Riwayat Sekolah Pa Hoa, Pernah Dipaksa Tutup pasca-G30S dan Asetnya Diambil Pemerintah
Moh. Habib Asyhad January 12, 2026 12:34 PM

Ini adalah riwayat Sekolah Pa Hoa, yang semangatnya dilanjutkan oleh Sekolah Terpadu Pahoa, yang pernah dipaksa berhenti pasca-G30S dan asetnya diambil oleh pemerintah.

Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Februari 2023 dengan judul "Sekolah Pa Hoa, dari Patekoan Menitis di Serpang" | Penulis: T. Tjahjo Widyasmoro

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Keinginan agar tidak terasingkan dari kearifan budaya leluhur melahirkan Sekolah Pa Hoa yang berdiri pada awal abad ke-20. Sempat mati suri pasca-G30S, sekolah ini akhirnya bisa bangkit kembali berkat tekad kuat alumni.

Sekolah megah itu berdiri di kawasan elite Gading Serpong, di Kabupaten Tangerang, Banten. Gedungnya tampak berdiri kokoh, menempati lahan seluas 4,8 hektar dengan segala fasilitas lengkap layaknya sekolah-sekolah modern saat ini. Pada jam masuk dan pulang sekolah, terlihat murid muridnya datang dari beragam tingkatan usia, dari TK sampai dengan SMA.

Fenomena yang mungkin menarik perhatian, kita bisa melihat kata “Pahoa”, terpasang di depan gedung sekolah. Sebuah nama yang mungkin akan mengusik ingatan sebagian orang, terutama para lansia; generasi opa dan oma. Kata Pahoa memang diambil dari Sekolah Tionghoa Pa Hoa yang pernah berdiri di Jalan Patekoan (kini Jalan Perniagaan) Jakarta Barat, dan sempat bertahan sekitar 65 tahunan.

Secara badan hukum, Sekolah Terpadu Pahoa memang berbeda dengan Sekolah Pa Hoa yang pertama kali berdiri lebih dari seabad lalu. Sekolah baru yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Pahoa ini diprakarsai alumni Pa Hoa yang ingin menghidupkan kembali sekolah mereka setelah ditutup pada 1966.

“Walau badan hukumnya beda, tapi bisa disebut penerus. Karena falsafah dan motto sekolah ini sama dengan Pa Hoa. Motonya, belajar untuk diamalkan,” tutur Suryono Limputra (82) salah satu pembina di yayasan, menjelaskan kepada Majalah Intisari pada 2023 lalu.

Empat jenis sekolah

Cerita tentang Pa Hoa tidak akan bisa lepas dari keberadaan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK). Sebuah organisasi yang awalnya dicetuskan untuk mengajak kaum Tionghoa peranakan di Hindia Belanda agar lebih mengenal identitasnya. Maklum, keturunan Tionghoa saat itu hadir dari beragam latar belakang. Ada keinginan agar para kaum perantauan ini bisa bersatu tanpa membedakan asal kampung mereka di Tiongkok.

THHK akhirnya berdiri pada 17 Maret 1900 dalam sebuah pertemuan yang dihadiri 20 orang, di sebuah rumah di Jalan Patekoan, Batavia. Terpilih sebagai presiden pertama, Phoa Keng Hek.

Anggaran Dasar THHK menyebutkan, organisasi ini bertujuan mengembangkan adat istiadat dan tradisi Tionghoa sesuai ajaran Konghucu serta mengembangkan ilmu pengetahuan terutama tulis-menulis dan bahasa. Nah, di sinilah para pengurus sadar, perlu dibangun sebuah sekolah untuk mempelajari ajaran luhur itu. Gagasan itu semakin mengerucut saat para pengurus THHK merayakan ulang tahun Phoa Keng Hek di di villanya di Teluk Puncang, Bekasi, 11 Juni 1900.

Iskandar Jusuf dalam Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 Sampai Sekolah Terpadu Pahoa 2008 menulis, sejak awal sudah ada keinginan agar THHK mendirikan empat jenis sekolah: sekolah Tionghoa, sekolah Melayu, sekolah Belanda, dan sekolah Inggris. Nantinya akan ada pula sekolah dengan murid perempuan, sebuah pandangan yang sangat maju kala itu.

