TRIBUNNEWS.COM – Final Piala Super Spanyol 2026 antara Real Madrid dan Barcelona bukan sekadar duel perebutan trofi. Laga ini juga menjadi panggung pembuktian awal bagi Xabi Alonso sebagai pelatih baru Los Blancos.
Pertandingan bertajuk El Clasico tersebut akan digelar di King Abdullah Sport City Stadium, Jeddah, Arab Saudi pada Senin (12/1/2026) pukul 02.00 WIB.
Real Madrid memburu gelar perdana di era Alonso, sekaligus berupaya mematahkan dominasi Barcelona yang musim lalu tampil superior di kompetisi domestik.
Bek Madrid, Dani Carvajal, menegaskan bahwa kemenangan di laga ini akan menjadi penentu penting arah perjalanan Alonso bersama klub.
“Besok adalah hari penting bagi kami; kami ingin membawa pulang gelar ini. Secara pribadi, penting juga bagi saya untuk menyamai Luka Modric sebagai pemain dengan gelar terbanyak dalam sejarah klub,” kata Carvajal, dikutip dari Football Espana.
Menjelang laga puncak, suasana panas sudah terasa di luar lapangan. Presiden Barcelona, Joan Laporta, hadir langsung dalam acara jamuan penyambutan. Sementara Real Madrid diwakili oleh legenda klub Emilio Butragueno.
Laporta lebih dulu memuji Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) atas keberhasilan penyelenggaraan Piala Super Spanyol di Arab Saudi.
“Sejak dimainkan di Arab Saudi dan menggunakan format final four, turnamen ini mendapatkan prestise serta pengakuan internasional,” kata Laporta, dikutip dari Mundo Deportivo.
Ia pun mengapresiasi kinerja RFEF dan presidennya, Rafael Louzan, atas suksesnya penyelenggaraan turnamen.
Baca juga: El Clasico di Final Piala Super Spanyol, Harapan Pemain Barcelona Terwujud, Mbappe Comeback
Namun, nada Laporta berubah ketika membahas hubungan Barcelona dengan Real Madrid.
“Hubungan dengan Real Madrid sangat buruk dan saat ini memang rusak. Hubungan itu selalu bisa diperbaiki, tetapi sekarang situasinya memang seperti ini,” tegasnya.
Hubungan kedua klub raksasa Spanyol itu memburuk setelah Barcelona menarik diri dari proyek Liga Super Eropa dan memilih berpihak kepada UEFA, RFEF, serta La Liga.
Keputusan tersebut membuat Real Madrid merasa dikhianati, mengingat Florentino Perez merupakan sosok utama di balik proyek Liga Super.
Situasi semakin panas ketika Perez secara terbuka menyerang Barcelona terkait dugaan keterlibatan klub dalam kasus Negreira pada akhir tahun lalu. Sejak saat itu, hubungan kedua klub praktis berada di titik terendah.
Laporta pun menilai bahwa Real Madrid kini berusaha meniru kesuksesan Barcelona musim lalu.
“Real Madrid ingin mengulang apa yang kami alami tahun lalu, yaitu musim yang bersejarah. Dan untuk itu, mereka harus memulainya dengan memenangkan Piala Super Spanyol,” ucap Laporta.
Pernyataan tersebut menjadi sindiran halus sekaligus tekanan psikologis jelang final.
Bagi Real Madrid, kemenangan bukan hanya soal trofi, tetapi juga soal harga diri dan pembuktian proyek baru di bawah Xabi Alonso.
Sementara bagi Barcelona, final ini menjadi kesempatan untuk kembali menegaskan dominasi atas rival abadinya.
Sejauh ini Barcelona merupakan tim pengoleksi trofi Piala Super Spanyol terbanyak 15 kali, berbanding 12 milik Real Madrid.
Final Piala Super Spanyol pun dipastikan bukan hanya pertarungan di atas lapangan, tetapi juga adu gengsi dua kekuatan terbesar sepak bola Spanyol.
(Tribunnews.com/Ali)