Banjir Bandang di Pati, 'Dunia' Juharti Lenyap Sekejap
kumparanNEWS January 12, 2026 12:57 PM
Juharti (46 tahun) menatap nanar pabrik kerupuk di bagian belakang rumahnya yang hancur lebur diterjang banjir bandang di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jumat (9/1/2026) malam.
Bukan hanya dinding yang roboh, tetapi seluruh "hidup" yang ia bangun selama puluhan tahun seolah ikut hanyut terbawa lumpur.
Di matanya yang memerah setelah menangis semalaman, yang tersisa hanyalah kerusakan alat-alat produksi dan ribuan keping kerupuk siap kirim yang berubah menjadi bubur kotor.
Dia masih terbayang suara gemuruh banjir bandang yang menerjang rumahnya yang berada persis di samping tanggul.
“Banjir bandang datang tiba-tiba sekitar jam 9 malam. Suaranya keras menghantam tembok belakang rumah. Semalam pas kejadian langsung lari menyelamatkan diri. Ini saya belum tidur sejak semalam karena takut akan ada banjir susulan,” ucapnya menahan tangis.
Perbesar
Kondisi pabrik kerupuk milik Juharti di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, setelah diterjang banjir bandang. Foto: Dok. kumparan
Di tengah nestapa itu, Juharti teringat cicilan bank yang belum lunas, tujuh pekerja yang menggantungkan hidup padanya, serta mimpi-mimpi keluarganya yang kini terasa makin menjauh. Ratusan juta rupiah yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit lenyap hanya dalam hitungan menit.
“Semua tak bersisa. Perabotan rumah, peralatan membuat kerupuk rusak, kerupuk siap kirim hanyut. Kerugian kira-kira mencapai seratusan juta (rupiah),” ungkapnya.
3 Tahun Lalu Kena Banjir Bandang Juga
Bagi Juharti yang merintis usaha kerupuk sejak 2014, kenyataan ini terasa begitu menyayat hati. Baru tiga tahun lalu, dia bersusah payah menguras lumpur dan mengganti mesin-mesinnya yang rusak akibat bencana serupa. Kini, luka lama yang baru saja mengering dipaksa menganga kembali.
“Trauma sekali. Dulu kondisinya lebih parah. Kerugian mencapai Rp 200 juta. Dulu mencoba bangkit dengan utang bank Rp 115 juta,” beber dia.
Perbesar
Kondisi Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, setelah diterjang banjir bandang, Jumat (9/1/2026) malam. Foto: Dok. kumparan
Dadanya semakin sesak karena sehari sebelum kejadian, ia baru mendatangkan lima ton tepung tapioka dari Lampung. Biaya modal yang ia keluarkan pun tak sedikit, mencapai Rp 40 juta.
“Kemarin baru datang tepung tapioka dari Lampung. Kualitas dari sana itu lebih bagus. Harga satu saknya itu Rp 400 ribu,” beber dia.
Setelah bencana ini, Juharti mengaku belum mengetahui cara untuk bangkit kembali. Dia hanya bisa pasrah dan berharap ada bantuan dari pemerintah untuk membantunya memulihkan kondisi, terlebih biaya perbaikan alat-alat produksinya mencapai Rp 5 juta.
“Nggak tahu. Sudah tertimpa bencana dua kali. Sudah tidak tahu ini bangkitnya bagaimana,” ucapnya lirih.
Bencana di 10 Kecamatan di Pati
Perbesar
Kondisi tanah longsor di Dukuh Pulingan, Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati, Sabtu (10/1/2026). Foto: Dok. kumparan
Sebanyak sembilan kecamatan di Kabupaten Pati diterjang banjir hingga tanah longsor. Kondisi ini menyebabkan ribuan warga terdampak dan sebagian terpaksa mengungsi.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, memaparkan banjir melanda sejumlah desa di:
Kecamatan Dukuhseti,
Pati Kota,
Tayu,
Margoyoso,
Wedarijaksa,
Margorejo, dan
Gembong.
Sementara tanah longsor terjadi di:
Kecamatan Gunungwungkal,
Gembong (Desa Klakahlasihan), serta
Tlogowungu (Desa Gunungsari).
“Banjir dan tanah longsor ini terjadi pada Jumat (9/1/2026) malam. Sebelum bencana ini terjadi, Pegunungan Muria dan Kabupaten Pati diterjang hujan lebat sejak Jumat sore,” beber dia saat dihubungi awak media, Sabtu (10/1/2026).