Perempuan Memikul Beban Ganda: Nafkah, Utang, dan Kesehatan
TRIBUN-TIMUR.COM, BANTAENG - Sebelum ada smelter, SW mengelola lahan rumput laut milik keluarga di Bantaeng. Meski hidup sederhana tapi cukup. Dari rumput laut, SW memperoleh sekitar Rp3 juta per bulan. Suaminya bekerja mencetak batu merah dengan penghasilan kisaran Rp1 jutaan per bulan. Mereka hidup tanpa utang bank.
Namun sejak smelter mulai beroperasi pada 2019, semuanya berubah drastis. SW mengaku hasil panen rumput laut menurun, hingga akhirnya lahan dijual. Usaha batu merah milik keluarga tempat suaminya bekerja pun terhenti karena air tanah berkurang dan sumur mengering.
Suami SW sempat bekerja di smelter PT Huadi Nickel-Alloy dengan gaji Rp6-7 juta per bulan sejak 2021. Saat itu kehidupan keluarga membaik, mereka mengambil pinjaman bank dan membeli mobil baru. Namun pada pertengahan 2025, suaminya di-PHK.
Belakangan suaminya sering sakit dan tak lagi bisa mencari pekerjaan berat. Kini suaminya lebih banyak berdiam di rumah, berharap ada panggilan lagi.
Penghasilan hilang meninggalkan utang bank menumpuk hingga Rp10 juta, dengan cicilan Rp2,5 juta per bulan. Mobil yang dibeli SW akhirnya dijual untuk membayar cicilan.
“Kami kehilangan lahan rumput laut, kehilangan pekerjaan, polusi, penyakit, dan utang,” kata SW.
Dari Petani ke Buruh Ikat
Apa yang dialami SW juga dialami warga Desa Papan Loe lainnya. Dua mata pencaharian utama mereka, petani rumput laut dan usaha cetak batu merah, kini nyaris lenyap.
Desa Papan Loe berada di Kecamatan Pa’jukukang. Kecamatan seluas 48,90 km⊃2; ini dikenal penghasil rumput laut, memiliki empat blok zona lahan, dengan 274 petani rumput laut.
Salah satunya L (52) dan suaminya I (53), warga Balla Tinggia, Desa Papan Loe. Ia memiliki lokasi di Dusun Panoang, Desa Baruga, dengan luas are 62, panjang bentang 30 meter, dan jumlah 960 bentang.
Lokasinya berada di blok 1. Lahan tersebut kemudian dijual ke perusahaan karena sudah tidak bisa lagi digunakan. Harapan I bisa dipekerjakan di perusahaan setelah tak lagi menggarap rumput laut tak terwujud.
L (52) mengenang janji yang pernah ia dengar dari perusahaan smelter itu. “Umur tak jadi soal, asal tenaga masih kuat.” Ucapannya mengalir pelan saat ditemui jurnalis tribun-timur.com, 14 November 2025, di halaman rumah ibunya. Di sekelilingnya, lima perempuan duduk melingkar, salah satunya sang ibu yang menua. Setengah jam lagi azan Zuhur berkumandang, tapi tangan perempuan ini tetap sibuk merajut tali rumput laut, demi membantu suami mencari nafkah.
Dulu, saat masih menanam rumput laut pada 2002, hidupnya berkecukupan. L pertama kali membeli bibit di Jeneponto bersama warga lainnya di desa itu. Dari 2002 hingga 2016, hasilnya melimpah. “Paling sedikit bisa mendapat Rp10-20 juta bersih per panen,” ujar L.
Puncaknya pada 2008, ia meraih keuntungan hingga Rp80 juta. Kini setelah tak lagi punya usaha rumput laut, suaminya akhirnya kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga, kadang jadi sopir pete-pete, kadang sopir truk galian C. Penghasilan tak menentu kadang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Dengan penghasilan suami yang tak menentu, L merasa bebannya semakin berat. Ia harus memutar otak agar uang seadanya bisa cukup untuk membeli beras, lauk, hingga membayar listrik. Kadang hanya Rp40 ribu, Rp50 ribu, atau sesekali Rp100 ribu. Tak ada sisa untuk ditabung. “Dipaksa cukup,” ujarnya lirih.
Untuk menambah penghasilan, L terpaksa jadi buruh ikat rumput laut. Upah Rp2.500 per bentang. Jika mampu mengikat 10 bentang, ia mendapat Rp25 ribu per hari. Jika hanya 5 bentang, Rp12.500, hanya cukup untuk 1 liter beras.
“Daripada tidak ada sama sekali,” ujarnya. Jari-jari L tetap fokus pada tali rumput laut itu.
Merantau ke Kolaka, Sulawesi Tenggara, pernah jadi pilihan L dan suaminya. Sebidang tanah yang sempat mereka beli ditanami cokelat dan cengkeh. Hasilnya tak menentu, kadang hanya cukup untuk ongkos kapal dan jajan cucu. Saat panen gagal, jalan pulang ke Papan Loe menanti, kembali jadi buruh ikat rumput laut dan kerja serabutan.
