SRIPOKU.COM, BANYUASIN - Ancaman gagal panen menghantui sedikitnya 15 hektare lahan persawahan padi IP 200 yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, akibat tingginya curah hujan dan serangan hama tikus, Senin (12/1/2026).
Kondisi tanaman yang mulai membusuk karena terendam air tersebut dikhawatirkan membuat alokasi dana desa sebesar Rp172 juta untuk program ketahanan pangan menjadi sia-sia, meski upaya penanggulangan bersama penyuluh pertanian terus dilakukan di lapangan.
"Selain batang padi yang sudah terendam air dan bisa saja membusuk, ada juga gangguan hama tikus. Dua faktor ini, membuat sawah bumdes 15 hektare terancam tidak bisa panen," kata Kades Rantau Bayur Heru Julian Franata ST.
Menurut Heru, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PPL Kecamatan Rantau Bayur untuk mencari solusi agar sawah seluas 15 hektare ini bisa tetap berjalan.
Namun, karena memang faktor alam dan memang puncak musim hujan membuat pihaknya tidak banyak tindakan yang bisa dilakukan.
Bumdes, pekerja dan PPL masih berusaha untuk penanggulangan terhadap hama tikus yang juga menjadi faktor ancaman bagi padi yang sudah tumbuh besar.
"Kami juga berharap, bisa ada solusi dan bantuan dari dinas terkait dan Bupati Banyuasin untuk lahan kami yang saat ini terancan gagal panen," pungkasnya.