Di sisi lain, ide mendirikan sekolah sebenarnya juga didorong perlakuan diskriminatif pemerintah Hindia Belanda yang tidak menyediakan sekolah khusus untuk anak-anak Tionghoa. Padahal untuk anak-anak Eropa dan pribumi sudah tersedia. Anak-anak Tionghoa akhirnya hanya bisa belajar privat tentang sastra klasik Tionghoa serta sedikit ilmu berhitung.

Pilihan lain, anak-anak Tionghoa bisa bersekolah di Beng Seng Kie Wan atau sekolah Gie Oh. Di sekolah yang berdiri sejak 1775 ini, para murid belajar sastra klasik Tionghoa dialek Hokkian. Diajarkan pula kitab-kitab Suci Khonghucu: Si Shu Wu Jing, namun murid hanya dituntut mampu menghapal isi kitab tanpa keharusan memahami isinya.

Lokasi sekolah Gie Oh ada di kompleks Klenteng Kim Tek Ie di Petak Sembilan (kini dekat Pancoran Jakarta Barat). Pengelolanya Keong Koan, sebuah organisasi masyarakat badan opsir Tionghoa yang juga mengelola kelenteng, tanah pemakaman, dan menyelenggarakan perayaan-perayaan tradisional.

Ada pula anak-anak Tionghoa yang beruntung dapat bersekolah di sekolah-sekolah zending milik misionaris Kristen atau beberapa sekolah Belanda. Hanya saja karena uang sekolahnya mahal dan ada seleksi murid, anak-anak Tionghoa dari masyarakat biasa tidak punya kesempatan masuk.

Beasiswa dari Kaisar

Setahun setelah pendirian THHK, tepatnya 17 maret 1901, berdirilah Tiong Hoa Hak Tong yang artinya sekolah Tionghoa. Gedung sekolahnya ada di Jalan Patekoan terdiri atas rumah tembok dengan 36 rumah petak yang dibeli dari Nederlandsch Indische Hypotheek Bank di Batavia. Karena berlokasi di Patekoan, sekolah ini kemudian dikenal sebagai Pa Hoa (Pa = Patekoan, Hoa = Tiong Hoa Hwe Koan).

Pada awalnya, sekolah Pa Hoa hanya mengajarkan bahasa Tionghoa (Mandarin). Muridnya semua laki-laki. Sebenarnya ada rencana dari pengurus THHK membuka sekolah khusus perempuan berbahasa Melayu, namun belum bisa terlaksana. Akhirnya murid perempuan belajar dengan status dititipkan di Pa Hoa di bawah pengawasan guru perempuan. Baru 1928, terjadi percampuran siswa (koedukasi) di Pa Hoa.

Tak lama setelah pembukaan Pa Hoa, tepatnya 1 September 1901, berdiri Yale Institute yang berbahasa pengantar bahasa Inggris. Meski terpisah dari sekolah Tionghoa, muridnya tetap diberi ajaran Khonghucu. Bahasa Inggris terpilih karena dipandang perlu dipelajari sebagai bahasa perdagangan. Saat itu mempelajari bahasa Belanda malah dipandang tidak penting.

Sayangnya usia Yale Institute tidak panjang. Karena dinilai tidak efisien, sejak 8 Januari 1905 sekolah ini digabungkan dengan Pa Hoa. Namun peristiwa ini justru menjadi keuntungan bagi murid Pa Hoa yang akhirnya bisa belajar bahasa Inggris. Pa Hoa menjadi sekolah bilingual.

Berangkat dari keberhasilan sekolah bilingual, muncul keinginan agar Pa Hoa jadi sekolah tiga bahasa (trilingual) dengan ditambah pelajaran bahasa Belanda. Sayangnya dana tidak cukup. Para pengurus sekolah berupaya meminta bantuan guru ke Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz, tapi ditolak.

Perhatian justru datang dari pemerintah Tiongkok di masa pemerintahan Kaisar Kuang Su yang dikenal sebagai tokoh pembaharu Tiongkok. Pada 1 Januari 1907 utusan dari Kaisar datang meninjau Pa Hoa. Hasilnya pemerintah Tiongkok bersedia memberi beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi untuk melanjutkan pelajaran di Tiongkok.

