kuning dalam video tersebut.
Camat Belitang II, M. Suyandi, SE, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi merupakan dampak langsung dari luapan Sungai Belitang akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, hujan deras yang terus mengguyur menyebabkan debit air sungai meningkat drastis hingga melampaui kapasitas tampungan.
“Curah hujan yang tinggi beberapa hari kemarin membuat Sungai Belitang meluap. Air keluar dari badan sungai dan menggenangi permukiman warga serta area persawahan,” ujar Suyandi, Sabtu (10/1/2026).
Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa banjir yang melanda wilayahnya berdampak luas terhadap permukiman warga. Berdasarkan pendataan sementara di lapangan, sedikitnya 1.108 rumah di sembilan desa terdampak genangan akibat luapan Sungai Belitang.
Secara rinci, Suyandi menjelaskan bahwa Desa Bangun Rejo menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak paling banyak, mencapai 287 rumah, disusul Desa Kelirejo sebanyak 270 rumah, serta Desa Batu Mas dengan 226 rumah. Sementara itu, Desa Ramanjaya tercatat 241 rumah warga terdampak banjir.
Adapun desa lainnya yang juga mengalami dampak, meski dengan jumlah lebih sedikit, yakni Desa Kemuning Jaya sebanyak 39 rumah, Desa Tegal Besar 25 rumah, Desa Tanjung Kemuning 8 rumah, Desa Sumber Makmur 7 rumah, serta Desa Sumber Harapan 5 rumah.
“Total sementara rumah warga yang terdampak banjir di Kecamatan Belitang II mencapai 1.108 rumah yang tersebar di sembilan desa,” ujar M. Suyandi.
Ia menambahkan, pendataan masih terus dilakukan seiring dengan kondisi air yang di beberapa titik belum sepenuhnya surut.
"Pemerintah kecamatan bersama instansi terkait terus memantau perkembangan banjir serta memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi," bebernya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten OKU Timur, Ir. Bambang Irawan, S.T., M.M., M.T., memastikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa akibat bencana banjir tersebut.
“Banjir dipicu oleh hujan deras yang turun sejak malam hari. Dari hasil pemantauan di lapangan, kami pastikan tidak ada korban jiwa,” ujar Bambang.
Namun demikian, ia mengakui genangan air masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di daerah bantaran sungai. Di Kecamatan Belitang II, Desa Batu Mas masih tergenang air akibat luapan Sungai Belitang. Sementara di Kecamatan Semendawai Suku III, Desa Margodadi dan Desa Margorejo juga mengalami kondisi serupa.
“Di beberapa titik, terutama di bantaran saluran pembuang dan Sungai Macak, air masih menggenang dan belum sepenuhnya surut,” jelasnya.
Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten OKU Timur telah mendirikan posko kesehatan, dapur umum, serta tenda logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak banjir.
Mobil rantis dan perahu karet juga dikerahkan untuk membantu mobilitas warga dan proses evakuasi di lokasi-lokasi yang akses jalannya masih terputus akibat genangan air.
“Selain penanganan di lapangan, saat ini kami juga masih melakukan pengemasan bantuan logistik untuk segera disalurkan kepada masyarakat terdampak,” pungkas Bambang.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi banjir sembari mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat potensi hujan susulan masih dapat terjadi dan memperlambat proses surutnya air.