Ingin Nikah, Permintaan Terakhir Kopda Satria Taopan Yang Gugur Ditembak KKB di Papua
January 12, 2026 12:04 PM

 

 

SURYA.co.id – Satu lagi prajurit TNI gugur, adalah  Praka Satria Taopan telah gugur ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026).

Atas jasanya gugur saat bertugas, dia mendapat kenaikan pangkat menjadi 
Kopda Anumerta Satria Taopan.

Kini impian Prajurit TNI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut tinggal kenangan.

Sang ayah masih ingat betul permintaan sang putra, Praka Satria Taopan
anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan.

Ditemui di rumah duka, Dominggus Taopan berbagi cerita soal permintaan dan impian sang anak yang kini tinggal kenangan.

Baca juga: Sosok Didimus Yahuli, Bupati Yahukimo yang Diancam Tembak Mati KKB Papua, Komitmen Lindungi Warga

Dua pekan sebelum meninggal dunia, Kopda Satria sempat menyampaikan keinginan untuk menikah dengan sang kekasih.

Keinginan tersebut disampaikan Kopda Satria melalui panggilan telepon di Hari Raya Natal 2025.

Saat itu Kopda Satria yang sedang bertugas di Tanah Papua meminta orangtuanya bertemu dengan orangtua calon istrinya selepas beribadah di gereja.

“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orangtua calon istri. Rencana nikah bulan Juni 2026,” ujar Dominggus menirukan pesan Kopda Satria kala itu, seperti dilansir Kompas.com.

Namun, rencana bahagia itu tak pernah terwujud lantaran Kopda Satria gugur saat bertugas.

Baca juga: KKB Papua Masih Berulah saat Hari Natal, Kini Bunuh Warga Sipil dan Dibiarkan di Pinggir Jalan

Ayah Kopda Satria, Dominggus Taopan mengenang putranya sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul.

Semasa hidupnya, Praka Satria merupakan pemuda yang punya banyak teman.

“Dia itu senyum terus. Duduk di mana saja pasti cepat akrab. Kalau cuti, teman-temannya datang dari mana-mana,” kata Dominggus, Jumat (9/1/2026), seperti dilansir Pos-Kupang.com.

Sosok yang Gigih, 9 Kali Tes Masuk TNI

Dominggus juga mengenang putranya sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah.

Kopda Satria mengikuti tes masuk TNI sebanyak 9 kali sebelum akhirnya dinyatakan lolos dan resmi menjadi prajurit.

Ia resmi menjadi prajurit TNI AD sejak 2018.

Kopda Satria juga pernah menjadi anggota pasukan perdamaian PBB di Kongo, Afrika Tengah, selama satu tahun.

Proses Evakuasi Jenazah Penuh Tantangan

Dominggus juga mengungkapkan bahwa rekan Praka Satria sempat menceritakan sulitnya proses evakuasi jenazah sang putra.

Ia menyebut, proses evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati lantaran cuaca buruk dan masih adanya KKB di lokasi gugurnya Praka Satria.

“Temannya satu angkatan di Papua sempat telepon saya dan bilang, ‘Bapak banyak berdoa, cuaca tidak aman dan masih ada KKB di lokasi’,” tutur Dominggus, Jumat (9/1/2026), seperti dilansir Pos-Kupang.com.

Jenazah Praka Satria harus digotong sejauh sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian menuju pos terdekat.

Proses evakuasi jenazah menuju pos keamanan selesai pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.00 WIT.

Jenazah Praka Satria lalu diterbangkan ke Timika menggunakan helikopter pada Jumat pagi.

“Dari Timika diterbangkan ke Makassar, lalu ke Surabaya, baru ke Kupang," ucapnya.

Jenazah Kopda Satria tiba di rumah duka pada Sabtu (10/1/2026) dini hari.

Ia akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darmaloka, Kupang, dengan upacara pemakaman militer. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.