Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pembatalan gelombang serangan militer kedua terhadap Venezuela usai menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Meskipun melunak soal serangan, namun Trump telah memulai langkah awal untuk menguasai minyak mentah Venezuela dengan mengumpulkan 17 eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih untuk mendorong investasi kembali ke Venezuela.
Pada Jumat (10/1/2026) Trump menjelaskan alasan pihaknya batal melakukan serangan lanjutan karena pemerintah sementara Venezuela menyetujui kemajuan positif dalam hubungan bilateral yang baru terbentuk.
Adapun kerjasama yang dimaksud salah satunya pembebasan sejumlah besar tahanan politik oleh otoritas Venezuela.
Trump menyebut langkah itu sebagai “tanda penting dan cerdas” dan sebagai upaya Venezuela “mencari perdamaian.”
Trump menilai pembebasan tahanan mencakup tokoh oposisi dan aktivis hak asasi, menunjukkan kesediaan pemerintah transisi Venezuela untuk meredakan ketegangan dan membuka jalur kerja sama dengan Washington.
Selain itu, Trump menekankan bahwa AS dan Venezuela kini bekerja sama secara efektif, terutama dalam hal rekonstruksi infrastruktur minyak dan gas negara itu.
Adapun serangan serangan militer skala besar Amerika Serikat terhadap Venezuela dilakukan pada Sabtu (3/1/2025) dan berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores.
Maduro dan istrinya didakwa atas konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, serta pelanggaran senjata.
Saksikan LIVE UPDATE lengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!