Kesempatan ini tidak disia-siakan. Sebulan kemudian sekolah mengirim 21 murid untuk belajar di Kay Lam Hak Tong di Nanking. Disusul rombongan kedua yang berangkat 5 Oktober 1908. Sayangnya seiring revolusi pada 1911 yang meruntuhkan Dinasti Ching, murid-murid itu harus balik kampung.

Perhatian pemerintah Tiongkok rupanya menyadarkan pemerintah Belanda yang sebenarnya juga takut kehilangan kontrol terhadap orang-orang Tionghoa peranakan. Maka pada 1908, pemerintah mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS) di berbagai kota. Anak-anak Tionghoa jadi punya dua pilihan; sekolah Tionghoa atau sekolah Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda mendirikan HCS sebenarnya juga dengan maksud menghambat upaya THHK men-cina-kan kembali kaum Tionghoa peranakan saat itu. Akibatnya kelak sebagian anak memang mengalami westernisasi.

Ironinya, seperti diungkap Benny G Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, keberadaan HCS justru membuat THHK seperti ditinggal para pendirinya. Misalnya Phoa Keng Hek yang langsung memindahkan anak-anaknya dari Pa Hoa ke HCS. Begitu juga Lie Kim Hok (Komisaris THHK Batavia), Kapten Yap Hong Sing (THHK Yogyakarta) dan Tan Hian Gwan (presiden THHK surabaya). “Sikap tidak konsisten ini sudah tentu mendapat kritik dari masyarakat,” tulis Benny.

Setelah 20 tahun berjalan, mulai timbul kesadaran bahwa kefasihan berbahasa Tionghoa dan Inggris saja membuat lulusan Pa Hoa sulit jadi pegawai Hindia Belanda. Bahasa Belanda harus dikuasai juga. Maka sejak 1 Oktober 1925 Pa Hoa menjadi sekolah trilingual.

Pada tahun itu pula Pa Hoa mulai mendirikan sekolah menengah. Murid-muridnya juga semakin banyak. Pada 1933, jumlah murid tercatat sudah mencapai 1.040 orang.

Perhatian kepada kaum miskin juga diwujudkan dengan pendirian Pa Hwa Min Chung I Wu Hsio pada 1935 dengan pengajar murid-murid SMP kelas 2 ke atas. Anak-anak miskin yang nilainya bagus akan mendapat beasiswa di sekolah pagi.

Jadi dua sekolah

Selama pendudukan Jepang (1942-1945), sekolah-sekolah berbahasa Belanda dan Inggris dilarang, namun Pa Hoa tetap bisa beroperasi. Hanya saja bahasa Jepang wajib dipelajari.

Pada masa ini pula semua HCS ditutup sehingga banyak muridnya yang pindah ke Pa Hoa. Namun karena yang dibuka hanya sebatas SD saja, murid SMP dan SMA menganggur.

Setelah masa penyerahan kedaulatan, tepatnya sejak 1950, dan adanya reformasi pendidikan dari pemerintah, Pa Hoa tetap menjadi sekolah trilingual dengan mengganti pelajaran bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menjadi pengantar untuk pelajaran-pelajaran penting yang akan dipakai dalam ujian masuk ke perguruan tinggi negeri.

Suryono memastikan sepanjang 1951 sampai 1966, banyak lulusan Pa Hoa yang berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri bergengsi maupun beasiswa ikatan dinas ke luar negeri. “Lulusan Pa Hoa bisa bersaing dengan sekolah-sekolah favorit saat itu,” tutur Suryono yang kala itu mendapat beasiswa ke Tianjin University di RRT.

Pada 1957, saat pemerintah melarang WNI bersekolah di sekolah asing, pengurus THHK langsung mengadakan perubahan. Pengurus yang berstatus WNI memisahkan diri dari sekolah Pa Hoa dan mendirikan Jajasan Pendidikan dan Pengadjaran (JPP). Status JPP seperti sekolah swasta pada umumnya.

