Filosofi dalam Semangkuk Jenang Grendul, Kuliner Legendaris Solo yang Miliki Bentuk Bulat Penuh Arti
January 12, 2026 11:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Kota Solo tidak hanya menyimpan kemegahan keraton, tetapi juga menyimpan harta karun kuliner yang tak lekang oleh waktu. 

Di antara deretan hidangan tradisionalnya, Jenang Grendul menempati posisi istimewa. 

Bukan sekadar pengganjal perut, kudapan manis ini adalah simfoni rasa yang membawa pesan mendalam tentang kehidupan masyarakat Jawa.

Keunikan Sang Grendul yang Kenyal Memikat

Apa yang membuat jenang ini begitu ikonik? Rahasianya ada pada grendul bola-bola kecil berbahan tepung ketan yang kenyal saat digigit. 

Tekstur unik inilah yang menjadi pembeda utama antara jenang grendul dengan jenis bubur tradisional lainnya.

Bayangkan sensasi ketika bola-bola ketan yang lembut ini berenang dalam kuah gula aren yang kental, lalu disiram dengan santan gurih. 

Kombinasi manis yang legit dan gurih yang pas menciptakan harmoni rasa yang membuat siapa pun rindu untuk kembali ke Solo.

Baca juga: Inilah Kota Jenang di Jawa Tengah yang Jadi Kota Paling Sejahtera Kedua, Ungguli Solo Susul Semarang

Rekam Jejak Sejarah: Dari Era Kerajaan hingga Wali Songo

Jenang grendul, atau yang di beberapa daerah dikenal sebagai jenang candil, bukan pendatang baru di dunia kuliner Nusantara. 

Keberadaannya di tanah Jawa, khususnya Solo, dipercaya telah mengakar kuat sejak era Kerajaan Hindu-Buddha hingga masa syiar Wali Songo.

Bagi masyarakat Jawa, jenang adalah elemen sakral yang hampir selalu hadir dalam setiap transisi kehidupan. 

Mulai dari perayaan pernikahan, selamatan ibu hamil (mitoni), kelahiran bayi, hingga upacara penghormatan bagi mereka yang telah tiada. 

Lebih dari sekadar hidangan, ia adalah simbol rasa syukur dan untaian doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.

Baca juga: 5 Tempat Makan Jenang Terbaik di Solo untuk Meriahkan Liburan Lebaran 2025

Filosofi di Balik Bentuk Bulat

Masyarakat Jawa dikenal gemar menyelipkan makna dalam setiap aspek kehidupannya, termasuk makanan. Jenang grendul melambangkan nilai-nilai:

Persatuan dan Keharmonisan: Tekstur ketan yang menyatu menggambarkan semangat gotong royong.

Roda Kehidupan: Bentuknya yang bulat melambangkan filosofi bahwa hidup terus berputar—ada kalanya kita berada di atas, dan ada kalanya di bawah.

Berburu Keaslian di Sudut Kota Solo

Jika Anda ingin mencicipi rasa yang benar-benar otentik, melangkahlah ke pasar-pasar tradisional seperti Pasar Gede Solo. 

Di sana, resep-resep warisan turun-temurun masih dijaga dengan apik oleh para pedagang senior.

Salah satu rekomendasi yang patut dicoba adalah Jenang Bu Narti. 

Baca juga: Disebut Kota Jenang, Ini Daerah Paling Sejahtera di Jawa Tengah Lewati Solo, Hampir Saingi Semarang

Tempat ini menjadi surga bagi pemburu kuliner karena menawarkan lima varian penggugah selera, Jenang Pati, Sumsum, Ketan Hitam, Mutiara, dan tentu saja sang primadona, Grendul.

"Rasanya manis pas, dipadu santan legit yang bikin ketagihan," tulis laporan dari TribunSolo.com mengenai kelezatan Jenang Bu Narti.

Info Lokasi & Jam Buka:

Lokasi: Jl. Letjen S. Parman, Banjarsari (tepat di seberang Toko Jam Yono).

Jam Buka: 16.00 – 18.00 WIB (pastikan datang tepat waktu agar tidak kehabisan!).

Menikmati semangkuk jenang grendul di sore hari bukan hanya soal memanjakan lidah, tapi juga cara kita merayakan sejarah dan filosofi yang masih bertahan di tengah modernitas Kota Solo.

(TribunTrends.com/TribunSolo.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.