Hidup L dan I kini tanpa tabungan. L masih ingat masa lalu, saat dapur selalu berasap tiga kali sehari, ada uang tersisa, bahkan bisa berbagi dengan tetangga. Kini, makan dua kali sehari pun sulit. Saat sakit, obat warung jadi satu-satunya harapan.
Baca juga: Nestapa Perempuan Bantaeng di Lingkar Smelter
Ibu, Istri, Buruh: Perempuan Memikul Semua
Kisah hampir sama juga dialami K (26) yang tinggal di Dusun Kayu Loe Desa Papan Loe. turut merasakan dampak besar dari kehadiran smelter, bahkan saat perusahaan itu tak lagi beroperasi.
Beban yang dipikul K juga berlipat, bukan hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga pencari nafkah, pengatur keuangan, dan penjaga kesehatan keluarga. Segala keputusan kecil, mulai dari uang jajan, biaya listrik, hingga obat anak bertumpu di pikirannya.
Setiap pagi, K memulai hari lebih awal. Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, ia memasak, mencuci, menyapu. Tak ada istilah me time seperti yang sering disebut orang sekarang meluangkan waktu untuk diri sendiri. Ia harus bekerja demi membantu suami memenuhi kebutuhan hidup. Ibarat kata, ia berjuang demi memastikan dapur tetap mengepul.
Menjadi buruh ikat rumput laut adalah pilihan terakhir. Pekerjaan itu paling dekat dengan dirinya, mengingat dulu ia dan suaminya, S (25), punya lahan rumput laut di blok 2, Dusun Kayu Loe. Lahan warisan orang tuanya seluas 27 are, dengan panjang bentang 30 meter dan jumlah 240 bentang, dulu bisa menghasilkan Rp4-5 juta setiap 40 hari. Cukup untuk hidup, bahkan bisa ditabung.
Kini lahan itu juga dijual seharga Rp9 juta. Sebagai kompensasi, S sempat bekerja di PT Huadi Wushou Nickel Industry pada 2021, namun di-PHK pertengahan 2025. Seperti kata pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Lahan hilang, pekerjaan pun lenyap.
Suaminya sudah jadi petani rumput laut sejak kecil, usia 11 tahun, kelas 6 SD. Ia berhenti sekolah karena orang tua sakit-sakitan. Dari sana, ia menjadi petani rumput laut yang andal. Sebelum smelter hadir, ia bisa menghasilkan Rp5 juta per bulan.
K yang selalu mendampingi, mengikat, menjemur, dan merawat rumput laut hingga panen. Pekerjaan itu tak berat dan jika hasil panen kurang bagus tidak perlu khawatir karena lahan milik sendiri. Kini, setelah suami di-PHK, rutinitasnya berubah.
“Jam 8 pergi mengikat rumput laut, sampai Dzuhur pulang dulu, habis sholat Dzuhur pergi lagi,” kata K di rumahnya, 12 November 2025, ba’da isya.
Upahnya Rp25 ribu per hari. Jika dua hari penuh bekerja, ia menerima Rp50 ribu. Uang itu tidak pernah cukup, apalagi sejak anaknya semakin besar dan sering sakit.
“Kalau ada belanjaannya anak, disimpan mi. Kasih Rp5 ribu, Rp10 ribu, selebihnya untuk besok,” ujarnya.
Duduk terlalu lama saat mengikat rumput laut sering membuat perut K sakit. Namun tak ada pilihan lain, ia harus tetap bekerja agar bisa ikut menopang ekonomi keluarga.
Suaminya, S, kini bekerja serabutan. Kadang membuat perahu, kadang memancing, kadang jadi buruh bangunan.
Sebagai penggemar balap perahu, laut dulu adalah dunianya. Hidup mereka sempat lebih tenang saat S bekerja di Huadi. Gaji tetap dan BPJS Kesehatan memberi rasa aman, terutama saat anak sakit. Tapi itu hanya sesaat. Kini jaminan itu hilang.
“Kalau sakit, periksa di praktek (dokter) Rp35 ribu, kadang Rp40 ribu,” kata K. “Paracetamol Rp1.500. Beli dua biji,” tambahnya.
Suaminya sempat berpikir merantau. Namun K menolak dengan halus. “Kalau jauh, tidak dilihat mi keluarga kalau sakit,” katanya sambil melirik anaknya.
Hidup makin berat, sementara tak ada lagi sumber penghasilan tetap. Upah Rp25 ribu dipakai beli mie instan untuk lauk makan malam.
“Kalau boleh memilih, mending tetap kerja rumput laut. Risikonya kecil, saya bisa lihat suami dan pantau anak. Sekarang makin berat,” ujarnya.
Harapannya kini sederhana, bisa membeli lahan baru meski jauh, agar hidup tak terlalu berisiko dibanding suami harus mencari ikan jauh atau merantau.
“Semoga bisa beli lagi lahan kodong,” katanya lirih. (*)
Kisah ini belum selesai, baca kisah lainnya soal Air Tak Lagi Gratis di Tribun-Timur.com.
Liputan ini mendapatkan dukungan dan pendampingan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
Disclaimer Upaya Konfirmasi