WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Banjir yang kembali merendam sejumlah ruas jalan di Ibu Kota tak hanya melumpuhkan lalu lintas, tetapi juga memotong penghasilan pekerja kecil yang hidup dari ketepatan waktu.
Di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, genangan air membuat roda ekonomi tersendat, bahkan sebelum sampai ke tempat tujuan.
Dampak itu dirasakan langsung Aris, sopir pengantar batu es.
Baca juga: Kena Banjir, Warga Kembangan Tuntut Pemkot Jakbar Buatkan Turap
Perjalanan rutin yang biasanya dapat ditempuh dengan lancar berubah menjadi ujian panjang ketika banjir memaksa kendaraan berhenti hampir satu jam di tengah kemacetan.
Di dalam box kendaraan, puluhan kilogram batu es yang seharusnya sampai dalam kondisi utuh perlahan mencair.
“Sekitar 20 kilogram es batu mencair,” kata Aris lirih, menggambarkan kerugian yang tak bisa ia hindari.
Bagi Aris, banjir bukan hanya soal waktu yang terbuang, melainkan konsekuensi langsung pada pendapatan.
Es batu yang rusak akibat keterlambatan pengiriman dihitung sebagai kerugian pribadi dan berujung pada pemotongan gaji.
Setiap kantong es yang mencair dihargai Rp17.000—angka yang terkesan kecil, namun signifikan bagi penghasilan harian seorang sopir distribusi.
“Iya, gaji dipotong,” ujarnya singkat.
Kerugian tersebut menambah daftar panjang dampak ekonomi banjir yang kerap luput dari perhatian, terutama bagi pekerja lapangan yang tidak memiliki jaring pengaman ketika cuaca ekstrem melanda.
Aris mengaku tidak memiliki pilihan selain menunggu air surut.
Dalam kondisi jalan terendam, upaya memutar arah justru berisiko memperpanjang waktu tempuh dan memperparah kerusakan muatan.
Baginya, banjir menghadirkan ketidakpastian kerja.
Dengan bekerja penuh risiko, ia menanggung kerugian sendiri saat situasi di luar kendali.
Baca juga: Banjir di Jalan Gunung Sahari Jakpus, Banyak Kendaraan Mogok hingga Antrean Panjang Bus TransJakarta
“Kalau banjir begini, kami cuma bisa berharap cepat surut,” katanya.
Aris berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat menangani persoalan banjir secara lebih cepat dan efektif.
Menurutnya, dampak banjir tidak berhenti pada kemacetan, tetapi merembet ke dapur para pekerja kecil yang bergantung pada kelancaran distribusi.
“Bukan cuma pengguna jalan yang rugi. Kami yang kerja di lapangan juga kena dampaknya langsung,” ujarnya.
--Banjir yang melanda sejumlah ruas jalan di Jakarta bukan hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga membawa dampak nyata bagi para pekerja kecil.
Salah satunya dirasakan Aris, sopir pengantar batu es, yang harus menelan kerugian akibat terjebak macet berjam-jam di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.
Saat hendak mengantar batu es ke sebuah rumah makan, Aris tak menyangka perjalanan yang biasanya lancar berubah menjadi mimpi buruk.
Genangan banjir membuat akses jalan lumpuh hampir satu jam, memaksanya berhenti di tengah kemacetan tanpa bisa berbuat banyak. Di dalam box kendaraan, puluhan kilogram batu es perlahan mencair.
“Sekitar 20 kilogram es batu mencair,” ujar Aris dengan nada pasrah.
Akibatnya, ia harus menanggung kerugian karena es yang rusak tersebut dihitung sebagai potongan gaji.
Setiap kantong es batu yang mencair dihargai Rp17.000, jumlah yang cukup berarti bagi penghasilannya sehari-hari.
“Iya, gaji dipotong,” katanya singkat.
Bagi Aris, kejadian ini bukan sekadar soal uang, tetapi juga ketidakpastian kerja saat cuaca ekstrem melanda.
Ia mengaku hanya bisa berharap banjir segera surut agar aktivitas pengantaran kembali normal dan kerugian serupa tidak terulang.
Aris pun berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat segera menangani persoalan banjir secara lebih cepat dan efektif.
Menurutnya, banjir yang berkepanjangan bukan hanya merugikan pengguna jalan, tetapi juga para pekerja lapangan yang bergantung pada waktu dan kondisi cuaca untuk mencari nafkah.(m27)
Caption: Banjir yang melanda sejumlah ruas jalan di Jakarta bukan hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga membawa dampak nyata bagi para pekerja kecil.
Salah satunya dirasakan Aris, sopir pengantar batu es, yang harus menelan kerugian akibat terjebak macet berjam-jam di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.(Foto: Yolanda Putri Dewanti)