TRIBUNNEWS.COM – Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti siswa kelas 10 SMA halaman 178 membahas nilai keteladanan dari sebuah kisah.
Kisah yang dibahas berjudul 'Menekuni Al Quran sebagai Wujud Cinta kepada Allah Swt".
Para siswa diminta mengerjakan soal yang berkaitan dengan makna dari tamsil Isra Miraj Rasulullah Saw pada bagian Aktivitas 7.3 buku PAI dan Budi Pekerti.
Buku pelajaran PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Kurikulum Merdeka merupakan karangan Ahmad Taufik dan Nurwastuti Setyowati terbitan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2017.
Berikut Tribunnews sajikan kunci jawaban buku PAI dan Budi Pekerti kelas 10 halaman 178 "Aktivitas 7.3".
Baca juga: Kunci Jawaban PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Halaman 165: Aktivitas 6.11 Pergaulan Bebas dan Zina
Menekuni Al-Qur'an sebagai Wujud Cinta Kepada Allah Swt.
K.H. M. Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) adalah putra dari K.H. Abdullah Rosyad bin K.H. Basri. Ilmu Al-Qur'an diperoleh dari ayahnya sendiri, kemudian mendalaminya di Makkah dan Medinah melalui Syaikh Abudllah Sanqara, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Yusuf Hajar, dan beberapa syaikh lainnya. Selama 21 tahun belajar di Makkah dan Medinah, beliau kembali ke Kauman, Yogyakarta pada tahun 1909 M. Selain ahli qira'at sab'ah (tujuh bacaan Al-Qur'an), beliau juga mendalami ilmu lain melalui K.H. Abdullah (Kanggotan, Bantul, Yogyakarta), K.H. Kholil (Bangkalan, Madura, dan K.H. Shalih (Darat, Semarang). Dikisahkan saat baru berusia 10 tahun, beliau belajar kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Suatu ketika saat akan shalat berjamaah, K.H. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat, sambil berkata: "Seharusnya yang berhak menjadi imam adalah anak ini (sambil menunjuk K.H. M. Munawwir), meskipun masih usia belia, tetapi ahli qiraat."
Sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., beliau menekuni Al-Qur'an dengan usaha yang amat gigih, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, kemudian sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, kemudian sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan membaca Al-Qur'an selama 40 hari berturut-turut.
Beliau selalu menunaikan shalat fardu pada awal waktu diiringi dengan shalat sunah rawatib. Secara rutin setiap setelah ashar dan subuh selalui mewiridkan Al-Qur'an, yakni pada hari Kamis Sore. Hal ini rutin beliau lakukan sejak usia 15 tahun.
Di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta K.H. M. Munawwir fokus mengajarkan Al-Qur'an kepada santri. Mereka sangat menghormati beliau karena memiliki kewibawaan akhlak dan ilmu yang sangat tinggi. Di antara murid-murid beliau yang meneruskan perjuangan pengajaran A-Qur'an adalah K.H. Arwani Amin (Kudus, Jawa Tengah), K.H. Badawi (Kendal, Jawa Tengah), Kyai Zuhdi (Nganjuk, Jawa Timur), K.H. Muntaha (Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah), K.H. Murtadla (Buntet, Cirebon, Jawa Barat), K.H. Hasbullah (Wonokromo, Yogyakarta).
Beliau wafat pada hari Jum'at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M, dimakamkan di pemakaman Dongkelan, sekitar 2 km, dari kompleks pesantren Krapyak. Karena banyaknya orang yang bertakziyah, bertindak sebagai imam shalat jenazah secara bergiliran adalah K.H. Manshur (Popongan, Solo, Jawa Tengah), K.H. R. Asnawi (Kudus, Jawa Tengah), dan K.H. Ma'shum (Rembang, Jawa Tengah).
Baca juga: Kunci Jawaban IPS Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 123: Analisa Dampak Peristiwa
1. Cinta yang Mendalam kepada Allah Swt.
K.H. M. Munawwir menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada Allah Swt. dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat hidupnya. Menekuni, membaca, dan mengajarkan Al-Qur’an dilakukan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah.
2. Ketekunan dan Kesungguhan dalam Menuntut Ilmu
Beliau belajar Al-Qur’an sejak kecil dan rela menuntut ilmu hingga ke Makkah dan Madinah selama 21 tahun. Hal ini menunjukkan sikap tekun, sabar, dan tidak mudah menyerah dalam mencari ilmu.
3. Disiplin dan Istikamah
Kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan target yang berat serta rutin wirid Al-Qur’an setelah Subuh dan Asar sejak usia muda mencerminkan disiplin tinggi dan konsistensi (istikamah) dalam ibadah.
4. Menghargai Ilmu dan Guru
Beliau belajar kepada banyak ulama besar dan selalu merendahkan diri meskipun ilmunya sangat tinggi. Ini menunjukkan adab kepada guru dan penghormatan terhadap sanad keilmuan.
5. Akhlak Mulia dan Kewibawaan
Para santri sangat menghormati beliau karena akhlaknya yang luhur, bukan karena paksaan. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang diamalkan dengan akhlak mulia akan melahirkan kewibawaan sejati.
6. Tanggung Jawab dalam Menyebarkan Ilmu
K.H. M. Munawwir tidak hanya berilmu, tetapi juga fokus mengajarkan Al-Qur’an kepada santri di Pondok Pesantren Krapyak. Hal ini mencerminkan tanggung jawab moral untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat.
7. Kerendahan Hati
Meskipun diakui sebagai ahli qira’at sejak usia muda, beliau tetap rendah hati dan terus belajar. Ini menjadi teladan agar tidak sombong terhadap kemampuan yang dimiliki.
8. Keteladanan dalam Ibadah
Beliau selalu melaksanakan shalat fardu di awal waktu disertai shalat sunah rawatib, menunjukkan ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah agama.
Kesimpulan
K.H. M. Munawwir adalah teladan ulama yang mencintai Allah Swt. melalui Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan, kedisiplinan, akhlak mulia, dan keikhlasan. Nilai-nilai keteladanannya mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, berakhlak mulia, istiqamah dalam ibadah, serta bertanggung jawab menyebarkan kebaikan kepada sesama.
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 119, Kegiatan 2 Musikalisasi Puisi
Disclaimer:
(Tribunnews.com/Oktavia WW)