TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat memastikan influenza H3N2 subclade K, atau yang dikenal masyarakat sebagai super flu, tidak mematikan seperti Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan istilah super flu ini muncul dari masyarakat karena durasi sakit yang tidak biasa dibandingkan flu pada umumnya.
Menurut Vini, super flu memiliki gejala cenderung lebih berat dan bertahan lama, terutama bagi kelompok rentan. Saat ini di Jabar terdapat 10 kasus super flu.
"Kalau flu biasa gejalanya 3-4 hari atau kurang dari seminggu sudah sehat, ini bisa sampai satu bulan. Tentu kalau menyerang kelompok rentan, gejalanya jadi lebih berat," ujar Vini, Senin (12/1/2026).
Secara klinis, kata Vini, gejala influenza H3N2 subclade K menyerupai flu biasa, namun berisiko berkembang menjadi lebih serius.
Baca juga: Satu dari Sepuluh Pasien Bergejala Super Flu di RSHS Bandung Meninggal: Memiliki Komorbid Berat
"Kalau biasanya hanya demam tinggi, batuk, dan pilek, ini tiba-tiba bisa sesak napas sehingga dinamakan super flu," katanya.
Menurutnya, meski gejalanya berat dan berkepanjangan, influenza jenis ini tidak menyebabkan kematian di Jawa Barat.
"Tidak seperti Covid-19 dulu, tidak ada kematian akibat virus ini," ucapnya.
Sementara itu, Ketua tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri mengatakan, terdapat 10 pasien yang mengalami gejala super flu dengan rata-rata usia 20-60 tahun, dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun serta usia 11 tahun.
Adapun satu pasien yang meninggal, diketahui memiliki komorbid atau penyakit bawaan dalam kategori berat, sehingga belum dapat dipastikan apakah orang tersebut meninggal karena super flu atau bukan.
"Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain," ujar dr Yovita Hartantri.
Baca juga: Polda Jabar Siap Tindak Lanjuti Dugaan Ancamam Pembunuhan Terhadap Thom Haye dan Keluarga
Penyakit bawaan pada pasien yang meninggal itu yakni tersebut, stroke dan gagal jantung.
“Terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan, karena memang dia mungkin komorbid yang banyak," ucapnya.
Sedangkan menurut Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, dr Iwan Abdul Rachman, super flu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi influenza musiman seperti biasa.
Hanya saja, super flu berada dalam tingkat penyakit yang lebih berat dan penyebarannya yang lebih cepat. Pihaknya pun memastikan siap memberikan pelayanan pada siapapun pasien yang membutuhkan layanan tersebut.
"Dan bila dirasakan gejala dari flu itu berat, kami persilakan untuk datang ke fasilitas kesehatan khususnya di Rumah Sakit Hasan Sadikin," ujar Iwan. (*)