Penyakit Mata Kering Intai Pekerja Digital, Kasus di Sumsel Terus Meningkat
January 12, 2026 09:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sekitar pukul 16.00 WIB, suasana ruang redaksi Tribun Sumsel di Palembang tampak riuh rendah namun fokus.

Di salah satu sudut ruangan, Adia Saputro duduk terpaku di depan monitor.

Waktu bergerak pelan menuju magrib, tetapi tatapan Adia nyaris tak beranjak dari layar. Kelopak matanya berkedip pelan, kadang tertahan, seperti menanggung beban yang tak kasat mata.

“Jam kerja tubuh bisa diatur. Tapi jam kerja mata, rasanya tidak pernah berhenti,” tutur pria yang menjabat sebagai Koordinator Liputan ini, Rabu (7/1/2026).

“Setelah salat magrib, saya mulai memikirkan ide liputan dan merancang TOR (Terms of Reference) untuk kebutuhan liputan besok. Penggalian ide bisa sampai pukul sembilan malam, bahkan lebih,” katanya.

Malam hari tak serta-merta menjadi penanda berakhirnya paparan layar.

Di rumah, Adia masih menatap handphone, memastikan print juga siap dicetak.

“Biasanya editor (print) share di grup WhatsApp (WA), saya mantau di situ. Kalau semuanya sudah oke, baru lanjut tidur atau aktivitas lain," katanya.

Rutinitas ini berulang setiap hari. Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik, layar kembali menjadi teman pertama.

Usai Subuh dan mengantar anak ke sekolah, Adia membuka ponselnya. Ia mengirimkan proyeksi liputan, memberikan instruksi, menyaring isu, memantau media sosial, lalu kembali ke komputer saat tiba di kantor.

“Kadang saya baru sadar mata benar-benar beristirahat hanya dalam jeda pendek yang tidak direncanakan,” katanya, tersenyum masam.

Sebagai pekerja media, Adia menyadari risiko terbesar pekerjaannya bukan hanya tekanan deadline, melainkan paparan layar digital berjam-jam.

Ia mencoba mengantisipasi dengan mengatur pencahayaan monitor, menurunkan brightness, memakai kacamata antiradiasi—meski tak begitu yakin seberapa banyak manfaatnya. Namun belakangan, tubuh memberi alarm.

“Sering refleks mengucek mata. Terasa perih. Dan kalau menatap objek lain setelah lama menatap layar, pandangan sempat blur,” katanya.

Menurut Dokter Spesialis Mata, dr. Eva Kumalasari, Sp.M, apa yang dialami Adia merupakan gejala mata kering (dry eye), dimana lapisan air mata tidak mampu memberikan pelumasan yang cukup untuk permukaan mata sehingga menimbulkan dampak berantai, mulai dari gangguan kenyamanan hingga kerusakan permanen pada indra penglihatan.

Eva menjelaskan, di era ketika hampir semua aktivitas berlangsung di layar—belanja, bekerja, belajar, berkomunikasi—mata kering menjadi ancaman nyata.

Bukan hanya untuk pekerja media, tetapi juga untuk anak sekolah, pegawai kantor, pedagang online, hingga orang tua yang gemar menonton video dari ponsel. 

"Kalau keluhan mata diabaikan, dampaknya tidak sekadar perih atau sepet, bisa berisiko pada kualitas penglihatan jangka panjang," kata Eva yang juga menjabat Divisi Refraksi Rumah Sakit Khusus Mata Masyarakat (RSKMM) "Binar", Prov. Sumsel, Kamis (8/1/2026).

Kasus Mata Kering Meningkat

Menurut Eva, data (RSKMM) Binar, menunjukkan peningkatan signifikan kasus mata kering (dry eye) di Sumsel. Pada 2024 tercatat 410 pasien. Tahun 2025, jumlah itu melonjak menjadi 699 pasien atau naik sekitar 70 persen.

