Klarifikasi Kasus Puskesmas Tolak Antar Pasien di Banyumas Pakai Ambulans ke RS: Tidak Sesuai SOP
January 12, 2026 06:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Unggahan kisah seorang pasien sakit jantung, bernama Khotimah (42) yang meninggal setelah diduga tidak mendapatkan bantuan ambulans dari puskesmas setempat menjadi viral di media sosial.

Terkait hal itu, Kepala Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Robi membeberkan fakta dan hasil mediasi pihak keluarga pasien, Puskesmas Pekuncen 1, pemerintah desa, serta pengunggah konten.
 
Mediasi tersebut digelar pada Senin (12/1/2026) dan dihadiri Camat Pekuncen, Kepala Puskesmas Pekuncen 1, dokter, bidan atau perawat yang saat kejadian sedang piket, serta perwakilan pemerintah desa.

Baca juga: Viral Pasien Jantung di Banyumas Meninggal, Keluarga Minta Bantuan Ambulans Ditolak Puskesmas

• Kisah Bocah 19 Tahun di Semarang Terpaksa Jadi Ayah: Nikah Terlalu Dini Karena Istri Hamil

• Viral Aspal Jalan Lembek di Karangturi Purbalingga, Ini Kesaksian Robi Perekam Video

Robi menjelaskan, dalam pertemuan tersebut pihak Puskesmas Pekuncen 1 memberikan klarifikasi terkait prosedur atau SOP yang dijalankan saat menangani pasien.

Menurut penjelasan pihak puskesmas, memang benar ada seorang pasien perempuan yang datang ke puskesmas dalam kondisi sepintas terlihat kritis.

Pasien tersebut datang berboncengan menggunakan sepeda motor dengan keponakannya.

"Sepintas memang kritis dan ternyata pasien itu menderita sakit jantung, darah tinggi, serta satu penyakit lain."

"Jadi ada tiga penyakit komplikasi," ujar Robi, Senin (12/1/2026). 

Berdasarkan riwayat medis, Khotimah merupakan pasien yang pernah ditangani Puskesmas Pekuncen 1. 

Dia memiliki riwayat penyakit jantung dan telah menjalani pemasangan ring jantung sebanyak dua kali di Semarang. 

Selain jantung, dia juga menderita tekanan darah tinggi dan satu penyakit lain yang memperberat kondisinya.

Saat tiba di puskesmas, pihak tenaga medis menyampaikan sesuai SOP.

Pasien harus terlebih dahulu dilakukan tindakan stabilisasi agar kondisinya lebih stabil sebelum dirujuk ke RSUD Ajibarang. 

Salah satu tindakan awal yang direncanakan adalah pemasangan infus sebagai pertolongan pertama.

Namun menurut versi pihak puskesmas, keluarga pasien dalam kondisi panik dan tidak sabar sehingga menolak tindakan infus tersebut. 

Padahal, infus dinilai penting sebagai langkah awal stabilisasi sebelum rujukan dilakukan.

"Dari pihak puskesmas, setelah dilakukan pertolongan pertama dan kondisi pasien stabil, baru kemudian akan dikomunikasikan rujukan ke RSUD Ajibarang, termasuk menyiapkan ambulans dan seluruh fasilitasnya," jelas Robi.

Karena keluarga pasien bersikeras ingin segera membawa pasien tanpa menunggu prosedur stabilisasi, akhirnya pasien dibawa pergi menggunakan motor sebelum dilakukan tindakan medis sesuai SOP.

Dalam perjalanannya, kondisi pasien semakin memburuk. 

Pasien sempat menghentikan mobil di jalan dan akhirnya meninggal di tengah perjalanan.

Robi menegaskan, dari sudut pandang puskesmas, SOP harus tetap dijalankan. 

Pihak puskesmas tidak bersedia langsung membawa pasien menggunakan ambulans tanpa prosedur medis yang benar.

Karena, apabila terjadi sesuatu di jalan, sementara SOP dilanggar, pihak puskesmas tetap akan dimintai pertanggungjawabannya, karena menggunakan fasilitas resmi milik puskesmas.

"Kalau SOP dilanggar tapi fasilitas yang dipakai ambulans puskesmas, justru puskesmas yang kena." 

"Itu yang menjadi pertimbangan mereka," ungkapnya.

Terkait isu yang beredar di media sosial bahwa ambulans tidak bisa digunakan karena tidak ada sopir, Robi memastikan informasi tersebut tidak benar. 