Pemisahan antara JPP dengan Pa Hoa yang menjadi sekolah asing, membuat seluruh murid dan aset di Jalan Patkoan diambil alih JPP. Apalagi sebelum berpisah sekitar 80 persen murid sekolah Pa Hoa adalah WNI. Sedangkan murid-murid WNA di Pa Hoa ditampung di Jalan Blandongan Nomor 37. Gedung itu sebelumnya digunakan SD filial dari Sekolah Pa Chung.

Sejak pemisahan, JPP juga kebanjiran murid karena harus menampung ribuan murid dari TK sampai SMA yang berasal dari 14 sekolah Tionghoa lain yang ditutup. Kebutuhan pengajar diisi oleh alumni Pa Hoa sendiri.

Akhir riwayat Pa Hoa dan JPP terjadi pasca-peristiwa G-30-S 1965. Akhir Maret 1966 berbagai kesatuan aksi yang dipelopori Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) mulai menduduki dan mengambil alih sekolah-sekolah Tionghoa di berbagai kota. Tindakan kesatuan-kesatuan aksi ini didukung militer yang mengeluarkan perintah penutupan sekolah-sekolah asing. Akhirnya keputusan resmi penutupan dari pemerintah, keluar pada 19 Mei 1966.

Sayangnya JPP yang sebenarnya berbadan hukum otonom dan tidak berafiliasi ke Badan Permusjarawatan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI), yang dituduh mendukung PKI, ternyata ikut jadi sasaran. Sekolah ini ikut dimatikan dan aset sekolah diambil alih pemerintah untuk dijadikan sekolah negeri yakni SMA Negeri 19.

Benny G Setiono mengungkap, sekolah Tionghoa yang ditutup kala itu berjumlah 629 buah dengan jumlah murid 272.782 orang dan guru 6.478 orang. Siswa-siswa dari sekolah yang ditutup juga akan disalurkan namun jumlahnya tidak boleh melebihi 5 persen dari jumlah seluruh murid.

Bagi murid-murid WNA, kekacauan ini mendorong mereka pergi ke daratan Tiongkok dengan niat meneruskan studi. Namun puluhan ribu pemuda dan pelajar yang terlanjur berangkat akhirnya harus kecewa karena di RRT justru sedang terjadi Revolusi Kebudayaan.

Seluruh sekolah dan perguruan tinggi ditutup. Para murid dan guru digiring ke pedesaan untuk menjadi petani. Para pelajar itu akhirnya harus keluar lagi melalui jalur seperti Hongkong atau Macau.

Lahir dari wadah alumni

Meski nama Pa Hoa sudah tinggal kenangan bahkan bangunan sekolah statusnya sudah “tidak ada” lagi, alumni Pa Hoa rupanya tetap memiliki keinginan untuk menghidupkan nama Pa Hoa.

“Selain rasa kangen, alumni ini juga punya utang budi kepada sekolah yang telah mendidik mereka sehingga berhasil dalam hidup,” tutur Suryono yang merupakan alumni Pa Hoa tahun 1958.

Berawal dari reuni pertama pada 1978 kemudian dilanjutkan beberapa reuni berikutnya, terbentuklah wadah para alumni bernama Yayasan Pancaran Hidup. Nama yayasan yang diresmikan pada 10 November 1984 ini tak lain mengambil huruf P dan H dari Pa Hoa.

Keberadaan yayasan yang kemudian menjelma menjadi Perkumpulan Pancaran Hidup, semakin mendorong keinginan alumni untuk mendirikan sekolah. Setelah berupaya lebih dari 20 tahun, keinginan itu terwujud dengan berdirinya Sekolah Terpadu Pahoa yang diresmikan 17 Maret 2008.

Sekolah yang kini memiliki 3.945 murid dari Kelompok Bermain sampai SMA dan sudah meluluskan 2.400 murid dari 11 angkatan ini ibarat menjadi reinkarnasi dari Sekolah Pa Hoa di masa lalu. Atribut sekolah Pa Hoa di masa lalu seperti lambang dan lagu sekolah jadi hidup kembali.

Seperti halnya Pa Hoa di Patekoan, bahasa Mandarin juga menjadi pelajaran yang mendapat porsi penting. Ajaran pendidikan budi pekerti (Di Zi Gui) yang merujuk pada ajaran filsafat Konfusius juga hidup kembali.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.