Meski demikian, penyakit paling dominan di rumah sakit tersebut masih katarak. Jenis senile incipient cataract menempati urutan pertama dengan 4.670 pasien pada tahun 2025.

Menyusul gangguan refraksi seperti mata silinder, rabun jauh, dan rabun dekat, yang totalnya mencapai ribuan kasus. Sedangkan peningkatan penggunaan gawai dicurigai memperburuk kondisi refraksi, meski penanganan tetap disesuaikan dengan keluhan masing-masing pasien.

Eva menekankan pentingnya menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter.

Penyakit Mata Kering Intai Pekerja Digital, Kasus di Sumsel Terus Meningkat
Ringkasan Data Penyakit Mata RS Mata Prov Sumsel

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatra Selatan (Sumsel) membenarkan kecenderungan peningkatan keluhan kesehatan mata setiap tahun. Sayangnya, belum tersedia angka detail terbaru karena aplikasi pencatatan sedang maintenance.

Namun menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, keluhan terbanyak ditemukan pada remaja dan usia produktif, terutama gangguan refraksi.

Penggunaan gawai, kata Ira, memang berperan besar, meski bukan satu-satunya penyebab.

“Gawai bisa menyebabkan mata lelah, mata kering, sakit kepala, hingga pandangan kabur. Tapi faktor pencahayaan, jarak baca yang terlalu dekat, dan kurang istirahat juga memengaruhi,” ujarnya.

Di lain tempat, dr. Karyusi, Sp.M, dari RS Bunda Palembang, menyebutkan, penyebab mata kering bisa berasal dari gangguan film air mata. Baik karena produksi air mata yang menurun, kondisi autoimun, efek obat, usia, maupun penguapan air mata berlebihan. Namun di era digital, penyebab terbanyak adalah paparan layar.

Ia menjelaskan, mata kering memiliki gejala khas, yaitu mata kering dan perih, mata cepat lelah, pandangan kabur sementara, sakit kepala, sulit fokus, dan sensasi berat di sekitar mata.

Mekanismenya sederhana namun mematikan pelan-pelan: frekuensi berkedip turun drastis saat menatap layar, dari normal 15–20 kali per menit menjadi hanya 5–7 kali per menit.
“Berkurangnya kedipan membuat permukaan mata tidak terlumasi dengan baik sehingga memicu kekeringan,” ujar Karyusi.

Upaya Mencari Solusi

Untuk mengetahui solusi praktis yang tersedia di masyarakat, Tribunsumsel.com mendatangi beberapa apotek di Palembang.

Salah satunya Apotek K24 di Perum Bukit Sejahtera Blok BA 05, Jl. Raya Bukit Sejahtera, Karangjaya, Gandus, Palembang.

Ketika ditanyakan mengenai obat tetes untuk keluhan mata perih dan kering, petugas langsung menawarkan beberapa produk, salah satunya INSTO Dry Eyes, obat tetes mata dari Combiphar yang diproduksi PT Pharma Health Care.

Pada kemasan tertulis bahwa INSTO Dry Eyes berfungsi sebagai pelumas mata, membantu mengatasi mata sepet, perih, dan lelah atau dapat disingkat SePeLe akibat kekeringan.

Menurut petugas, INSTO memiliki tiga varian: INSTO Regular – meredakan iritasi ringan akibat debu, asap, angin, atau setelah berenang,

INSTO Dry Eyes – memberikan efek pelumas layaknya air mata, cocok untuk mata kering sedangkan INSTO Cool – meredakan iritasi sambil memberikan sensasi segar.

Menurut dr. Karyusi, penggunaan artificial tears atau obat tetas mata diperbolehkan jika mata kering tergolong ringan hingga sedang, termasuk karena paparan layar lama. Namun untuk kategori berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

“Kalau mata terasa perih minimal ketika lama menatap Hp, penggunaan air mata buatan sudah tepat. Tidak ada efek samping jika digunakan sesuai anjuran. Tapi akan lebih baik berkonsultasi ke dokter,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.