Pada Forum Ruang Publik, Wawali Jayapura Dihujani Aspirasi Renovasi Rumah dan Banjir
January 12, 2026 05:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com,Taniya Sembiring 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Suasana ruang publik Kota Jayapura, Provinsi Papua pada Senin pagi (12/1/2026) berubah menjadi ajang curhat warga.

Dalam forum terbuka yang rutin digelar setiap Senin, Wakil Wali Kota (Wawali) Jayapura, Rustan Saru, menerima langsung 16 warga dari berbagai penjuru kota mulai dari Entrop, Kampung Kayu Batu, Skow, hingga Distrik Abepura.

Topik yang paling banyak disuarakan warga adalah permintaan bantuan renovasi rumah.

Banyak dari mereka mengeluhkan kondisi tempat tinggal yang rusak akibat bencana, kebakaran, atau sudah tidak layak huni.

Baca juga: Live Streaming PSBS Biak vs Bhayangkara FC: Bentrok Memanas, Berebut Tiga Poin di Maguwoharjo

Menanggapi hal ini, Wakil Wali Kota menegaskan bahwa setiap permohonan akan diverifikasi secara ketat.

“Kita akan cek apakah rumah tersebut sudah pernah dibantu atau belum, dan apakah masuk dalam daftar prioritas,” ujarnya kepada wartawan di Jayapura. 

Ia juga menyampaikan program unggulan Pemerintah Kota Jayapura, yakni pembangunan 1.000 unit rumah layak huni dalam lima tahun. “Tahun pertama sudah terealisasi sekitar 250 unit. Tahun depan akan kita lanjutkan lagi,” tambahnya.

Selain perumahan, warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi banjir dan tanah longsor di sejumlah titik rawan. Salah satu lokasi yang disorot adalah di Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, tepatnya kawasan sekitar SMA Negeri 4 Jayapura dan Jalan Thomas Daihatsu yang kerap tergenang saat hujan deras.

Lokasi ini tidak jauh dari Kantor Wali Kota Jayapura, yang juga berada di Jl. Balai Kota, Entrop, Distrik Jayapura Selatan. Jarak tempuh menggunakan mobil atau motor sekitar 8 menit.

Wakil wali kota langsung memerintahkan dinas teknis untuk mengecek lokasi dan melakukan pengerukan saluran air.

“Kita akan jadikan area itu sebagai kolam retensi agar air tidak meluap ke permukiman,” tegasnya.

Baca juga: Sejarah di Bumi Cenderawasih: 300 Jurnalis dari 6 Provinsi Siap Berkumpul di Nabire

Meski pemerintah daerah berkomitmen menindaklanjuti setiap aspirasi, Rustan Saru mengakui adanya keterbatasan anggaran. 

“Kalau diminta 10, belum tentu bisa dikabulkan semua. Kita lihat dulu mana yang paling mendesak dan layak dibantu,” ujarnya.

Forum ruang publik ini menjadi bukti nyata keterbukaan Pemerintah Kota Jayapura terhadap suara warganya.

Dengan pendekatan langsung dan respons cepat, diharapkan setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat dapat ditangani secara tepat dan adil.

Kota Jayapura merupakan Pusat Ibu Kota Provinsi Papua. Kota ini terdiri dari 5 distrik, yang di dalamnya terdapat 25 kelurahan dan 14 kampung. 

Baca juga: Menuju Hari H, Lokasi Festival Media se-Papua di Nabire Capai Kesiapan 95 Persen

Salah satu kota modern di empat provinsi se-Tanah Papua ini, kerap menjadi langganan banjir ketika hujan, terutama di Kawasan Entrop, serta kawasan Pasar Youtefa yang saat itu dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada September 2025.

Sebagai salah satu kota yang sangat maju untuk ukuran Papua, Kota Jayapura juga tidak terhindar dari masalah kemacetan kendaraan.

Kota ini memiliki luas wilayah sekitar 940 km⊃2; dan jumlah penduduk yang terus bertambah, mencapai sekitar 404.350 jiwa pada tahun 2024, menjadikannya kota terpadat di Pulau Papua dengan kepadatan penduduk sekitar 425 jiwa/km⊃2;.

Sebagai pusat pendidikan, pelajar dari 28 kabupaten se-Tanah Papua datang untuk kuliah di sana. Beberapa perguruan tinggi di Jayapura misalnya Uncen, Yapis Papua, USTJ, UOGP, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Al Fatah Jayapura, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI Izak Samuel Kitne, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Silas Papare.

Objek wisata pantai yang terkenal di sini adalah Pantai Base G di Distrik Jayapura Utara, Pantai Hamadi di Distrik Jayapura Selatan dan Pantai Holtekamp di Distrik Muara Tami.

Baca juga: Perdamaian Perang 3 Bulan Akibat Perselingkuhan di Kwamki Narama Dilakukan, Aparat Cegah Provokator

Pantai Hamadi dan Pantai Holtekamp dihubungkan oleh Jembatan Merah dengan bentangan panjang total jembatan, sekitar 732 meter dan lebar 21 meter. Jembatan merah merupakan ikon baru di Tanah Papua yang sering dikunjungi masyarakat untuk mengabadikan pemandangan dari atas Teluk Youtefa. 

Youtefa merupakan Bahasa Suku Nafri di Kota Jayapura, yang berarti pergi ke kampung.

Suku asli Kota Jayapura antara lain Tobati Enggros, Kayu Pulau (Kayo Pulau), Kayu Batu (Kayo Batu), Nafri, Skouw. Namun kini berbagai suku dari seluruh Indonesia telah tinggal di Kota Jayapura.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.