TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Komunitas sopir Hilux Manokwari–Bintuni menolak kehadiran Travel Transnusa yang dinilai mengganggu pendapatan sopir lokal.
Penolakan tersebut diwujudkan melalui aksi mogok di kawasan Gunung Botak, Manokwari.
Ketua Komunitas Hilux Manokwari–Bintuni, Nofti Tapilatu, mengatakan aksi mogok merupakan bentuk keresahan atas persaingan usaha yang dianggap tidak sehat.
Menurutnya, jumlah armada Hilux yang cukup banyak sudah membuat sopir kesulitan mencari penumpang, sehingga kehadiran travel memperparah kondisi tersebut.
“Dengan jumlah Hilux yang ada saja, untuk mengisi satu mobil sudah susah. Apalagi sekarang ada Travel Transnusa, bagaimana dengan pendapatan kami ke depan,” ujar Nofti saat ditemui di Pangkalan Hilux Pasar Wosi, Senin (12/1/2025) sore.
Nofti menjelaskan, perbedaan sistem operasional menjadi persoalan utama. Sopir Hilux wajib masuk terminal dan menunggu penumpang sesuai aturan, sementara travel beroperasi di luar terminal dengan sistem panggilan telepon.
“Travel ini tidak masuk terminal seperti kami. Mereka tinggal tunggu telepon, sementara kami menunggu penumpang di terminal. Ini yang jadi masalah,” tegasnya.
Komunitas Hilux telah lama melayani jalur Manokwari–Bintuni. Sebagian sopir bahkan sudah bekerja sejak era kendaraan hartop pada 1996, sebelum beralih ke Hilux pada 2009.
Nofti menambahkan, satu unit travel dapat mengangkut hingga delapan penumpang. Jika dua unit travel beroperasi, potensi penumpang yang seharusnya bisa mengisi empat unit Hilux berkurang drastis.
“Kalau travel muat delapan penumpang per unit, itu berarti kami kehilangan jatah empat mobil. Bagaimana kami tidak tersisih,” ucapnya.
Sebelumnya, sopir Hilux juga menolak keberadaan taksi di kawasan Gunung Botak dengan alasan serupa.
Penolakan terhadap Travel Transnusa, kata Nofti, merupakan sikap tegas komunitas demi mempertahankan mata pencaharian.
Baca juga: Toyota Hilux Terguling ke Jurang Sedalam 120 Meter di Distrik Sururey Pegunungan Arfak
Ia menegaskan, keberadaan Hilux tidak hanya menyangkut sopir, tetapi juga pemilik kendaraan, mekanik, hingga keluarga yang bergantung pada penghasilan dari sektor tersebut.
Banyak sopir masih memiliki tanggungan kredit kendaraan dan biaya pendidikan anak.
“Dari hasil ini kami bisa menyekolahkan anak dan mencukupi kebutuhan keluarga. Kalau ada akses jalur lain yang masuk, kami makin terhimpit,” katanya.
Nofti menekankan, jika tidak ada solusi dari pemerintah, sopir Hilux siap melakukan mogok operasi hingga waktu yang tidak ditentukan.
“Untuk sementara, transportasi Hilux rute Manokwari–Bintuni bisa berhenti sampai ada jawaban dari pemerintah. Kalau tidak ada solusi, kami akan terus mogok,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah lebih berpihak pada pekerja lokal dan mempertimbangkan dampak sosial ekonomi sebelum mengizinkan operasional transportasi baru.
“Kami ingin bersaing, tapi dengan cara yang sehat. Pemerintah harus melihat keberadaan Hilux yang sudah ada selama puluhan tahun, jangan hanya memikirkan usaha baru tanpa memikirkan orang kecil,” tutupnya.