TRIBUNTRENDS.COM - Permintaan terakhir Praka Satria Taopan akhirnya terungkap setelah prajurit TNI tersebut gugur ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
Keinginan yang sempat ia sampaikan kepada keluarga itu kini tak akan pernah terwujud dan hanya tersisa sebagai kenangan mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Praka Satria Taopan gugur saat menjalankan tugas di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, pada Kamis (8/1/2026).
Atas pengorbanannya, prajurit TNI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu mendapatkan kenaikan pangkat kehormatan menjadi Kopda Anumerta Satria Taopan.
Baca juga: Rekam Jejak Ketua Komnas HAM Papua Frits Ramandey, Ditembak KKB Saat Cari Iptu Tomi S Marbun
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus memupus impian masa depan yang telah ia susun.
Sosok Kopda Satria merupakan anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan.
Sang ayah, Dominggus Taopan, masih mengingat dengan jelas permintaan terakhir putranya yang kini hanya tinggal kenangan.
Di rumah duka, Dominggus menuturkan kisah tentang harapan dan cita-cita anaknya sebelum gugur di medan tugas.
Dua pekan sebelum meninggal dunia, Kopda Satria sempat menyampaikan niatnya untuk segera menikah dengan sang kekasih.
Keinginan itu disampaikan melalui panggilan telepon saat Hari Raya Natal 2025.
Dalam percakapan tersebut, Kopda Satria yang tengah bertugas di Tanah Papua meminta orangtuanya untuk bertemu dengan orangtua calon istrinya.
“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orangtua calon istri.
Rencana nikah bulan Juni 2026,” ujar Dominggus menirukan pesan Kopda Satria kala itu, seperti dilansir Kompas.com.
Namun, rencana bahagia tersebut tak pernah terwujud.
Kopda Satria keburu gugur saat menjalankan tugas negara, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya.
Di mata sang ayah, Kopda Satria dikenang sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul.
Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pemuda yang memiliki banyak teman dan selalu membawa keceriaan di sekitarnya.
“Dia itu senyum terus. Duduk di mana saja pasti cepat akrab.
Kalau cuti, teman-temannya datang dari mana-mana,” kata Dominggus, Jumat (9/1/2026), seperti dilansir Pos-Kupang.com.
Dominggus juga mengenang putranya sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah.
Kopda Satria mengikuti tes masuk TNI sebanyak 9 kali sebelum akhirnya dinyatakan lolos dan resmi menjadi prajurit.
Ia resmi menjadi prajurit TNI AD sejak 2018.
Kopda Satria juga pernah menjadi anggota pasukan perdamaian PBB di Kongo, Afrika Tengah, selama satu tahun.
Dominggus juga mengungkapkan bahwa rekan Praka Satria sempat menceritakan sulitnya proses evakuasi jenazah sang putra.
Ia menyebut, proses evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati lantaran cuaca buruk dan masih adanya KKB di lokasi gugurnya Praka Satria.
“Temannya satu angkatan di Papua sempat telepon saya dan bilang, ‘Bapak banyak berdoa, cuaca tidak aman dan masih ada KKB di lokasi’,” tutur Dominggus, Jumat (9/1/2026), seperti dilansir Pos-Kupang.com.
Jenazah Praka Satria harus digotong sejauh sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian menuju pos terdekat.
Proses evakuasi jenazah menuju pos keamanan selesai pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.00 WIT.
Jenazah Praka Satria lalu diterbangkan ke Timika menggunakan helikopter pada Jumat pagi.
“Dari Timika diterbangkan ke Makassar, lalu ke Surabaya, baru ke Kupang," ucapnya.
Jenazah Kopda Satria tiba di rumah duka pada Sabtu (10/1/2026) dini hari.
Ia akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darmaloka, Kupang, dengan upacara pemakaman militer.
(TribunTrends.com/Tribunnews.com)