Mengajar Sebagaimana Guru Belajar  
January 12, 2026 02:03 PM

Oleh: Dr. Kartika Sari, M.Pd.I.  - Pengawas Madya Kementerian Agama Kota Pangkalpinang

LIBURAN semester 1 telah usai dan peserta didik kembali memenuhi ruang-ruang kelas dengan suasana batin yang beragam. Ada yang datang dengan semangat baru dan harapan untuk memperbaiki capaian belajar, tetapi tidak sedikit pula yang masih berjuang menyesuaikan diri dari ritme libur menuju disiplin belajar yang menuntut konsistensi.

Para guru pun mengalami hal serupa. Semester 2 bukan hanya penanda kelanjutan kalender akademik, namun juga momentum penting untuk berhenti sejenak, berefleksi, dan menimbang kembali arah pembelajaran yang
akan dijalankan.

Sayangnya, awal semester sering kali disikapi secara administratif. Guru sibuk menyusun rencana pembelajaran, mengejar target kurikulum, dan memastikan ketuntasan materi. Orientasi pada pemenuhan dokumen dan target waktu kerap mengalahkan pertanyaan yang lebih mendasar, apakah pembelajaran yang berlangsung sungguh bermakna bagi peserta didik?

Di tengah perubahan karakter generasi belajar dan kompleksitas tantangan zaman, pendekatan mengajar yang kaku makin kehilangan relevansinya. Konsep deep learning atau pembelajaran mendalam kini makin menguat dalam diskursus pendidikan. Ia digadang-gadang sebagai jawaban atas pembelajaran yang dangkal dan berorientasi hafalan.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah apakah praktik mengajar di kelas telah bergerak menuju pembelajaran mendalam tersebut, atau justru masih terjebak pada pola lama yang menempatkan siswa sebagai objek yang pasif?

Kekakuan mengajar dan krisis makna pembelajaran merupakan problem mendasar pendidikan kita dewasa ini. Kekakuan ini tampak pada dominasi ceramah satu arah, penugasan yang menekankan hafalan, serta evaluasi yang berorientasi angka semata. Siswa diposisikan sebagai penerima pengetahuan, bukan subjek yang berpikir, bertanya, dan membangun pemahaman. Dalam situasi seperti ini, pembelajaran berjalan, tetapi tidak menggerakkan dengan kata lain berlangsung, tetapi tidak membekas.

Ironisnya, ketika hasil belajar tidak sesuai harapan, kegagalan tersebut sering dibebankan sepenuhnya kepada peserta didik. Mereka dicap kurang motivasi, kurang disiplin, atau kurang cerdas. Jarang sekali praktik mengajar itu sendiri dijadikan bahan refleksi.

Padahal, hasil belajar di semester 1 menyimpan banyak pesan penting di antaranya bagian mana yang dipahami siswa, di mana mereka mengalami kesulitan, dan pendekatan apa yang kurang efektif. Tanpa refleksi, data tersebut hanya menjadi arsip nilai, bukan sumber pembelajaran profesional bagi guru. Di sinilah relevansi gagasan mengajar sebagaimana guru belajar menjadi sangat penting.

Pembelajaran deep learning tidak akan tumbuh dalam kelas yang kaku dan instruktif. Ia menuntut perubahan paradigma yang mendasar: dari mengajar sebagai aktivitas menyampaikan materi menjadi mengajar sebagai proses belajar bersama. Deep learning menekankan pemahaman mendalam, keterkaitan antarkonsep, kemampuan berpikir kritis, serta penerapan pengetahuan dalam konteks nyata kehidupan peserta didik.

Untuk itu, guru tidak cukup hanya menguasai materi. Guru harus terus belajar yaitu belajar memahami cara berpikir siswa, belajar merancang pertanyaan bermakna, belajar memfasilitasi dialog dan diskusi, serta belajar menerima keragaman jawaban. Guru yang belajar tidak merasa terancam oleh pertanyaan kritis siswa. Sebaliknya, ia menjadikan pertanyaan tersebut sebagai pintu masuk untuk memperdalam pembelajaran.

Mengajar sebagaimana guru belajar berarti menempatkan guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. Guru tidak hanya mengajarkan isi kurikulum, tetapi juga meneladankan sikap intelektual di antaranya rasa ingin tahu, keterbukaan terhadap perbedaan, dan keberanian merevisi cara berpikir. Dalam konteks ini, guru bukan figur yang selalu benar, melainkan sosok yang terus bertumbuh bersama peserta didiknya.

Kekakuan mengajar hanya dapat diatasi melalui refleksi yang berkelanjutan. Refleksi bukan sekadar aktivitas formal dalam laporan, namun juga kesadaran profesional untuk menilai secara jujur sejauh mana strategi mengajar benar-benar membantu siswa memahami materi.

Melalui refleksi, guru dapat mengidentifikasi bagian pembelajaran yang kurang menarik, mengenali titik-titik kesulitan yang dialami siswa, serta menentukan perubahan yang perlu dilakukan pada semester 2 agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak. Refleksi tersebut dapat tumbuh dari pengamatan sederhana di kelas, dialog terbuka dengan peserta didik, maupun diskusi sejawat.

Supervisi akademik pun seharusnya diarahkan sebagai ruang belajar bersama, bukan semata-mata penilaian kinerja. Ketika guru merasa aman untuk belajar dan memperbaiki diri, pembelajaran akan bergerak dari sekadar penyampaian materi menuju pengalaman belajar yang mendalam.

Selain itu, guru perlu berani menyederhanakan target demi kualitas. Tidak semua materi harus diselesaikan secara cepat. Sebagian justru perlu digali lebih dalam melalui diskusi kontekstual, proyek, atau studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa. Pembelajaran mendalam tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kedalaman dan kebermaknaan.

Mengajar sebagaimana guru belajar pada akhirnya adalah sikap profesional sekaligus moral. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, namun juga perjalanan intelektual dan kemanusiaan. Guru yang mau belajar akan menciptakan kelas yang hidup, dialogis, dan relevan dengan realitas peserta didik.

Memasuki semester 2, inilah saat yang tepat bagi guru untuk berhenti sejenak, merefleksi, lalu melangkah dengan cara mengajar yang lebih sadar dan bermakna. Sebab, hanya guru yang terus belajar yang mampu menghadirkan pembelajaran mendalam. Dan hanya dari kelas-kelas seperti itulah pendidikan menemukan kembali maknanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.