Maria Inda Baghong, Mahasiswi semester 3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unika Santu Paulus Ruteng
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Pendidikan adalah proses pembelajaran, pengembangan kemampuan, pengetahuan, dan karakter individu melalui interaksi dengan lingkungan, guru, dan sumber belajar lainnya. Artinya bahwa pendidikan tidak hanya dari sekolah dan Universitas, tetapi juga didapatkan dari lingkungan yang kita berada.
Di mana saja kita berada dan bersosialisasi itulah pendidikan. Ambil yang positif dan pertimbangkan yang negatif. Bagi saya pendidikan itu sangatlah penting, karena bisa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik kita. Pendidikan yang saya maksudkan sama seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, yaitu MENDIDIK PIKIRAN DAN MENDIDIK HATI.
Yang pertama MENDIDIK PIKIRAN. Artinya kita mampu mengembangkan kemampuan berpikir, mulai dari tingkat kesadaran akan lingkungan sampai kita bisa mengatasi pikiran negatif seperti ketakutan.
Baca juga: Mahasiswa Teologi Unika Santu Paulus Ruteng Mengabdi Saat Perayaan Natal 2025
Kita mampu mendidik pikiran secara normal, otomatis kehidupan yang kita jalani sangatlah harmonis. Mendidik pikiran juga mampu membuat kita menjadi pribadi yang pantang menyerah karena tidak ada ketakutan di dalam pikiran. Mendidik pikiran juga merujuk pada kemampuan intelektual seseorang yang mampu meningkatkan kualitas dirinya.
Yang kedua MENDIDIK HATI. Artinya bahwa kita bisa mengembangkan nilai-nilai yang membuat diri sendiri dan orang lain tidak terganggu, serta mampu menjadikan pribadi yang bermanfaat. Kita dikatakan berhasil mendidik hati ketika bisa menerapkan nilai-nilai sesama manusia.
Nilai-nilai tersebut, contohnya sopan santun, empati, kesabaran, kebijaksanaan, kerendahan hati, kesadaran diri, dan cinta akan sesama. Ketika kita belum menerapkan nilai-nilai tersebut, berarti kita belum dikategorikan sebagai orang yang berhasil mendidik hati.
Saya dapat menyimpulkan bahwa mendidik pikiran dan mendidik hati sangatlah penting dan berkaitan. Ketika kita berhasil mendidik pikiran, tetapi gagal dalam mendidik hati otomatis kita tidak termasuk orang yang berpendidikan begitu juga sebaliknya.
Percuma kita cerdas secara pikiran namun hati kita isinya kosong. Jadi, pendidikan itu harus dijalankan secara bersamaan antara mendidik pikiran dan mendidik hati. Sepintar apapun kita jangan pernah mengabaikan hati. Begitu juga dengan mendidik hati, jangan pernah lupa untuk berpikir. Tidak memiliki gelar, namun berhasil mendidik hati dan pikiran itulah orang yang berpendidikan dan terdidik.