Dia menegaskan ambulans dalam kondisi siap, termasuk sopir dan kelengkapan lainnya.

"Ambulans standby, sopirnya ada, semua siap. Bukan karena tidak ada sopir," tegas Robi.

PASIEN JANTUNG - Pemakaman Khotimah warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Sabtu (10/1/2026). Akun Facebook Masrukhin_Syam mengungkap kisah Khotimah pasien sakit jantung yang meninggal setelah diduga tidak mendapatkan bantuan ambulans dari puskesmas setempat.
PASIEN JANTUNG - Pemakaman Khotimah warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Sabtu (10/1/2026). Akun Facebook Masrukhin_Syam mengungkap kisah Khotimah pasien sakit jantung yang meninggal setelah diduga tidak mendapatkan bantuan ambulans dari puskesmas setempat. (Istimewa/FACEBOOK Masrukhin_Syam)

Baca juga: Bocah-Bocah SSB Venus Banyumas Berebut Bola dengan El Loco Gonzales di Bawah Terik Matahari

• Kronologi Maria Tewas Terlindas, Terjatuh saat Motor Terserempet Truk Fuso di Ungaran

Pengunggah Video Minta Maaf

Dia menyebutkan, ketidaksabaran dan kepanikan keluarga pasien menjadi faktor utama sehingga prosedur medis tidak dijalankan hingga tuntas.

Dalam mediasi tersebut, pengunggah konten Facebook bernama Masrikun juga memberikan klarifikasi. 

Dia mengakui unggahan yang dibuatnya belum melalui konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak terkait.

"Yang bersangkutan minta maaf karena mengunggah tanpa konfirmasi." 

Dia juga tidak menyaksikan langsung kejadian itu, bukan pelaku dan bukan keluarga pasien," kata Robi.

Masrikun berkomitmen melakukan klarifikasi di akun Facebook setelah mendapatkan penjelasan utuh terkait SOP dan prosedur medis yang berlaku. 

Dia juga menyanggupi untuk memperbaiki unggahannya.

Selain itu, pengunggah media sosial tersebut meminta agar pihak puskesmas ke depan lebih aktif mensosialisasikan SOP dan prosedur kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang.

Dari hasil mediasi, pihak kecamatan turut memberikan solusi agar ke depan ada terobosan dalam penanganan kasus-kasus darurat. 

Salah satu usulan dari Camat Pekuncen adalah pembuatan konsep perjanjian atau surat pernyataan dari pasien atau keluarga pasien.

"Kalau pasien minta segera dirujuk tanpa melalui prosedur stabilisasi, bisa dibuatkan pernyataan bahwa itu permintaan sendiri dan tidak akan menuntut apabila terjadi sesuatu di jalan," jelas Robi.

Untuk evaluasi ke depan pihak desa mengatakan akan ada pengadaan ambulans desa pada April 2026 karena sudah disepakati bersama. 

Menurutnya, solusi tersebut dinilai cukup baik agar tidak terjadi saling menyalahkan antara tenaga medis dan keluarga pasien. 

Di satu sisi, puskesmas tetap terlindungi karena menjalankan SOP, sementara di sisi lain keinginan pasien juga bisa difasilitasi dengan kesepakatan tertulis.

Robi menambahkan, pihak Puskesmas Pekuncen 1 juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal terhadap pelayanan yang diberikan. 

Sementara itu, pengunggah media sosial juga berkomitmen untuk lebih berhati-hati dan melakukan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi ke publik.

"Itu sementara yang bisa kami sampaikan. Prinsipnya semua pihak sudah saling memahami, mengevaluasi, dan sepakat agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," pungkasnya.

Pengunggah, Masrukhin Syam menyampaikan permohonan maaf dan koreksi. 

Dari hasil pertemuan atau mediasi ada beberapa hal yang disampaikan. 

"Kalimat yang menjurus pada tudingan 'petugas sing ora nduwe rasa kemanusiaan' disadari muncul karena kondisi emosional," ucap Masrukhin. 

Dia memberikan pandangan arah pembahasan kini lebih difokuskan pada perlunya perbaikan SOP di Puskesmas Pekuncen 1.

Puskesmas Pekuncen 1 juga telah berkomitmen lebih giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait SOP penggunaan mobil ambulans.

"Akan diusulkan kepada Dinkes KB Kabupaten Banyumas terkait penyederhanaan SOP penggunaan mobil ambulans, agar pelayanan kepada masyarakat dapat lebih maksimal," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.