TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram memperkenalkan Tempah Dedoro sebagai solusi dalam menekan volume sampah di lingkungan.
Fasilitas Tempah Dedoro sendiri merupakan tempat pembuangan sampah, berbahan beton dengan spesifikasi yang telah diatur sesuai ketentuan Dinas LH.
Uniknya, sarana ini tidak hanya sekadar bak penampung, selain berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik, fasilitas ini juga dirancang memiliki fungsi ganda sebagai tempat duduk sehingga menyatu secara estetika dengan lingkungan sekitar.
Secara teknis, Tempah Dedoro berfungsi sebagai lubang biopori besar yang menyerap air ke dalam tanah.
Salah satu keunggulan utamanya adalah desainnya yang adaptif untuk lahan sempit.
Di permukiman padat, alat ini bisa dibuat dengan model flat di atas jalan lingkungan tanpa mengganggu akses jalan.
Selain mengolah sampah, unit ini juga dirancang sebagai fasilitas sosial karena dilengkapi kursi dan dipastikan tidak menimbulkan aroma tidak sedap.
Adapun anggaran pembuatannya mencapai Rp1 juta per rumah, sudah termasuk pajak dan fasilitas pendukung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, memantau langsung implementasi program ini di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, pada Kamis (8/1/2026).
Berdasarkan data yang diterima TribunLombok.com, saat ini terdapat 25 titik percontohan program Tempah Dedoro yang tersebar di berbagai wilayah. DLH Kota Mataram menargetkan setiap kelurahan memiliki minimal satu lingkungan percontohan pada tahun 2026 ini.
"Insyaallah tahun ini Pak Wali mencanangkan satu lingkungan percontohan di masing-masing kelurahan. Targetnya ada 25 titik Tempah Dedoro yang diuji coba secara luas," ucap Nizar saat pemantauan.
Keberhasilan di tingkat lingkungan kini merambah ke dunia pendidikan.
Program Tempah Dedoro telah diterapkan di seluruh sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Mataram sejak awal tahun ajaran baru 2026.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya nyata mengurangi beban sampah kota yang terus meningkat, sekaligus menjadi sarana edukasi langsung bagi siswa mengenai pengolahan sampah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, M. Yusuf, mengungkapkan bahwa setiap sekolah memiliki kebijakan jumlah unit yang berbeda.
“Ada yang membuat satu unit, ada yang membuat dua. Tergantung sekolahnya,” ucap Yusuf.
Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sebelum dimasukkan ke dalam wadah beton tersebut.
Hanya sampah organik, seperti dedaunan, yang diperbolehkan untuk diurai, sementara sampah anorganik harus dipisahkan.
"Sebelum masuk ke sana, teman-teman harus mengurai dulu, memisahkan mana yang bisa dimasukkan dan mana yang tidak. Misalnya, plastik yang bisa dijual bisa dikomersilkan," jelas Yusuf.
Selain pemanfaatan Tempah Dedoro, sekolah-sekolah di Mataram juga diberikan kebebasan untuk berkreasi dalam mengelola sampah plastik agar tidak menjadi beban.
Banyak kepala sekolah kini telah menginisiasi program mendaur ulang sampah plastik menjadi aneka kerajinan tangan. Yusuf berharap kreativitas ini dapat terus berkembang sebagai langkah komprehensif menjaga kebersihan kota.
“Sudah banyak kreativitas kepala sekolah untuk mengurangi beban sampah di Kota Mataram,” pungkasnya.